webtextsmoviesaudiosoftwareimagelogo
Toggle navigation
Search the Archive
Full text of "Ebook Ilmu Sharaf Untuk Pemula Cetakan 2 Rev 02"
Abu Razin & Ummu Razin ILMU NAHWU Untuk Pemula Judul Penulis Muraja'ah Isi Editor Desain Sampul Jumlah Halaman Bidang Ilmu Ilmu Nahwu Untuk Pemula Abu Razin & Ummu Razin Muthmainnah Jawas, Lc Ridwan Setiawan Putera Kahfi : 222 Halaman + x : Ilmu Bahasa Arab Ilmu Nahwu Untuk Pemula, Pustaka BISA Cetakan I Oktober 2014. Belajar Islam dan Bahasa Arab www.programbisa.com I Diperbolehkan bahkan dianjurkan memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun dengan atau tanpa izin penerbit selama bukan untuk tujuan komersil. Mohon koreksi jika ditemukan kesalahan dalam karya kami. Koreksi dan saran atas karya kami dapat dilayangkan ke programbisa@gmail.com KATA PENGANTAR ^li 4JJl o-^J UJUfri OUL-jj ,LUfcijl JjJ^ ^v? aJ j^jjj oJu£- IJui 5i J^AlJ ^Lr^ *^ «-^>-J Puji syukur Kami panjatkan untuk pemilik ilmu tiada banding, Allah subhanahu wata'ala yang telah memberikan nikmat karunia dan kemudahan dari-Nya sehinga Kami dapat menyelesaikan buku kedua Kami di bidang ilmu bahasa Arab, yang Kami beri judul "Ilmu Nahwu Untuk Pemula". Sesuai dengan judulnya, buku ini memang dirancang khusus untuk pemula. Kami telah berupaya sedemikian rupa sehingga materi yang Kami sajikan dalam buku ini telah disesuaikan untuk tingkat pemahaman orang yang belum pernah belajar ilmu nahwu sama sekali. Oleh karena itu, ada beberapa lingkup materi ilmu nahwu yang Kami batasi atau Kami abaikan dalam buku ini agar para pemula bisa fokus memahami struktur kalimat bahasa Arab dengan baik terlebih dahulu. Alih-alih menghafal banyak istilah baru yang kurang penting untuk pemula. Rujukan utama dalam penyusunan buku ini adalah sebuah kitab yang sangat populer di kalangan pembelajar ilmu nahwu, yaitu Kitab Matan Al Ajurrumiyyah yang dikarang oleh Ash Shanhajiy. Standar pembahasan, acuan, ruang lingkup materi ilmu nahwu dalam buku ini mengacu pada kitab tersebut. Ini sengaja Kami lakukan dengan harapan agar dengan mempelajari buku ini, para pembaca secara tidak langsung juga telah mempelajari isi penting dari kitab Matan Al Ajurrumiyyah. Tentunya, dengan pendekatan yang telah disesuaikan untuk tingkatan pemula. Untuk mencapai tujuan itu, ada beberapa upaya yang Kami lakukan, antara lain: 1. Memberikan rumus-rumus sakti untuk memudahkan pembaca dalam menghafal kaidah-kaidah penting ilmu nahwu 2. Membuat susunan bab-bab secara bertingkat mulai dari pengenalan kata, pengenalan kalimat sederhana, kalimat dengan keterangan tambahan, dan terakhir baru dibahas variasi kalimat dalam bahasa Arab. 3. Memberikan contoh-contoh yang variatif dan beberapa contoh dari Al Qur'an dan hadits. 4. Memberikan penjelasan dengan pendekatan tata bahasa Indonesia dalam memahami struktur kalimat bahasa Arab Itulah beberapa upaya yang telah Kami lakukan. Adapun hasilnya, Kami serahkan kepada Sang pemiliki ilmu tiada banding, Allah 'azza wajalla. Sungguh, Kami menyadari bahwa buku ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, Kami membuka diri untuk menerima saran dan masukan demi perbaikan buku ini ke depannya. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh mahasantri Program BISA yang selalu mendorong Kami agar segera menyelesaikan buku ini. Juga kepada seluruh tim Program BISA (musyrif/ah, muraqib/ah, dan mudarris/ah) yang dengan kerelaannya telah membantu terselenggaranya kegiatan belajar mengajar di Program BISA yang telah diikuti oleh ribuan mahasantri dalam dan luar negeri. Semoga upaya Kita terhitung sebagai ilmu yang bermanfaat. Semoga cita-cita Kita untuk mewujudkan #IndonesiaMelekBahasaArab segera tercapai. Jaahid! Kami berharap semoga buku ini bisa bermanfaat untuk kaum muslimin. Semoga Allah menerima setiap amal perbuatan Kita. Diselesaikan pada malam Jumat, 15 Dzulhijjah 1435 H Bertepatan dengan Kamis, 9 Oktober 2014. Abu & Ummu Razin www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA DAFTAR ISI KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI vii BABI PENGANTAR ILMU NAHWU 1 1.1 Pengantar Ilmu Nahwu 1 Apa Perbedaan Ilmu Sharaf dan Ilmu Nahwu? 3 Apa Pentingnya Belajar Ilmu Nahwu? 3 1.2 Mengenal Unsur Penyusun Kalimat 6 1.3 Mengenal Fi'il 8 1.3.1 Fi'il Berdasarkan Kebutuhan Terhadap Obyek (Fi'il Lazim dan Fi'il Muta'addiy) 13 1.3.2 Fi'il Aktif dan Pasif (Fi'il Ma'lum dan Fi'il Majhul) 14 1.3.3 Fi'il Berdasarkan Huruf Penyusun (Fi'il Shahih dan Fi'il Mu'tal) 17 1.4 Mengenal Isim 20 1.4.1 Isim Berdasarkan Jumlah (Mufrad, Tatsniyah, Jamak) 22 1.4.2 Isim Berdasarkan Jenis (Isim Mudzakkar dan Isim Muannats) 27 1.4.3 Isim Ditinjau dari Keumuman dan Kekhususan (Isim Ma'rifah dan Isim Nakirah) 29 1.4.4 Isim Ditinjau dari Keberterimaan Tanwin (Isim Munsharif dan Isim Ghairu Munsharif) 35 1.4.5 Isim Ditinjau dari Perubahan Akhir Kata (Mu'rab dan Mabniy) 40 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in vii ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 1.4.5.1 Berubah (Mu'rab) 40 1.4.5.2 Tetap (Mabniy) 42 1.5 Mengenal Huruf 44 1.6.1 Huruf Jar 44 BAB II KALIMAT INTI 48 2.1 Jumlah Fi'liyyah 50 KAIDAH UMUM 51 2.1.1 Pola Kalimat Fi'il Lazim 51 A. Fi'il Madhi 53 B. Fi'il Mudhari' 66 C. Fi'il Amar 74 2.1.2 Pola Kalimat Fi'il Muta'addiy 75 A. Fi'il Madhi 79 B. Fi'il Mudhari' 89 C. Fi'il Amar 99 2.2 Jumlah Ismiyyah 101 KAIDAH PENYUSUNAN JUMLAH ISMIYYAH 103 2.2.1 Mufrad 107 2.2.2 Tatsniyah 109 2.2.3 Jamak Salim 110 2.2.4 Jamak Taksir 111 TANBIH (PERHATIAN) 116 BAB III KETERANGAN TAMBAHAN DALAM KALIMAT 118 3.1 Keterangan Majrur 120 3.1.1 Jar -Majrur 120 3.1.2 Keterangan Kepemilikan dan Peruntukan (Mudhaf- Mudhafllaih) 123 viii Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 3.2 Tawaabi' 128 3.2.1 Keterangan Sifat (Na'at) 128 3.2.2 Kata Sambung (Athaf dan ma'thuf) 132 3.2.3 Keterangan Pengganti (Badai) 135 3.2.4 Keterangan Penguat (Taukid) 138 3.3 Keterangan Manshub 141 3.3.1 Keterangan Penguat (Mashdar) 141 3.3.2 Keterangan Waktu dan Tempat (Dzharaf Zaman dan Dzharaf Makan) 143 3.3.3 Keterangan Kondisi (Haal) 150 3.3.4 Keterangan Dzat (Tamyiz) 154 3.3.5 Keterangan Tujuan (Maf'ul Min Ajlih) 157 3.3.6 Keterangan Penyertaan (Maf'ul Ma'ah) 160 BAB IV VARIASI KALIMAT 161 4.1 Jumlah Ismiyyah dengan Khabar Majemuk 161 4.2 Pengembangan Jumlah Ismiyyah (An Nawaasikh) 166 4.2.1 5^ dan yang semisalnya (l^JVp^ 5^) 168 4.2.2 j\ dan yang semisalnya (i£\^»-\j j\) 171 4.2.3 "{ya dan yang semisalnya (l^jlp-l J "^o) 173 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in ix ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 4.3 Kalimat Negatif Jumlah Ismiyyah dengan Laa Naafiyah (S) 179 4.4 Pengecualian (Istitsna) 183 4.5 Kalimat Panggilan (Munada) 188 4.6 Kalimat Pasif 191 4.7 Jumlah Fi'liyyah Manshub 195 4.5 Jumlah Fi'liyyah Majzum 200 BAB V MU'RAB DAN MABNIY 206 5.1 Mabniy 206 5.1.1 Fi'il yang Mabniy 207 5.1.2 Isim yang Mabniy 208 5.1.2 Semua Huruf Itu Mabniy 208 5.2 Mu'rab 209 5.2.1 Marfu' 214 5.2.2 Manshub 216 5.2.3 Majrur 220 5.2.4 Majzum 221 REFERENSI 223 PROFIL PENULIS 224 X Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA BAB I PENGANTAR ILMU NAHWU 1.1 Pengantar Ilmu Nahwu Pernahkah kita berpikir kenapa ada beberapa kata yang sama dalam Al Qur'an tetapi memiliki harakat yang berbeda- beda. Kadang berharakat dhammah, fathah atau kasrah meskipun untuk kata yang sama. Contohnya lafal Allah. Dalam basmalah, lafal Allah berharakat kasrah: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (Al Fatihah: 1) Dalam ayat kursi, lafal Allah berharakat dhammah: "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk- nya). " (Al Baqarah: 255) Dalam ayat lain, lafal Allah berharakat fathah: Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 1 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. " (Al Baqarah: 153) Perubahan harakat di atas tidaklah sembarangan. Ada kaidah yang mengatur tentang perubahan harakat kata-kata tersebut. Kesalahan dalam memberi harakat bisa mengubah pelaku jadi korban dan sebaliknya. Sebagai contoh kalimat: Artinya adalah "Zaid telah Memukul Bakr", akan tetapi bila seperti ini: Artinya menjadi "Bakr telah memukul Zaid". Oleh karena itu, mempelajari kaidah seputar pemberian harakat ini begitu penting. Kaidah ini dibahas dalam ilmu nahwu. Karena, memang ilmu nahwu adalah salah satu cabang dari ilmu Bahasa Arab yang membahas tentang bagaimana menyusun kalimat yang sesuai dengan kaidah Bahasa Arab, baik yang berkaitan dengan letak kata dalam suatu kalimat atau kondisi kata (harakat akhir dan bentuk) dalam suatu kalimat. Selain ilmu nahwu, ilmu penting yang wajib dipelajari untuk pemula adalah ilmu sharaf. Kedua cabang ilmu ini wajib dipelajari oleh para pemula. Karena, dengan kedua ilmu ini, kita dapat mengetahui dan memahami bagaimana cara membuat kalimat yang sesuai dengan kaidah Bahasa 2 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Arab resmi. Adapun bila kita ingin membuat kalimat Bahasa Arab yang indah, baik dari sisi susunan, pemilihan kata, dan maknanya, atau tinggi nilai sastranya, maka kita perlu mempelajari cabang Bahasa Arab seperti ilmu balaghah (keindahan bahasa), ilmu ma'ani (memahami teks sesuai konteks), dan ilmu 'arudh (syair bahasa arab). Apa Perbedaan Ilmu Sharaf dan Ilmu Nahwu? Fokus pembahasan ilmu sharaf adalah pada perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk yang lain yang dikenal dengan istilah tashrif. Dengan ilmu sharaf, kita bisa mengetahui kata yang sesuai untuk digunakan dalam kalimat. Sedangkan ilmu nahwu fokus pada bagaimana kita merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang sempurna, baik dari sisi susunan kata tersebut atau perubahan akhir setiap kata dalam kalimat yang dikenal dengan istilah i'rab. Apa Pentingnya Belajar Ilmu Nahwu? Ilmu nahwu adalah ilmu yang wajib dikuasai untuk bisa memahami kaidah penyusunan kalimat dalam Bahasa Arab. Bahasa Arab memiliki pola kalimat yang berbeda dengan Bahasa Indonesia. Karena, ia tidak hanya berbicara tentang susunan kata dalam suatu kalimat, tetapi juga berbicara keadaan huruf terakhir dari suatu kata yang ada pada kalimat. Bila keadaan huruf terakhir suatu kata berbeda, maka berbeda pula maknanya sebagaimana contoh-contoh yang telah kami sebutkan. Sebagai seorang muslim, mempelajari Bahasa Arab sudah merupakan suatu keharusan. Bagaimana kita bisa A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 3 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com memahami isi kandungan Al Qur'an, bila kita tidak memahami bahasanya? Bagaimana kita bisa menyelami lautan hikmah dalam hadits-hadits Rasulullah bila Bahasa Arab saja kita tidak mengerti? Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: v^S^UjO ^ b^J> &J>\ \j>[ "Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. " (Yusuf: 2) juga firman Nya: "Dengan Bahasa Arab yang jelas." (Asy Syu'araa: 195) Allah subhanahu wa ta'ala juga berfirman: (^A : j^j^) by^ firtr^u g^^i ^t/ "(ialah) Al Quran dalam Bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa" (Az Zumar: 28) Umar Bin Khattab Z berkata: "Pelajarilah Bahasa Arab, karena Bahasa Arab adalah bagian dari agama kalian" Al Imam Asy Syafi'i berkata: 4 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA jijiki $ jl j asaI _pcJi <y> "Orang yang memahami ilmu nahwu, maka ia akan dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu (islam)" 1 Oleh karena itu, marilah kita berdoa kepada Allah, agar kita dimudahkan dalam mempelajari Bahasa Arab agar kita bisa memahami agama kita dengan baik. Lihat At Ta'liqat Al Jaliyyah 'Ala Syarhil Muqaddimah Al Ajrumiyyah oleh Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin Hal. 35 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 1.2 Mengenal Unsur Penyusun Kalimat Seperti yang kita ketahui, kalimat adalah susunan dari beberapa kata yang memiliki makna. Dalam Bahasa Indonesia, kita mengenal istilah kata kerja, kata benda, kata sifat, kata sambung, kata hubung, kata tanya, dan sebagainya. Begitupun dengan Bahasa Arab, memiliki banyak istilah kata yang kurang lebih sama dengan Bahasa Indonesia. Hanya saja, dalam Bahasa Arab, seluruh kata yang ada bisa dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar, yaitu fi 'U (kata kerja), isim (kata benda, kata sifat 2 ), dan huruf (kata sambung, kata hubung 3 ). Perhatikan contoh kalimat berikut ini: (Zaid telah pergi ke sekolah) Kalimat di atas memiliki tiga unsur penyusun: 1. Fi'il (kata kerja) 2. Isim (kata benda) 3. Huruf Arab yang memiliki makna Untuk contoh kalimat di atas, "CSh" adalah kata kerja (fi'il) , "llj'dan "aI^IUI" adalah kata benda (isim) berupa nama orang dan nama tempat, dan "J)" (ke) adalah huruf. Hanya ketiga unsur ini yang ada pada kalimat Bahasa Arab meskipun setiap unsur ini memiliki jenis dan pembagian 2 Hanya pendekatan saja. Umumnya kata benda dan kata sifat termasuk isim. Bukan berarti seluruh kata sifat adalah Isim. Karena ada kata sifat dalam Bahasa Arab yang masuk dalam kelompok kata kerja (fi'il) 3 Hanya pendekatan saja. Umumnya kata sambung dan kata hubung adalah huruf. Namun, tidak sedikit kata sambung atau kata hubung yang termasuk kelompok Isim. 6 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA yang bermacam-macam. Pada pengantar ini, kita akan mempelajari semua jenis pembagian fi'il, isim, dan huruf yang wajib diketahui dan dipahami oleh para pemula. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 7 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 1.3 Mengenal Fi'il Fi'il umumnya dikenal dalam bahasa kita sebagai kata kerja seperti CJ& (telah menulis) dan iic (telah mengetahui). Dalam Bahasa Arab, kata kerja ada 3 jenis 4 : 1. Fi'il Madhi ( y» UJI j«Jl ) Fi'il madhi adalah kata kerja untuk masa lampau yang memiliki arti telah melakukan sesuatu. Contohnya: C3£ (telah menulis) atau lis- (telah mengetahui). 2. Fi'il Mudhari' ( ^Uk^l jJ^JI ) Fi'il mudhari' adalah kata kerja yang memiliki arti sedang atau akan melakukan. Contohnya: 4*^=4 (sedang menulis) atau (L)Ju (sedang mengetahui). 3. Fi'il Amar ( J»H\ J*i ) Fi'il amar adalah kata kerja untuk perintah . Contohnya: 4iSl (tulislah!) atau pl\ (ketahuilah!). 4 Pembagian fi'il menjadi seperti ini lebih mirip tata bahasa inggris yang mengenal istilah past tense (masa lampau) dan present continous tense (sedang berlangsung). Harus diakui tata Bahasa Arab lebih sesuai dengan tata bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. 8 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Berikut ini tabel contoh ketiga jenis fi'il untuk berbagai kata kerja No. Fi'il Madhi Fi'il Mudhari' Fi'il Amar 1 & (telah melihat) 'M (sedang melihat) (lihatlah!) 2 (telah duduk) (sedang duduk) (duduklah!) 3 e (telah membuka) > -\* (sedang membuka) "M (bukalah!) 4 (telah mendengar) (sedang mendengar) (dengarkan!) 5 (telah menghitung) (sedang menghitung) (hitunglah!) Untuk rumus perubahan dari fi'il madhi ke fi'il mudhari serta fi'il amar dibahas pada ilmu sharaf 5 . Apakah Semua Fi'il Adalah Kata Kerja? Umumnya fi'il adalah kata kerja sebagaimana contoh- contoh yang telah kami sebutkan. Akan tetapi, tidak semua fi'il adalah kata kerja. Karena, ada juga fi'il yang merupakan kata sifat seperti fi'il-fi'il yang ada pada bab 5 tsulatsy mujarrad 6 - Kaidahnya, semua kata kerja adalah fi'il tetapi 5 Silahkan merujuk ke buku kami, Ilmu Sharaf ntuk Pemula, untuk mendapatkan pembahasan tentang masalah ini. 6 Silahkan merujuk ke buku kami, Ilmu Sharaf Untuk Pemula, untuk mendapatkan pembahasan tentang masalah ini. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 9 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com tidak semua fi 'U adalah kata kerja. Contohnya: • ly*&- (telah baik) - (sedang baik) • J£ (telah bagus) - (sedang bagus) • oJS (telah dekat) - OjJb (Sedang dekat) • Juu (telah jauh) - julo (sedang jauh) • YjZ (telah mulia) - (sedang mulia) Semua fi'il tsulatsy mujarrad bab 5 di atas adalah kata sifat. Namun, karena memiliki makna yang berkaitan dengan waktu (telah dan sedang), maka kata sifat ini juga termasuk fi 'U. Karena, definisi fi'il adalah: "Kata yang mengandung sebuah makna yang ada pada dirinya dan berkaitan dengan waktu" 7 Artinya, definisi fi'il dikaitkan dengan kata yang mengandung makna waktu (telah, sedang, dan akan datang). Oleh karena itu meskipun f i 'il-fi 'U bab 5 memiliki makna kata sifat, akan tetapi karena maknanya mengandung keterangan waktu, maka termasuk f i 'U. Semua kata kerja adalah fi'il, tetapi tidak semua fi'il adalah kata kerja 7 Lihat penjelasannya dalam Syarah Mukhtashar Jiddan oleh Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. 10 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Apa Ciri-Ciri Fi'il? Untuk memudahkan dalam mengetahui mana kata yang termasuk fi 'U, maka kita bisa menghafal ciri-ciri fi'il. Ciri-ciri fi'il adalah: 1 . Didahului huruf "jj " Huruf jJs artinya adalah "sungguh". Contohnya: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman." (Al Mu'minun: 1) Maka kata " merupakan fi'il. 2. Didahului huruf " ' JL" Huruf "jm" artinya adalah "akan". Contohnya: "Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata . ..." (Al Baqarah: 142) Maka kata "jjij" merupakan /z' 'z/. 3. Didahului huruf "iJp " Huruf "iSy*t" artinya juga "Akan". Bedanya dengan "j*", kata "oj^i" digunakan untuk waktu yang lebih lama daripada " 'j*" ' . Contohnya: Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 11 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com "Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)." (At Takatsur: 3) 4. Diakhiri Ta Ta'nits "o " Ta ta'nits tidak memiliki arti khusus, hanya huruf tambahan saja. Ta ta'nits ini merupakan ciri fi'il madhi dhamir ^ . Contohnya: "... berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu! ..." (An Naml: 18) Kata "c-Jli" diakhiri dengan huruf ta yang berharakat sukun (ta ta'nits). Maka kata ini termasuk fi 'U. Namun yang perlu dicatat, bila ada kata dalam Al Cjur'an, hadits, dan kitab Bahasa Arab yang mengandung ciri-ciri di atas, maka sudah pasti fi'il, akan tetapi tidak semua fi'il datang dengan ciri-ciri tersebut. Banyak fi'il yang berdiri sendiri tanpa ciri yang menyertainya. Selain pembagian fi 'U berdasarkan waktu (fi'il madhi, fi'il mudhari, dan fi'il amar), ada beberapa pembagian fi'il yang wajib diketahui oleh pemula, yaitu: 1. Fi'il Berdasarkan Kebutuhan Terhadap Obyek (Fi'il Lazim dan Fi'il Muta'addiy) 2. Fi'il Aktif dan Pasif (Fi'il Ma'lum dan Fi'il Majhul) 3. Fi'il berdasarkan huruf penyusun (Fi'il Shahih dan Fi'il Mu'tal). 12 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 1.3.1 Fi'il Berdasarkan Kebutuhan Terhadap Obyek (Fi'il Lazim dan Fi'il Muta'addiy) Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata kerja yang butuh objek (transitif) dan kata kerja yang tidak membutuhkan objek (intransitif ). Begitupun dengan Bahasa Arab, berdasarkan kebutuhannya pada objek, fi'il dibagi menjadi dua: 1. Fi'il Lazim ( fj^Jl jiiJl ) Fi'il lazim adalah fi'il yang tidak membutuhkan objek (intransitif). Contohnya ^li (telah berdiri) dan jli^- (telah duduk). Kedua kata kerja ini secara nalar tidak mem- butuhkan objek. Misalkan c~*3 (Saya telah berdiri) dan c— «!>■ (Saya telah duduk). Maka, kedua kalimat ini sudah sempurna. Sekalipun ada tambahan, maka tambahannya disebut keterangan, bukan objek. Contohnya: (Saya telah duduk di atas kursi) atau contoh kalimat: (Saya telah berdiri di dalam masjid) Maka, "di atas kursi" dan "di dalam masjid" merupakan keterangan, bukan objek. 2. Fi'il Muta'adiy ( ^IscuSt J*aJ1 ) Fi'il muta'addiy adalah fi'il yang membutuhkan objek (transitif). Contohnya adalah C3£ (telah menulis) dan \ Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 13 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com (telah makan). Bila kita membuat kalimat cJiS* (Saya telah menulis) dan cJo I (Saya telah makan). Maka secara nalar, kalimat ini masih butuh objek. Apa yang dimakan? Apa yang ditulis? Sehingga, kita masih perlu menambahkan objek di belakangnya. Contohnya: (Saya telah memakan ikan) dengan tambahan "surat" dan "ikan" barulah dua kalimat di atas menjadi sempurna. Apakah Fi'il Lazim dan Fi'il Muta'addiy Memiliki Ciri Khusus Sehingga Bisa Dibedakan? Secara bentuk tulisan, tidak ada bentuk tulisan khusus untuk fi'il lazim maupun muta'addiy. Pertama-tama, kita perlu mengetahui makna dari fi'il tersebut. Setelah itu, baru menggunakan nalar Kita, apakah kata tersebut membutuhkan objek atau tidak. 1.32 Fi'il Aktif dan Pasif {Fi'il Ma'lum dan Fi'il Majhul) Ditinjau dari aktif dan -pasti, fi'il terbagi menjadi: (Saya telah menulis surat) atau kalimat: 1. Fi'il ma'lum (j»jlsuJl J*i!0 Fi'il ma'lum adalah kata kerja aktif. 14 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 2. Fi'il majhul (jjJ^Jl ji^l) Fi'il majhul adalah kata kerja pasif. Sama seperti Bahasa Indonesia, perubahan dari kata kerja aktif ke kata kerja pasif ada rumusnya. Misalkan menolong - ditolong, melihat - dilihat, memukul - dipukul, membersihkan - dibersihkan, dan sebagainya. Contoh penggunaan kata kerja aktif dan kata kerja pasif: i^£=o Jo j Oj^b -> V j* 9 (Zaid telah memukul Bakr) -> (Bakr telah dipukul) Satu hal yang perlu dicatat, dalam kaidah Bahasa Arab, kalimat pasif tidak boleh memunculkan subjek (pelaku) karena fungsi kalimat pasif dalam Bahasa Arab adalah untuk menyembunyikan atau tidak menyebut pelaku, baik karena: 1. Pelakunya sudah diketahui, 2. Pelakunya memang tidak diketahui, maupun 3. Pelakunya sengaja disembunyikan. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 15 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Ini berbeda dengan Bahasa Indonesia, dimana kita masih boleh menyebut pelakunya, seperti contoh "Bakr telah dipukul oleh Zaid". Dalam Bahasa Arab, kita hanya boleh Kaidah Fi'il Ma'lum dan Fi'il Majhul Fi'il yang bisa berubah ke bentuk majhul hanya fi'il muta'addiy (transitif). Adapun fi'il lazim (intransitif ) tidak bisa berubah ke bentuk majhul, karena tidak memiliki objek sehingga tidak bisa diubah ke bentuk pasif. mengatakan "Bakr telah dipukul" tanpa menjelaskan siapa yang memukul. Bila kita ingin menyebut pelakunya, maka wajib menggunakan kalimat aktif. Rumus mengubah fi'il ma'lum ke fi'il majhul adalah sebagai berikut: Rumus Mengubah Fi'il Ma'lum ke Fi'il Majhul Rumus Fi'il Madhiy: Huruf pertama di-dhammah-kan, dan 1 huruf sebelum huruf terakhir di-/o?sra/z-kan. Rumus Fi'il Mudhari': Huruf pertama di-dhammah-kan, dan 1 huruf sebelum huruf terakhir di-fathah-kan. 16 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Perhatikan tabel berikut untuk memahami rumus di atas: Ketika Majhul Ketika Ma'lum *- ° * 'i. \-. e \ — \jA (J- - _ {J^r \ -. e \ - V ~ o> (J- - „ LT^ > • t ^ > > • * ^ - - \ ^ ^ 0 ^ f -"'i 1.3.3 fi'i/ Berdasarkan Huruf Penyusun (Fi'il Shahih dan Fi'il Mu'tal) Ditinjau dari huruf penyusunnya, fi'il dibagi menjadi dua yaitu; 1. Fi'il Shahih ( jiiJI ) Fz'z'Z shahih adalah /z 'z7 yang huruf penyusunnya terbebas dari huruf 'Ulat. Huruf 'Ulat yaitu alif, waw, dan ya. Contohnya JSl (telah makan) dan c-^S* (telah menulis). Ketiga huruf penyusun dari kedua fi'il tersebut tidak ada yang mengandung alif, waw, dan ya sehingga jSl dan C3£ merupakan fi'il shahih. A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 17 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 2. Fi'il Mu'tal ( jiiill jiiJ!) Fz'z'Z mu'tal adalah /z'z7 yang huruf penyusunnya mengandung minimal salah satu dari tiga huruf 'Ulat yaitu alif, waw, dan ya baik pada awal, tengah dan akhir kata. Contoh fi 'U mu'tal adalah Jl^> (menjadi), (Jj (melempar), ^L>- (takut), dan (menjauhi). Bukankah kata J^l mengandung huruf alif? Kita harus membedakan alif dengan hamzah. Dalam kaidah penulisan bahasa arab, alif yang berharakat disebut dengan hamzah. Alif sendiri hanya berfungsi sebagai mad (pemanjang bacaan). Perhatikan perbedaan hamzah dengan alif melalui contoh berikut: Hamzah Alif \ (Makan) ^li (berdiri) J Lu (bertanya) jl! (berkata) l^i (membaca) f>\+a (berpuasa) Apa Manfaat Kita Mengetahui Fi'il Shahih dan Fi'il Mu'tal? Fi'il mu'tal memiliki tashrif (pola perubahan) yang tidak mengikuti kaidah asal atau tidak seragam. Ini berbeda dengan fi'il shahih yang pola perubahannya seragam. Dengan mengetahui suatu fi'il mengandung huruf 'illat, maka kita dapat lebih teliti dalam melakukan perubahan dari suatu bentuk ke bentuk yang lain khusunya tashrif 18 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA lughawi (perubahan kata berdasarkan kata ganti) sehingga ketika menyusun kalimat, kita tidak akan salah memilih kata. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 19 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 1.4 Mengenal Isim Isim secara bahasa memiliki arti "yang dinamakan" atau "nama" atau "kata benda". Sedangkan menurut ulama nahwu, isim adalah: "Kata yang mengandung sebuah makna pada dirinya dan tidak berkaitan dengan waktu" 8 Dari definisi di atas, kita bisa mengetahui bahwa Isim merupakan lawan dari fi'il. Semua kata yang memiliki kandungan makna yang tidak terkait dengan waktu (telah, sedang, akan datang), maka kata tersebut termasuk isim. Karena tidak dibatasi dengan waktu, maka isim termasuk kata yang paling banyak jenisnya. Beberapa contoh kata yang termasuk jenis isim: • Juj artinya Zaid (isim 'alam: nama orang) • \jjn artinya "ini" (isim isyarah: kata tunjuk) • \j\ artinya "saya" (isim dhamir: kata ganti) Apa Ciri-Ciri Isim? Isim memiliki banyak ciri. Sebagian ciri isim yang mudah dikenali adalah: 1. Dilekati aliflam Semua kata dalam Bahasa Arab yang didahului oleh alif lam (J!) merupakan isim. Contohnya: Lihat penjelasannya dalam Syarah Mukhtashar Jiddan oleh Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. 20 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 2. Bertanwin Semua kata dalam Bahasa Arab yang berharakat tanwin baik dhammatain, fathatain, maupun kasratain, sudah pasti isim. Contohnya: UU 3. Bertemu dengan huruf jar Bila suatu kata didahului oleh huruf jar, maka kata tersebut pasti isim. Diantara huruf jar adalah dan <JL Contohnya: (Aku telah berjalan dari masjid ke rumah) Maka kata "j^-I^JI" dan "c^\" merupakan isim. Penjelasan apa itu huruf jar akan dibahas selanjutnya pada pembahasan tentang huruf. Bagi pemula, setidaknya harus memahami pembagian Isim sebagai berikut: 1. Isim berdasarkan jumlah (Mufrad, Tatsniyah, jamak) 2. Isim berdasakan jenis (Mudzakkar dan Muannats) 3. Isim ditinjau dari keumuman dan kekhususan (Ma'rifah dan Nakirah) 4. Isim ditinjau dari Keberterimaan tanwin (Munsharif dan Ghairu Munsharif) 5. Isim ditinjau dari perubahan akhir kata (Mu'rab dan Mabniy) Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 21 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 1.4.1 Isim Berdasarkan Jumlah (Mufrad, Tatsniyah, Jamak) Dalam bahasa Indonesia, kita hanya mengenal kata tunggal dan kata jamak. Dalam Bahasa Arab, selain dikenal kata tunggal dan kata jamak, juga dikenal kata ganda. Berdasarkan jumlah, isim dibedakan menjadi tiga, yaitu: 1. Isim Mufrad ( jjiil LlH) ) Isim mufrad adalah kata tunggal. Contohnya: jLLl* ,*1!lLj> (seorang muslim, seorang muslimah) dan i-jIzS, pi (sebuah kitab, sebuah pulpen). 2. Isim Tatsniyah ( i^iisll ) Ini adalah suatu istilah yang agak sulit untuk ditemukan padanannya dalam Bahasa Indonesia. Karena dalam bahasa kita, hanya didapati istilah tunggal dan jamak. Tunggal adalah satu dan setiap yang lebih dari satu adalah jamak. Namun tidak demikian dengan Bahasa Arab. Pada Bahasa Arab, ada istilah untuk yang bermakna dua. Barangkali istilah Indonesia yang mendekati maksud istilah tastniyah adalah ganda. Jadi istilah jamak dalam Bahasa Arab bukan sesuatu yang lebih dari satu, akan tetapi lebih dari dua. Sesuatu yang bermakna dua atau ganda disebut dengan tatsniyah atau mutsanna (J£o ). Contohnya: (dua orang muslim, dua orang muslimah) Atau 22 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA (dua orang muslim dan dua orang muslimah) dan (dua kitab, dua pulpen) atau (dua kitab, dua pulpen) 3. Jamak ( ) Jamak dalam Bahasa Arab ada tiga jenis, yaitu: 1. Jamak Mudzakkar Salim ( £JU1 Jfli ^ ) Yaitu bentuk jamak bagi isim-isim yang mudzakkar. Contohnya: atau (keduanya memiliki arti orang-orang muslim) 2. Jamak Muannats Salim ( jDll £o i£ ) Yaitu bentuk jamak bagi isim-isim yang muannats. Contohnya: oLL^ (orang-orang muslimah) 3. Jamak Taksir ( jL^^rJ Ini adalah jamak yang tidak memiliki aturan baku. jamak ini biasanya digunakan untuk kata benda mati Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 23 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com seperti pulpen, buku, pintu dan sebagainya. Contohnya: Z3£ (kitab-kitab), j»}U>l (pulpen-pulpen). Akan tetapi, ada juga jamak taksir yang bukan dari kata benda karena jamak taksir ada dua jenis: 1. Jamak Taksir LU 'Aqil: Jamak taksir untuk yang berakal. Contohnya: laki-laki ( fe-fe), nabi (*llol - 9 f > 9 '„ > rasul {y j - Jj^-j ), ustadz (ejJUii — iuuJ ), dan orang kaya (^\^\ — ). 2. Jamak Taksir Lighairil 'Aqil: Jamak taksir untuk kata benda. Contohnya: buku (4*^ " 4'^')' pulpen (^Slil - pii), pintu (oljjl - ub). Catatan: 1. Jamak Mudzakkar Salim hanya berlaku untuk isim-isim mudzakkar sedangkan Jamak Muannats Salim hanya berlaku untuk isim-isim muannats. 2. Asalnya, nama benda mati, jamaknya adalah jamak taksir akan tetapi untuk nama benda yang mengandung huruf ta marbuthah (muannats), bisa diubah ke jamak muannats s , , s „ salim. Contohnya: «J^-i (pohon) — > ol^-i (pohon- pohon) 24 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 3. Asalnya, isim-isim yang mudzakkar, jamaknya adalah jamak mudzakkar salim, akan Tetapi ada beberapa isim mudzakkar yang jamaknya jamak taksir. Contohnya: • (siswa) -> (siswa) • J^lc (pekerja) -> Juc. (pekerja-pekerja) Adakah Rumus Perubahan dari Bentuk Mufrad ke Tasniyah dan ke Jamak? Bentuk perubahan dari mufrad ke tatsniyah dan ke jamak mudzakkar salim dan jamak muannats salim adalah perubahan yang teratur. Artinya, telah memiliki perubahan dengan rumus tertentu. Adapun jamak taksir tidak memiliki aturan yang baku. Agar mudah memahaminya, bisa dilihat aturan rumus perubahan dari mufrad: 1. Rumus Tatsniyah Rumus perubahan mufrad ke tatsniyah ada dua: • Mufrad + j\ (aani) untuk keadaan raja' 9 • Mufrad + ^ (aini) untuk keadaan nashab dan jar 2. Rumus Jamak Mudzakkar Salim Rumus perubahan mufrad ke jamak mudzakkar salim ada dua: • Mufrad + 5 j (uuna) untuk keadaan rafa' • Mufrad + ^ (iina) untuk keadaan nashab atau jar 9 Kita akan membahas tentang istilah rafa', nashab, dan jar pada bab-bab selanjutnya Abu Ra^in & Ummu Ra^in 25 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 3. Rumus Jamak Muannats Salim Rumus perubahan mufrad ke jamak muannats salim: • Mufrad mudzakkar + a\ (aatun) Agar lebih mudah untuk memahaminya, mari kita terapkan rumus di atas ke beberapa kata dalam tabel berikut: Tabel Aturan Perubahan Isim No. Mufrad Tatsniyah Mudzakkar Salim Muannats Salim Taksir 1 i ° > \ ° * - ° i ° -> 2 3 4 26 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Keterangan: Pada contoh 1 dan 2 kita hendak membandingkan perbedaan perubahan antara bentuk mudzakkar dan muannats. Contoh 1 merupakan bentuk mudzakkar, sehingga tidak didapati bentuk jamak muannats salim-nya. Contoh 2 merupakan bentuk muannats sehingga tidak didapati jamak mudzakkar salim-nya. Pada contoh 3 dan 4 kita hendak membandingkan tentang kedua jenis perubahan dari dua kata benda yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa jamak taksir tidak memiliki rumus perubahan, dengan kata lain tidak teratur 10 . 1.4.2 Isim Berdasarkan Jenis (Isim Mudzakkar dan Isim Muannats) Dalam Bahasa Arab, dikenal pembagian kata berdasarkan jenis seperti kata jenis laki-laki (gentle) dan kata jenis wanita (feminim) baik untuk manusia maupun untuk benda. Pembahasan ini termasuk pembahasan yang sangat penting karena selalu dijadikan persyaratan dalam membuat kalimat Bahasa Arab. Isim berdasarkan jenisnya dibedakan menjadi dua: 1. Isim Mudzakkar (^TjJJI f-L^O Mudzakkar secara bahasa memiliki arti laki-laki. Secara istilah, isim mudzakkar adalah istilah atau terminologi untuk kata-kata yang masuk ke dalam jenis laki-laki. Semua nama manusia untuk laki-laki dan nama benda yang tidak 10 Sebetulnya jamak taksir juga memiliki pola. Akan tetapi ada 27 pola berbeda sehingga sulit untuk Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 27 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com mengandung huruf ta marbuthah (S) termasuk isim mudzakkar. Contoh isim mudzakkar: TV T 9 'i *• * '* /1 11. • Nama orang: ^ji jt-A^ji >-4j j- 1 ^' (dan semua nama laki- laki) • Nama benda: buku pulpen (pi), baju(ojj) dan semua nama benda yang tidak mengandung huruf ta marbuthah. 2. Isim Muannats (eipl Muannats secara bahasa memiliki arti wanita. Jadi, isim muannats adalah istilah untuk semua isim yang masuk ke dalam jenis wanita. Semua nama wanita dan isim-isim yang mengandung huruf ta marbuthah adalah isim muannats. Contohnya: • Nama wanita: iiilc ,<ui?ii dan semua nama wanita. • Nama benda: sekolah (<UjJjlo), universitas (lx*\s>-), kipas angin (£>jj^) dan semua nama benda yang mengandung ta marbuthah. Selain kata yang mengandung huruf ta marbuthah, ada juga kata yang tidak mengandung ta marbuthah akan tetapi termasuk muannats, seperti nama anggota tubuh yang berpasangan seperti j-lc- (mata)' j^l (telinga), dan jo (tangan). Sebagian nama benda langit seperti JoJ\ (bumi) dan (matahari) juga dianggap muannats. Hal-hal semacam ini memang seringkah terjadi dalam Bahasa Arab. Sampai- sampai ada ungkapan, dalam setiap kaidah selalu ada pengecualian. Oleh karena itu, penting untuk mempelajari 28 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Bahasa Arab atas bimbingan guru yang memahami hal-hal semacam ini. Semoga Allah memberikan kemudahan dan keistiqamahan. 1.4.3 Isim Ditinjau dari Keumuman dan Kekhususan (Isim Ma'rifah dan Isim Nakirah) Ditinjau dari keumumam dan kekhususan kata, Isim dibedakan menjadi 2: 1. Isim Ma'rifah (Kata Khusus) 2. Isim Nakirah (Kata Umum) Kata khusus (Isim Ma'rifah) adalah kata yang obyek pembicaraannya telah ditentukan. Sebaliknya, Kata umum (Isim Nakirah) adalah kata yang obyek pembicaraannya tidak ditentukan. Artinya mencakup semua kriteria yang masuk dalam cakupan pembicaraan. Misalkan contoh kalimat: u& lift (ini adalah sebuah buku) Maka buku dalam kalimat ini masih umum. Karena tidak dijelaskan apakah ini buku matematika atau buku bahasa arab atau buku milik siapa. Berbeda jika dikatakan: (ini adalah buku Bahasa Arab) Atau: (ini adalah bukunya Zaid) Maka dua contoh di atas termasuk kata khusus, karena A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 29 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com telah ditentukan obyeknya. Contoh pertama telah ditentukan jenisnya dan contoh kedua telah ditentukan kepemilikannya. Lalu bagaimana kita mengetahuai suatu isim itu ma'rifah atau nakirah? Isim Ma'rifah dalam Bahasa Arab ada lima 11 : 1. Isim Dhamir (Kata Ganti) Seluruh isim dhamir yang jumlahnya 14 termasuk isim ma'rifah. Keempat belas isim dhamir tersebut adalah: a. ji> (dia pria) b. Uft (mereka berdua pria) c. f& (mereka pria) d. (dia wanita) e. lift (mereka berdua wanita) f. (mereka wanita) g- ooi (Kamu pria) h. Ujj\ (Kalian berdua pria) i. (Kalian pria) j- as- ool (Kamu Wanita) k. Uiil (Kalian berdua wanita) 1. jol (Kalian wanita) m. UI (Saya) n. cA (Kami) Isim dhamir termasuk ma'rifah karena ketika kita Lihat Bab An Na'tu dari Kitab Matan Al Ajurrumiyyah oleh Ibnu Ajurrum Ash Shanhajiy 30 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA menggunakan isim dhamir, maka orang yang menjadi obyek pembicaraan telah ditentukan. 2. Isim 'Alam (Nama) Semua bentuk penamaan baik nama orang atau nama tempat termasuk Isim Ma'rifafa Contohnya .uj (Zaid), x»H (ahmad), iiilt (Aisyah), aS_« (mekkah), dan U_}5 [>■ (Jakarta). 3. Isim Isyarah (Kata Tunjuk) Isim Isyarah adalah kata tunjuk yang kita kenal dalam bahasa Indonesia seperti ini dan itu. Dalam Bahasa Arab, kata tunjuk ada 6, yaitu: Kata Tunjuk Ini (Mudzakkar) a. lift (Tunggal) b. jljjb (Ganda) c. jSljJb (Jamak) Kata Tunjuk Ini (Muannats) a. e jjh (Tunggal) b. jUU (Ganda) c. jMJJfc (Jamak) Kata Tunjuk Itu (Mudzakkar) a. dUi (Tunggal) b. (Ganda) - i c. JJdjl (Jamak) Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 31 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Kata Tunjuk Itu (Muannats) a. <iUo (Tunggal) b. dUtt (Ganda) c. JJdji (Jamak) 4. Isim yang dilekati alif dan lam (Al) Semua kata dalam Bahasa Arab yang dilekati alif lam merupakan isim ma'rifah. Contohnya: <1>\&\ (buku), lili I (pulpen), J*-^ (seorang laki-laki) 5. Isim yang di-idhafah-kan (disandarkan) kepada salah satu dari 4 isim ma'rifat di atas. Pada bab-bab selanjutnya kita akan mempelajari bentuk idhafah ini secara khusus. Contoh-contoh bentuk idhafah (lihat tabel pada halaman selanjutnya): 32 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA a. Idhafah kepada Isim Dhamir Kata Arti Buku dia (laki-laki) Buku mereka berdua (laki-laki) Buku mereka (laki-laki) Buku dia (wanita) Buku mereka berdua (wanita) Buku mereka (wanita) Buku Kamu (laki-laki) Buku kalian berdua (laki-laki) Buku Kalian (laki-laki) Bukumu (wanita) Buku kalian berdua (wanita) Buku Kalian (wanita) Buku Saya Buku Kami A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 33 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com b. Idhafah kepada Isim Alam Contohnya ajj CJ<& (Bukunya Zaid), li|\c ^(ibunya Aisyah), JaI (penduduk Mekkah), «uj-uJI Ja! (penduduk Madinah) c. Idhafah kepada Isim Isyarah Contohnya eJ^JI oIa j»l (Ibunya anak perempuan ini) d. Idahafah kepada Isim yang dilekati Al Contohnya jii (Ahli Hadits), ^JJI (buku bahasa), oIj (pintu masjid) Perhatikan jika kata j» i , JaI j^-^ dan ub pada kalimat di atas berdiri sendiri, maka maknanya masih umum dan bisa mencakup apa saja. Namun ketika kata-kata ini disandarkan kepada 4 isim ma'rifah maka menjadi jelas kepemilikannya atau menjadi khusus (spesifik) obyek pembicaraannya. Bila kita perhatikan, dari 5 jenis isim ma'rifat, 3 diantaranya merupakan jenis yang sudah pasti ma'rifah yaitu isim dhamir, isim isyarah, dan isim 'alam. Adapun dua sisanya bisa dibentuk dari kata apapun. Artinya, kata apapun dalam Bahasa Arab selain isim dhamir, isim isyarah, dan isim 'alam hukum asalnya adalah nakirah sampai dilekati alif lam atau di-idhafah-kan kepada salah satu dari 4 jens isim ma'rifah. Contohnya kata ub , , ^Ji ,ou5 , dan js^j» adalah nakirah. Sedangkan bila dilekati alif lam menajdi ol^M , A-ljI^Jl , jLLaJI , tl>\^l\ , dan maka menjadi ma'rifah. Secara sederhana bisa kita simpulkan bahwa isim nakirah adalah semua kata yang tidak dilekati alif lam dan tidak diidhafahkan kepada isim ma'rifah. 34 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 1.4.4 Isim Ditinjau dari Keberterimaan Tanwin (Isim Munsharif dan Isim Ghairu Munsharif) Hukum asalnya semua isim adalah bertanwin sampai ada sebab lain yang menjadikan tanwinnya hilang seperti kemasukan alif dan lam atau menjadi idhafah (sandaran). Isim yang kemasukan alif dan lam, maka tanwinnya wajib dihilangkan. Contohnya (buku). Ketika ada alif dan lam, maka wajib dibaca <l>\s£}\ dengan dhammah saja, bukan dengan dhammatain seperti il>\5&\ . Sebaliknya, Kata ketika berdiri sendiri tanpa alif dan lam, maka wajib dibaca tanwin, dan tidak boleh hanya dhammah saja seperti tJ^? • Begitupun juga ketika kata <L£i& menjadi idhafah (sandaran) seperti -Uj (bukunya Zaid) maka tidak boleh dibaca tanwin seperti -Uj . Isim yang bisa bertanwin ini disebut dengan Isim Munsharif dan kebanyakan isim termasuk jenis ini. Contohnya: jj*u»j> (masjid), (pintu), Juj (Zaid), j-Lt (mata), dan sebagainya. Namun ada beberapa isim yang tidak boleh bertanwin ketika berdiri sendiri, apalagi ketika kemasukan alif dan lam atau idhafah. Isim yang termasuk jenis ini disebut dengan isim ghairu munsharif. Contohnya dalam Al Qur'an: "dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa (Al Baqarah: 126) Bila kita periksa dalam seluruh ayat Al Cjur'an yang mengandung nama Nabi "Ibrahim" maka akan kita dapati bahwa seluruhnya tidak bertanwin. Berbeda dengan Nabi Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 35 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Nuh, seluruhnya bertanwin, salah satu contohnya: ^yuoj ( J£>zZ>^j -^J'- 5 ^'*_5 «l^rr-^J ojj±*>j o^J^J ^Jd'J te^&J (ur :A~jJI) "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman, dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (An Nisa: 163) Perhatikanlah bahwa nama Nabi Nuh disebutkan dalam keadaan bertanwin, akan tetapi nama nabi-nabi lain yang disebutkan di atas mulai dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Daud tidak ada satupun yang bertanwin. Ini dikarenakan nama nabi Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, Sulaiman dan Daud termasuk isim ghairu munsharif, yaitu isim yang tidak boleh bertanwin. Selain tidak bertanwin, isim ghairu munsharif Juga tidak menerima harakat kasrah. Oleh karena itu kata "ibrahim" pada ayat di atas tidak dibaca kasrah sekalipun didahului oleh huruf jar 12 . Lalu apa saja isim yang tidak boleh bertanwin? Huruf jar adalah huruf yang menyebabkan isim yang ada setelahnya menjadi dalam keadaan jar / khafadh. Bentuk asal jar adalah harakat kasrah. 36 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Selain tidak bertanwin, isimghairu munsharif juga tidak bisa berharakat kasrah. Berikut ini Kami berikan beberapa kelompok isim yang tidak boleh bertanwin: 1. Seluruh nama wanita Seluruh nama yang digunakan untuk wanita baik yang diakhiri dengan ta marbuthah seperti a£-^> ,£i|\c ,ilk>ll maupun tidak diakhiri ta marbuthah seperti dan £y>. Khusus untuk nama wanita yang tersusun dari 3 huruf dan huruf di tengahnya berharakat sukun, maka boleh dibaca tanwin seperti 11* . 2. Seluruh nama Laki-laki yang diakhiri ta marbuthah Semua nama yang digunakan untuk laki-laki dan diakhiri dengan ta marbuthah seperti s>lli , iiU-l , 3. Seluruh nama yang berasal dari non Arab yang hurufnya lebih dari 3 huruf Nama-nama yang berasal bukan dari Bahasa Arab yang tersusun lebih dari 3 huruf seperti nama-nama Nabi pada contoh di Surat An Nisa: 163 di atas. Khusus untuk nama yang tidak berasal dari Bahasa Arab yang tersusun dari 3 huruf termasuk isim munsharif seperti dan ^ 4. Seluruh nama yang berakhiran alif dan nun Semua nama yang diakhiri alif dan nun ( jl) seperti jUJuj ijUlti dan jUlt. A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 37 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 5. Seluruh nama yang mengikuti wazan fi'il Semua nama yang mengikuti wazan fi'il seperti £H dan > 't 6. Seluruh nama yang mengikuti wazan J*3 Semua nama yang polanya mengikuti wazan jil seperti dan Ji-j . 7. Seluruh kata sifat yang mengikuti wazan J^ui Semua kata dalam bahasa arab yang polanya mengikuti wazan o^Lii seperti oLLUc. (haus), jlliat (marah), dam j^j^- (lapar). 8. Seluruh kata yang mengikuti wazan JjlsI Semua kata yang polanya mengikuti wazan seperti nama-nama warna dan isim tafdhill3. Contohnya (merah), 'Ja±\ (hijau), Sjll (putih), Jjjl (biru), 'JiJj\ (kuning) , J£>\ (putih) dan j$\ (paling besar), J-kil (paling utama), (paling baik), iijl (paling jauh) 9. Seluruh kata yang mengikuti pola shigat muntahal jumu' Shigat muntahal jumu' adalah salah satu bentuk jamak dengan pola-pola khas seperti 'Jc-^i <jlf lli dan sebagainya. Contohnya il^UI (lagu-lagu), ic-l^s (kaidah- kaidah), (risalah-risalah), dan jljlli (sekolah- sekolah). 13 Kata yang menunjukkan makna "paling" atau "sangat" 38 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 10. Semua kata yang diakhiri alif ta'nits maqsurah dan mamdudah Alif ta'nits adalah alif yang menjadi ciri muannats dari suatu kata. Misalkan adalah bentuk mudzakkar. Bentuk muannatsnya adalah dengan diubah ke pola alif ta'nits mamdudah menjadi £l^ix> . Semua kata yang diakhiri alif ta'nits baik yang maasurah maupun mamdudah termasuk isim ghairu munsharif. Contoh kata yang diakhiri alif ta'nits maqshurah u : Ji&t (haus), J- yr (lapar), jJl* (nama wanita), jjii (peringatan) Contoh kata yang diakhiri alif ta'nits mamdudah 15 : Vfyai- (hijau), (merah), Z\Jiui (putih), s&°yi (hitam), Z\$jj (biru), t-\yuo> (putih), f.\hj*0\ (teman-teman), Ajl* (para penyair) 14 Disebut maqshurah (dipendekkan) karena alifnya sekan dipendekkan menjadi bentuk huruf seperti huruf ya 15 Disebut mamdudah (dipanjangkan) karena alif nya ditulis dalam bentuk alif tegak seperti biasa Abu Ra^in & Ummu Ra^in 39 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 1.4.5 Isim Ditinjau dari Perubahan Akhir Kata (Mu'rab dan Mabniy) Ada kata yang harakat terakhirnya berubah-ubah seiring dengan perbedaan kedudukan kata tersebut dalam kalimat. Ada juga kata yang harakat akhirnya tetap, akan tetapi hurufnya yang berubah. Sebagian lagi, ada yang harakat terakhir maupun huruf terakhinya tidak berubah sama sekali. Karena bila ditinjau dari keadaan akhir kata ini, isim dibagi menjadi dua: 1.4.5.1 Berubah {Mu'rab) Mu'rab adalah kelompok kata yang bisa berubah keadaan akhir katanya seiring perbedaan kedudukan kata tersebut. Contohnya lafal Allah yang telah Kami sebutkan sebelumnya. Lafal Allah bisa berharakat dhammah, fathah, maupun kasrah tergantung kedudukannya dalam kalimat. Mu'rab sendiri ada dua: A. Berubah Harakat Ada kata yang perubahannya dari sisi harakatnya. Kelompok kata yang masuk jenis ini ada 3 yaitu: 1. Isim mufrad 2. Jamak taksir 3. Jamak muannats salim Ketiga kata di atas, bila menempati kedudukan yang berbeda-beda dalam kalimat, maka yang berubah adalah harakatnya. Contohnya: 40 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Isim Mufrad Jamak Taksir Jamak Muannats Salim Rafa' (Seorang laki-laki telah datang) s , Ola.Lu.Jl Ool*- Nashab (Aku telah melihat seorang laki-laki) Jar (Aku telah berpapasan dengan seorang laki-laki) Perhatikanlah bahwa ketiga jenis kata di atas berubah- ubah sesuai kedudukannya dalam kalimat (berbeda ketika menjadi subjek, menjadi objek, dan ketika didahului oleh huruf jar). Kadang dhammah, fathah, atau kasrah sesuai kedudukannya dalam kalimat. Pembahasan tentang rafa', nashab, dan jar serta kedudukan kata dalam kalimat akan dibahas lebih lanjut pada bab-bab selanjutnya. B. Berubah Huruf Kelompok kata ini yang berubah bukan harakatnya, melainkan hurufnya. Kelompok kata yang masuk jenis ini adalah: 1. Tastniyah 2. Jamak Mudzakkar Salim 3. Isim-isim yang lima 16 16 Isim-isim yang lima adalah istilah untuk 5 isim yang memiliki perubahan akhir kata yang berbeda dengan isim yang lain. Pembahasan lebih detail akan dibahas pada bab- Abu Ra%in <& Ummu Ra^in 41 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Ketiga jenis kata tersebut, ketika menempati kedudukan yang berbeda-beda dalam kalimat, maka yang berubah adalah hurufnya. Contohnya: Isim Tatsniyah Jamak Mudzakkar Salim Is/ra Yang Lima Rafa' (2 orang muslim telah datang) (j j-a-L^a tl*- Nashab (Aku telah melihat 2 orang muslim) j<a.L^a C-oi^ Jar (Aku telah berpapasan dengan 2 orang muslim) Perhatikanlah bahwa ketiga jenis kata di atas yang berubah-ubah adalah hurufnya bukan harakatnya. Misalkan tastniyah ketika menjadi subjek bentuknya "aani", ketika menjadi objek dan ketika didahului huruf jar menjadi "ayni". 1.4.5.2 Tetap (Mabniy) Mabniy adalah lawan dari mu'rab. Ini adalah kelompok kata yang tidak akan berubah selamanya. Artinya, bentuknya akan selalu seperti itu. Contoh kata yang masuk kelompok kata ini adalah isim isyarah (kata tunjuk). Misalkan kata »oa . Bentuknya akan seperti ini selamanya apapun bab selanjutnya. Kelima isim tersebut adalah: «f ff *- *< .i O I (bapak), ^1 (saudara), j*>- (ipar), ^9 (mulut) dan (yang memiliki) 42 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA kedudukannya. Tidak mungkin berubah menjadi ojj> atau Ketika kita berbicara tentang mu'rab dan mabniy, sebetulnya ini tidak hanya berlaku untuk isim saja. Pembahasan ini juga berlaku untuk fi'il dan huruf. Akan tetapi, kita akan membahas ini lebih detail lagi pada bab-bab selanjutnya insya Allah. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 43 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 1.5 Mengenal Huruf Huruf GJJil) secara bahasa memilki arti huruf seperti yang kita kenal dalam Bahasa Indonesia yang ada 26 huruf. Sedangkan dalam Bahasa Arab kita mengenal ada 28 huruf yang kita kenal dengan huruf hijaiyah. Akan tetapi, huruf yang dimaksud disini bukan setiap huruf hijaiyah melainkan huruf hijaiyah yang memiliki arti seperti: J (dan) tj (maka) o (dengan) J (untuk) ^ (akan) 2 (seperti) Huruf yang dimaksud di sini tidak berarti harus huruf yang disusun dari satu huruf saja, tetapi juga disusun dari dua atau lebih huruf yang memiliki makna, contohnya: °y» (dari), J| (ke), (dari) , Jp (di atas), £| (di dalam) Bagi pemula, setidaknya harus menghafal dan memahami 3 kelompok huruf: 1. Huruf Jar 2. Huruf Nashab 3. Huruf Jazm Dikarenakan huruf nashab dan huruf jazm sangat berkaitan erat dengan fi'il, maka kedua jenis huruf ini akan dibahas pada bab selanjutnya setelah membahas pola kalimat menggunakan kata kerja (fi'il). 1.6.1 Huruf Jar Huruf jar adalah huruf yang menyebabkan isim yang ada setelannya wajib dalam keadaan jar I khafadh. Bentuk asal jar adalah kasrah. Huruf-huruf jar antara lain: 44 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 'y» (dari), Jl (ke), je. (dari) , Jp (di atas), 3 (di dalam), oj (Sedikit/jarang), o (dengan), J (untuk), 3 (seperti), li (sejak), jJU (sejak) Contohnya: "Dari golongan jin dan manusia. " (An Naas: 6) "dan kepada langit, bagaimana ia ditinggikan?" (Al Ghasyiyah: 18) "Tentang berita yang besar." (An Naba: 2) (o : ^) ^fJL\^Jj2\^> J>^( "Tuhan yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arsy." (Thaha: 5) "yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. " (An Naas: 5) **° A ° t i * - 5 > y4Zw Ra^in <& Ummu Ra^in 45 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com "Sedikit sekalai lelaki mulia yang aku jumpai. " "Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia." (An Naas: 1) (Vi :S "kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. " (Al Baqarah: 74) "Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam." (Al Fatihah: 2) "Aku tidak melihatnya sejak hari minggu." "Afcw swda/z ffdflfc memakan daging sejak setahun. " Perhatikanlah ayat-ayat dan contoh-contoh di atas. Setiap kata yang didahului oleh huruf jar memiliki harakat kasrah. Selain huruf jar yang disebutkan di atas. Ada juga huruf yang termasuk huruf jar, yaitu huruf qasam (sumpah). Huruf qasam ada tiga yaitu waw, ba, dan ta. Contoh penggunaan 46 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA huruf qasam: Ketiganya memiliki arti "demi Allah". Contoh huruf qasam dalam Al Quran: "Demi masa." (Al Ashr: 1) "Saudara-saudara Yusuf Menjawab "Demi Allah Sesungguhnya kamu mengetahui bahwa Kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan Kami bukanlah Para pencuri. " (Yusuf: 73) Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 47 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com BAB II KALIMAT INTI Kunci memahami suatu bahasa adalah dengan cara memahami pola atau struktur kalimatnya. Bagi pemula, sangat penting untuk memahami struktur kalimat Bahasa Arab. Apalagi struktur Bahasa Arab agak berbeda dengan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, sebelum membahas yang lain-lain, kita akan mempelajari struktur kalimat Bahasa Arab terutama struktur kalimat inti. Adapun keterangan kalimat baru akan kita bahas pada bab 3 insya Allah. Struktur kalimat inti dalam Bahasa Arab minimal harus tersusun dari dua kata: 1. Isim+lsim 2. Fi'il + Isim Pola kalimat Isim + Isim disebut dengan jumlah ismiyyah sedangkan pola kalimat fi'il + Isim disebut jumlah fi'liyyah. Secara sederhana, kita boleh mengatakan, Jumlah ismiyyah adalah kalimat yang diawali dengan isim sedangkan jumlah fi'liyyah adalah kalimat yang diawali dengan fi'il. Karena pada prakteknya nanti ada jumlah ismiyyah yang polanya Isim + Fi'il bukan Isim + Isim. Contoh jumlah ismiyyah antara lain: a. l& \JJb (Ini adalah Buku) b. <^***o (Ia adalah seorang dokter) 48 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA @ M ^ $ 9 0 *> c. (j^J-^ -4j (zaid adalah seorang guru) d. A^JU^ <L2il& (Aisyah adalah seorang siswi) Seluruh kalimat di atas termasuk jumlah ismiyyah karena tersusun dari isim + isim. Pemberian harakat dhammah / dhammatain baik untuk isim pertama maupun yang kedua tidaklah sembarangan. Ada kaidah khusus pemberian harakat untuk pola kalimat jumlah ismiyyah yang insya Allah akan dibahas pada pembahasan selanjutnya. Adapun contoh jumlah fi'liyyah antara lain: a. Joj c-Jbi (Zaid telah pergi) b. <ui?li c-Ia3 (Fathimah telah pergi) f f - %- c. Ju^l ^A'^i (Ahmad sedang pergi) d. AJ^lc. t-JfeJo (Aisyah sedang pergi) Seluruh kalimat di atas termasuk jumlah fi'liyyah karena tersusun dari f i' U baik fi 'U madhi maupun fi'il mudhari dan Isim. Bila kita perhatikan, susunan kalimat Bahasa Arab agak berbeda dengan bahasa Indonesia dimana predikat (perbuatan) lebih didahulukan daripada subyek (pelaku). Kemudian, semua isim sebagai subyek (pelaku) pada kalimat jumlah fi'liyyah di atas berharakat dhammah / dhammatain. Hal semacam ini insya Allah akan kita dalami pada pembahasan selanjutnya. A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 49 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 2.1 Jumlah Fi'liyyah Jumlah Fi'liyyah adalah kalimat yang diawali oleh fi'il dalam susunan kalimatnya. Dikarenakan dari sisi kebutuhannya pada objek, fi'il dibagi menjadi fi'il lazim (intransitif: tidak butuh objek) dan fi'il muta'addiy (transitif: butuh objek), maka pola jumlah fi'liyyah juga ada dua bentuk: 1. Pola Kalimat Fi'il Lazim Fi'il + Fa'il (Predikat + Subjek) Contohnya kalimat "Zaid telah duduk": , • "T" / \ Subjek Predikat Kata kerjanya (jlk>) disebut lebih dulu dari pelaku (subjek). 2. Pola Kalimat Fi'il Muta'addiy Fi'il + Fa'il + Maf'ul bih (Predikat + Subjek + Objek) Contohnya kalimat "Zaid sedang membaca Al Qur'an": j Joj Kju / f \ Objek Subjek Predikat Fi'il adalah predikat (kata kerja), Fa'il adalah subjek 50 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA (pelaku), dan Maful bih adalah objek (yang dikenai perbuatan atau korban). Kata untuk fa'il dan maful bih bisa diambil dari jenis isim yang sesuai dengan konteks pembicaraan. KAIDAH UMUM Dalam menyusun kalimat Bahasa Arab, ada dua pembahasan yang pasti akan selalu menyertai pembahasan seputar persyaratan kalimat tersebut; yaitu pembahasan tentang isim berdasarkan jenis (mudzakkar dan muannats) dan isim berdasarkan jumlah (Mufrad, Tastniyah, Jamak). Ini penting dikarenakan dalam pola kalimat Bahasa Arab, perbedaan jenis dan jumlah kata akan sangat mempengaruhi bentuk kata yang sesuai untuk kalimat tersebut. Sebagai contoh, bila kita ingin membuat kalimat "zaid telah hadir" dan "Fathimah telah hadir", maka ada perbedaan fi 'U yang digunakan. Perhatikan kalimat berikut: Karena kata "Zaid" jenisnya adalah mudzakkar dan jumlahnya adalah mufrad, maka fi'il yang sesuai adalah fi'il dhamir Ja (dia laki-laki) yaitu yos>- sedangkan kata "Fathimah" jenisnya adalah muannats dan jumlahnya adalah mufrad, maka fi'il yang sesuai adalah fi'il dhamir (£ yaitu 2.1.1 Pola Kalimat Fi'il Lazim Fi'il Lazim adalah fi'il yang tidak butuh objek (maful bih). Oleh karena itu, dalam menyusun kalimat menggunakan fi 'U Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 51 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com lazim, kita cukup menyebut subjeknya {fa' U) saja setelah f i 'U nya. Contohnya: Joj y(i (Zaid telah berdiri) (Zaid sedang berdiri) Kaidah yang berlaku untuk jumlah fi'liyyah dengan fi'il lazim adalah: KAIDAH JUMLAH FI'ILIYYAH LAZIM 1. Fi'il harus sesuai jenisnya dengan fa'il. 2. Fi'il harus dalam bentuk mufrad. 3. Fa'il harus dalam keadaan raja' (marfu') 1. Fi'il harus sesuai jenisnya dengan fa'il. Bila fa'ilnya mudzakkar, maka fi'ilnya wajib mudzakkar. Sebaliknya jika fa'ilnya muannats, maka fi'ilnya wajib muannats. 2. Fi'il harus dalam bentuk mufrad. Ini berlaku baik untuk fa'il yang mufrad, tatsniyah, maupun jamak. Jadi sekalipun fa'ilnya tastniyah ataupun jamak, fi'il tetap wajib dalam keadaan mufrad. 52 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 3. Fa'il harus dalam keadaan rafa' (marfu / ) Berikut ini kaidah rafa' untuk mufrad, tatsniyah, dan Jamak: Jumlah Keadaan Ketika Rafa' Contoh Mufrad Dhammah 4JU5 Tatsniyah Bentuk aani ( jl) Jamak Mudzakkar Salim Bentuk uuna (Jj) Jamak Muannats Salim Dhammah Jamak Taksir Dhammah Untuk memahami kaidah ini, mari kita latihan menerapkan kaidah tersebut dengan memperhatikan variasi kalimat berikut ini: RUMUS CEPAT: FIRA DAN FARA ITU MANIS 1. FIRA: FI'il harus mufRAd 2. FARA: FA'il harus RAfa' 3. MANIS: fi'il dan fa'il itu harus saMA jeNIS A. Fi'il Madhi A.l Mufrad Perhatikan tabel berikut untuk memahami 3 persyaratan jumlah /z'z'Hyyah yang telah disebutkan di atas. Perhatikan bahwa semua fa'il dalam contoh berikut ini berharakat dhammah / dhammatain. Ini dikarenakan fa 'i l itu wajib rafa' Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 53 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com dan tanda asli rafa' adalah dhammah. Isim Mufrad termasuk kata yang ketika rafa' wajib berharakat dhammah. Mudzakkar Muannats (Zaid telah duduk) (Fathimah telah duduk) s», , t (Zaid telah tidur) (Hindun telah tidur) (bapak guru telah marah) (Ibu guru telah marah) (Siswa telah datang) (Siswi telah datang) (Bulan purnama telah nampak) (Matahari telah terbit) ol^Jl \\^> (buku telah hilang) (mobil telah hilang) JILJl *a e )\ (hujan telah berhenti) (listrik telah mati) (Anak laki-laki telah bermain) (anak wanita telah bermain) (burung telah terbang) (pesawat telah terbang) (Kuda telah berlari) (Perahu telah berlayar) 54 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Tabel di atas adalah contoh jumlah fi'liyy ah yang fa' U nya bukan kata ganti (isim dhamir). Dari 14 bentuk fi'il dari kata ganti Ja sampai ji£ , ada 8 fi'il yang fa'ilnya sudah melekat pada /z'zmya yaitu /z'z'Z dhamir mukhathab (kata ganti orang kedua) yaitu jol tUJUl t col t ^1 t uiil , col dan fi'il dhamir ' 'f -> »' mutakkallim (kata ganti orang pertama) yaitu UI dan l yfi-. Contohnya untuk kata kerja duduk: Kalimat Kata Ganti Arti Kamu (pria) telah duduk UjJLhwJ^' Kalian berdua (pria) telah duduk Kalian (pria) telah duduk col Kamu (wanita) telah duduk Uuii Kalian berdua (wanita) telah duduk Jol Kalian (wanita) telah duduk UI Saya (pria / wanita) telah duduk 0* Kami (pria / wanita ) telah duduk Perhatikan tabel di atas. Kedelapan fi'il madhi tersebut sudah menjadi kesatuan dengan fa'ilnya. Artinya, Ketika seseorang mengatakan c— «1»-, maka kata ini sudah mengandung fi'il dan isim (isim dhamir) dimana huruf o merupakan isim dhamir UI yang melekat pada Maknanya sudah dapat dipahami bahwa yang duduk adalah orang yang berbicara (Saya). Ini berbeda dengan fi'il madhi dhamir ghaib (kata ganti orang ketiga) dimana kita Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 55 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com diwajibkan untuk menyebut pelakunya. Kalau kita hanya mengatakan jll> (dia telah duduk) saja, maka tidak jelas yang duduk siapa sampai kita menyebut fa'ilnya. Misalnya Juj jll?- (Zaid telah duduk), maka kalimat ini jelas menunjukkan bahwa yang duduk adalah Zaid. A.2 Tatsniyah Dalam kaidah telah disebutkan, sekalipun fa'ilnya tatsniyah, fi'ilnya harus tetap mufrad. Contohnya: (Dua muslim telah pergi) Kita tidak boleh menggunakan fi'il madhi dhamir Ua menjadi jULllJl llii . Ini menyalahi kaidah nahwu. Kalau keadaannya demikian, lalu kapan kata Lfci bisa digunakan? Kata Lai bisa digunakan bila digunakan dalam jumlah ismiyyah. Karena jumlah ismiyyah memiliki kaidah yang berbeda dengan jumlah fi'liyyah. Contoh penggunaan yang benar untuk kata llii adalah: (Dua orang muslim telah pergi) Secara sepintas tidak ada perbedaan yang signifikan antara versi jumlah ismiyyah dan jumlah fi'liyyah dalam dua contoh kalimat "Dua orang muslim telah pergi". Namun, dalam kaidah Bahasa Arab, terkadang subjek (pelaku) didahulukan daripada fi'il sebagai pentuk penekanan pada subjek nya bukan pada perbuatannya. Silahkan perhatikan tabel berikut untuk memahami penerapan kaidah jumlah 56 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA fi'liyyah untuk jenis fa' U tatsniyah. Mudzakkar Muannats > (Kedua guru [pria] telah datang) > (Kedua guru [wanita] telah datang) ( Kedua dokter [pria] telah duduk) (Kedua dokter [wanita] telah duduk (Dua orang muslim telah shalat) (Dua orang muslimah telah shalat) (Dua orang mu'min telah berpuasa) (Dua orang mu'minah telah berpuasa) (Dua buku telah hilang) (Dua mobil telah hilang) (Dua laki-laki telah bermain) (Dua wanita telah bermain) (Dua guru [pria] telah berdiri) (Dua guru [wanita] telah berdiri) (Dua siswa telah bercita-cita) (Dua siswi telah bercita-cita) Berdasarkan kaidah, fa'il harus rafa'. Akan tetapi pada contoh di atas, kita melihat tidak ada satupun yang berharakat dhammah. Ini dikarenakan tidak semua kata Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 57 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com wajib berharakat dhammah ketika raja' . Ada beberapa kata yang memiliki bentuk lain ketika raja'. Salah satunya isim tatsniyah. Karena, perubahan i'rab tatsniyah bukan dengan perubahan harakat, melainkan perubahan huruf. Sebagaimana kita ketahui, tastniyah ada dua bentuk; pertama diakhiri aani (jl) dan kedua diakhiri ayni (jj). Kaidahnya, bentuk aani untuk raja' dan bentuk ayni untuk nashab dan jar. Sehingga, bila kita ingin membuat jumlah ji'liyyah yang failnya adalah tatsniyah, maka kita harus menggunakan bentuk aani ( jl). 58 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA A.3 Jamak Sama dengan tatsniyah, berdaasarkan kaidah, jumlah fi'liyyah yang fa'ilnya jamak, tetap menggunakan fi'il dalam bentuk mufrad. Ini berlaku baik untuk jamak mudzakkar salim, jamak muannats salim, maupun jamak taksir. Perhatikan tabel beriku untuk memahaminya: A.3.1 Jamak Salim Jamak Salim Jamak Mudzakkar Salim Jamak Muannats Salim (orang-orang muslim telah shalat) oU.L.u.Jl cJl^ (orang-orang muslimah telah shalat) (orang-orang mu' min telah berpuasa) (orang-orang mu'minah telah berpuasa) (guru-guru [pria] telah berdiri) (guru-guru [wanita] telah berdiri) (siswa-siwa telah bercita-cita) (siswi-siswi telah bercita-cita) Sama dengan tatsniyah, ketika raja' , jamak mudzakkar salim tidak berharakat dhammah. Ini dikarenakan jamak mudzakkar salim termasuk kata yang perubahan i'rabnya bukan berdasarkan perubahan harakat, melainkan perubahan huruf. Sebagaimana kita ketahui, Jamak mudzakkar salim memilki dua bentuk; pertama uuna (j j) dan kedua iina ). Kaidahnya, uuna untuk raja' dan iina untuk nashab dan jar. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 59 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Oleh karena itu, semua fa'il dalam jumlah fi'liyyah di atas datang dalam bentuk uuna. Tidak seperti jamak mudzakkar salim, perubahan i'rab jamak muannats salim adalah berdasarkan harakat. Oleh karena itu, ketika rafa', jamak muannats salim wajib berharakat dhammah. A.3.2 Jamak Taksir Jamak taksir sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab 1 terbagi menjadi 2 jenis; (1) Jamak Taksir LU 'Aqil (2) Jamak Taksir Lighairil 'Aqil Ada perbedaan kaidah antara dua jenis jamak taksir ini ketika menjadi fa'il (subjek). Kaidahnya adalah sebagai berikut: 1. Bila fa'il nya jamak taksir lighairil 'aqil, maka f i' U nya wajib dalam keadaan mufrad muannats. 2. Bila fa'il nya jamak taksir lil 'aqil, maka fi'il nya menyesuaikan jenis dari fa'il tersebut. Bila jamak taksirnya untuk mudzakkar, maka hukum asalnya 17 fi'il nya wajib mufrad mudzakkar. Sebaliknya bila jamak taksirnya untuk muannats, maka fi'il nya wajib mufrad muannats. 17 Terkadang ditemukan fi'il nya dalam bentuk mufrad muannats seperti pada Surat Al A'raf Ayat 101: 60 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA KAIDAH JUMLAH FI'LIYYAH JAMAK TAKSIR 1. Bila fa'il nya jamak taksir lighairil 'aail, maka /z'z7-nya wajib dalam keadaan mufrad muannats. 2. Bila fa'il nya jamak taksir lil 'aail, maka fi'il-nya menyesuaikan jenis dari fa'il tersebut. Untuk lebih memahami kaidah tersebut, silahkan perhatikan contoh-contoh dalam pembahasan berikut ini. A.3.2.1 Jamak Taksir Lighairil Aqil Ketika dalam bentuk mufrad, beberapa kata benda mungkin ada yang mudzakkar dan ada yang muannats. Namun, ketika kata benda tersebut berubah menjadi bentuk jamak taksir, maka semuanya dianggap muannats. Karena kaidahnya, semua jamak taksir dari kata benda (ghairu 'aqil) dihukumi muannats. KAIDAH JAMAK TAKSIR LI GHAIRIL 'AQIL Semua jamak taksir dari kata benda (ghairu 'aail) dihukumi muannats. Silahkan perhatikan tabel berikut untuk memahami jumlah fi'liyyah jamak taksir lighairil 'aqil. Kolom sebelah kiri dalam bentuk tunggal (mufrad) dan kolom sebelah kanan dalam bentuk jamak (jamak taksir). Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 61 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Mufrad Jamak Taksir j-uot c^aj (Mata telah menangis) •»0-»-»,, 0' ' <4J£M lS>?" (Anjing telah berlari) olH^Jl £l£ (buku telah hilang) Jj>u*S1\ (Masjid telah banyak) e cuio (Pohon telah tumbuh) _^J1 i_a> (Sungai telah mengering) aJJjJI cJaJLu (Daun telah berguguran) SJajji cu?ilaj (Bunga telah bermekaran) JjUail S ji. (Burung telah berkicau) c!JJL!t (Hati telah khusyu) j*yAiJl culJsl (Jiwa telah tenang) Bila kita perhatikan tabel tersebut, maka kita akan mendapati bahwa ketika dalam bentuk tunggal, kata-kata tersebut ada yang mudzakkar dan ada yang muannats. Baik yang muannatsnya karena keberadaan ta marbuthah seperti S^k^ (pohon) dan Sjj&j (bunga) maupun yang disepakati sebagi muannats oleh orang Arab seperti j*uij (jiwa) dan j^c (mata). Namun ketika kata tersebut berubah menjadi bentuk 62 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA jamak taksir, maka semuanya dikenakan hukum muannats. Dikarenakan fa' U nya dalam keadaan muannats, maka fi'il untuk jumlah fi'liyy ah dengan fa' U jamak taksir lighairil 'aqil, menggunakan fi'il mufrad muannats sebagaimana pada contoh-contoh di atas. A.3.2.1 Jamak Taksir Lil 'Aqil Berbeda dengan jamak taksir lighairil 'aqil yang semuanya dihukumi muannats, Jamak Taksir LU 'Aqi\ ada yang dihukumi mudzakkar dan ada yang dihukumi muannats tergantung apakah kata tersebut digunakan untuk laki-laki atau wanita. Contoh beberapa jamak taksir untuk laki-laki: " fe (laki-laki) - (siswa) Adapun contoh jamak taksir yang digunakan untuk wanita: - j\ (janda) sXa\ - (hamba wanita) Kaidah yang berlaku untuk jumlah fi'liyy ah dengan fa' U jamak taksir lil 'aqil adalah: 1. Bila jamak taksir lil 'aqil nya untuk mudzakkar, maka fi'il yang digunakan dalam bentuk mufrad mudzakkar 2. Bila jamak taksir lil 'aail nya untuk muannats, maka fi'il yang digunakan dalam bentuk mufrad muannats. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 63 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com KAIDAH JAMAK TAKSIR LIL 'AQ1L 1. Bila jamak taksir lil 'aqil nya untuk mudzakkar, maka fi'il yang digunakan dalam bentuk mufrad mudzakkar 2. Bila jamak taksir lil 'aqil nya untuk muannats, maka fi'il yang digunakan dalam bentuk mufrad muannats. Silahkan lihat tabel berikut untuk memahami jumlah fi'liyyah dengan fa' U jamak taksir baik untuk mudzakkar maupun muannats. Tabel Jumlah Fi'liyyah Jamak Taksir Lil 'Aqil Mudzakkar Mufrad Jamak Taksir i \\\*\\ ,.1^. ^QpnT*ano" ciwtc* "Ht^lciTt /~l n 1 1 1^ ^ L^J U3J 1 / V* 1 *"*-^ ^JCUl di Lfci MWa LCldl L U U U U IX ^ Aviifu 'U. f j>&\ lil? (Seorang pedagang telah tersenyum) zl j»b (Seorang saudara telah berdiri) £p (Orang kaya itu telah mulia) jJLel\j£ (Orang fakir telah banyak) ^Jjl ljuuZ> (Orang tua itu telah lemah) oJjJI c**J (Anak laki-laki itu telah bermain) (Seorang tamu telah datang) ••^ H -l' *° St - ' * J^Jit (Seorang teman telah pergi) «3-1 ciUs (Orang berhaji itu telah thawaf) 64 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Bila kita perhatikan tabel di atas, terlihat bahwa tidak ada perbedaan fi'il yang digunakan baik ketika dalam bentuk tunggal (mufrad) maupun dalam bentuk jamak taksir. Karena memang, jamak taksir untuk mudzakkar tetap dianggap mudzakkar. Berbeda dengan jamak taksir lighairil aqil dan jamak taksil li aqil untuk muannats yang dihukumi muannats. Tabel Jumlah Fi'liyyah Jamak Taksir Lil 'Aqil Muannats Mufrad Jamak Taksir (Seorang janda telah menangis) (Seorang wanita yang haidh telah berdiri) (Seorang perawan telah tersenyum) (Seorang wanita telah pulang) Karena jamak taksir lil 'aqil muannats merupakan bentuk jamak dari kata tungal yangg asalnya muannats, maka ketika menjadi jamak taksir tetap dihukumi sebagai muannats. Dalam catatan kami, sangat sedikit jamak taksir lil 'aqil untuk muannats. Karena kebanyakan jamak taksir lil 'aqil adalah untuk mudzakkar. Tabel di atas memuat contoh isim muannats yang ketika jamaknya menjadi jamak taksir. Kami tidak menemukan kata lain yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari selain contoh di atas. A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 65 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Hukum asalnya, untuk kata lil 'aqil yang muannats, ketika diubah menjadi bentuk jamak, maka menjadi jamak muannats salim. Berbeda dengan kata lil 'aqil yang mudzakkar, banyak dijumpai bentuk jamak taksirnya selain bentuk jamak mudzakkar salimnya sebagaimana contoh yang telah Kami sebutkan. JAMAK TAKSIR LIL 'AQIL MUANNATS Dalam catatan kami, sangat sedikit jamak taksir lil 'aqil untuk muannats. Karena kebanyakan jamak taksir lil 'aqil adalah untuk mudzakkar. v J B. Fi'il Mudhari' Pada pembahasan tentang contoh jumlah fi'liyyah dalam bentuk fi'il mudhari ini, Kami tidak mengulangi pembahasan tentang kaidah yang berkaitan dengan struktur kalimat jumlah fi'liyyah. Karena tidak ada perbedaan selain bentuk tashrif fi'il madhi menjadi fi'il mudhari. Akan tetapi beberapa hal yang perlu menjadi perhatian pemula akan Kami bahas seperlunya. 66 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA B.l Mufrad Mudzakkar Muannats (Zaid sedang duduk) (Fathimah sedang duduk) S' ,- -> , " (Zaid sedang tidur) 9 * \'~ (Hindun sedang tidur) **'*u * °- (bapak guru sedang marah) l'»'*u » i i (Ibu guru sedang marah) (Siswa sedang datang) (Siswi sedang datang) (Bulan purnama sedang nampak) (Matahari sedang terbit) (Buku sedang hilang) (mobil sedang hilang) L«jl) 1 ) (Amal sedang berhenti) *uJ^5Jl * h i 't i (listrik sedang mati) (Anak laki-laki sedang bermain) (anak perempuan sedang bermain) (burung sedang terbang) (pesawat sedang terbang) (Kuda sedang berlari) (Perahu sedang berlayar) A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 67 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Sama dengan fi'il madhi, fi'il mudhari untuk kata ganti orang kedua (Mukhathab) dan orang pertama (mutakallim) telah memiliki fa'il (subjek) yang melekat pada fi'ilnya. Contohnya untuk kata (sedang duduk): Kalimat Kata Ganti Arti Kamu (pria) sedang duduk , 4flf UsSI Kalian berdua (pria) sedang duduk Kalian (pria) sedang duduk ci? Kamu (wanita) sedang duduk Usil Kalian berdua (wanita) sedang duduk Kalian (wanita) sedang duduk UI Saya (pria / wanita) sedang duduk J-4 0* Kami (pria / wanita ) sedang duduk B.2 Tatsniyah Meskipun subjeknya tatsniyah, fi'il mudhari yang digunakan tetap dalam bentuk tunggal. Contohnya untuk kalimat "dua orang islam sedang berpuasa", maka bahasa arabnya adalah: fi'il mudharinya dalam bentuk mufrad, tidak tastniyah seperti: 68 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Kemudian, dikarenakan fa' U harus rafa', maka bentuk tatsniyah yang digunakan adalah yang berakhiran "aani" bukan "aini". Hal lain yang harus diperhatikan adalah, bila subjeknya mudzakkar, maka fi'il mudhari yang digunakan adalah mufrad mudzakkar, dan bila subjeknya muannats, maka fi'il mudhari yang digunakan harus mufrad muannats. Perhatikan tabel berikut untuk lebih memahami jumlah fi'liyy ah fi'il mudhari dengan subjek tatsniyah. Mudzakkar Muannats o\l\£h\ \12„ (Kedua Pak guru sedang datang) Cs&\£Ji\ 1 12. (Kedua Bu guru sedang datang) jlo.Ja.ll , ( Kedua Pak dokter sedang duduk) 7? ***£ w — • (Kedua Bu dokter sedang duduk) (Dua orang muslim sedang shalat) jliJuLdl °\fla> (Dua orang muslimah sedang shalat) jll«J^Jl ^ya* (Dua orang mu' min sedang berpuasa) jl£L«jlJl (Dua orang mu'minah sedang berpuasa) (Dua buku sedang hilang) (Dua mobil sedang hilang) (Dua laki-laki sedang bermain) (Dua wanita sedang bermain) (Dua Pak Guru sedang berdiri) (Dua Bu guru sedang berdiri) (Dua siswa sedang bercita-cita) (Dua siswi sedang bercita-cita) y4Zw Ra^in <& Ummu Ra^in 69 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com B.3 Jamak B.3.1 Jamak Salim Sama dengan tastniyah, Baik jamak mudzakkar salim maupun jamak muannats salim sama-sama menggunakan fi 'U mudhari dalam bentuk mufrad. Bedanya, jamak mudzakkar salim menggunakan fi 'U mudhari mufrad mudzakkar sedangkan jamak muannats salim menggunakan fi'il mudhari mufrad muannats. Silahkan perhatikan tabel berikut: Jamak Salim Jamak Mudzakkar Salim Jamak Muannats Salim (orang-orang muslim sedang shalat) fi ^ ° fi «*i ji oU.LI.Jl ^^sj" (orang-orang muslimah sedang shalat) ■J e* ° fi » , > c fi - (orang-orang mu' min sedang berpuasa) fi ° fi t, fi e fi Z (orang-orang mu'minah sedang berpuasa) - o fi 2 -fi.. fici- (guru-guru (pria) sedang berdiri) (guru-guru (wanita) sedang berdiri) (siswa-siwa sedang bercita-cita) (siswi-siswi sedang bercita-cita) 70 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA B.3.2 Jamak Taksir Jamak taksir berbeda dengan jamak mudzakkar salim yang sudah pasti mudzakkar maupun jamak muannats salim yang sudah pasti muannats. Ini disebabkan karena jamak taksir sendiri terbagi menjadi dua; (1) Jamak taksir lighairil 'aqil dan (2) Jamak taksir lil 'aqil. Kaidahnya adalah: Kaidah Jenis Jamak Taksir Jamak Taksir Lighairil 'Aail dihukumi sebagai muannats. Jamak Taksir Lil 'Aqil untuk muannats dihukumi muannats Jamak Taksir lil 'aoil untuk mudzakkar dihukumi mudzakkar B.3.2.1 Jamak Taksir Lighairil 'Aqil Seluruh jamak taksir lighairil 'aqil dihukumi muannats sekalipun untuk kata yang dalam bentuk tunggalnya adalah mudzakkar. Contohnya <Jc£ adalah mudzakkar. Namun ketika berubah menjadi bentuk jamak taksirnya CjS maka dianggap muannats. Silahkan perhatikan tabel berikut: Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 71 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Mufrad Jamak Taksir (_jaju i rj-J-^ ^iviaia setiang menangis ) c«*«ui ^/\njmg setiang ueriarij UlOOI XmAj ^DUKU Seliang miangj J» * ^ f » - J£*Uv**J 1 y *— ^ J ^IVlabJlCl Setiang DaliyaKj 0 j7t**Jl ^wwU ^1 OilOil ScCIallg lUTTlDUIl j (Sungai sedang mengering) . ^ . t c jLJJ isi «jj aji r>fl<«n ^L/aun setiang oerguguranj o jOjji tt-u2,o ^ounga setiang uerme Karang ^ t , !• U v'* i*i JjJiJI £^ (Hati sedang khusyu) jli3Jl j^*^ (Jiwa sedang tenang) B.3.2.1 Jamak Taksir LU 'Aqil Jenis jamak taksir lil 'aqil ditentukan dari jenisnya ketika mufrad. Artinya, bila ketika mufrad dihukumi mudzakkar, maka ketika berubah menjadi jamak taksir tetap dihukumi mudzakkar. Begitupun dengan yang muannats. Silahkan perhatikan tabel berikut: 72 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Tabel Jumlah Fi'liyyah Jamak Taksir LU 'Aqil Mudzakkar Mufrad Jamak Taksir i— *w UaJ t , yWiS^; ^OcL/ldllti OlWct oUL4 c41 1 ti L4 Ll Ll Ll tvy j*^\m*J) A^UJULJ ^OcL/ldllci pcCldcidl l& SCCldllci ICl 3tl IV Lili l^ ■M ^ ^ti -* 5 ^ ? t -* » «" A ' p&JU ^JcUl di Iti odLlCLdld ocCldllti UclLllllJ • Mi >s -' i2 * i \ t V* ^ * Orancr Vaua i i coH ancr mi ili a\ / 1 ?«SU ^V^ldllti j\.dyd UU ocUdllti iilLllld^ o'" "? 8 ** i i flll i r — ■ » ( (iT"?in Cr faViT" co «H ancr natiuaVl fUwwl rdJ l 1 d 1 1 ti ldJS.ll jGCldlltL UdllydiS.( ** * * ' f\ 0 o\\ If. ' —i \ / .y^ \ i (irancr tua if~n cpn ancr Iptyi a n t > B > £ . "J> 8 ^ jj *j\ t .«U ^ Atipik 1 p» K"i —1 p» ki itn QpnanO' nPtTnsini ■^v UI l / v 1 lu I\ 1 C J rx 1 1 Cl rvl ULI D \J \A Cl 1 1 ti JL'L J. 11 Iclll L j uLwaJ) (Seorang tamu sedang datang) i •> i „ j, • - jlfjil t 4~*- l 4 (Seorang teman sedang pergi) TpA <J»J]aj (Orang berhaji itu sedang thawaf) Bila kita perhatikan tabel di atas, terlihat bahwa tidak ada perbedaan fi'il mudhari yang digunakan baik ketika dalam bentuk tunggal (mufrad) maupun dalam bentuk jamak taksir. Karena memang, jamak taksir untuk mudzakkar tetap dianggap mudzakkar. Begitupun dengan jamak taksir untuk kata yang dalam bentuk tunggalnya adalah muannats, maka tetap dihukumi muannats. Perhatikanlah contoh-contoh kalimat pada tabel berikut. Baik ketika mufrad maupun jamak taksir sama-sama menggunakan fi 'il mudhari mufrad muannats. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 73 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Tabel Jumlah Fi'liyyah Jamak Taksir LU 'Aqil Muannats www.programbisa.com Mufrad Jamak Taksir (Seorang janda sedang menangis) (Seorang hamba wanita sedang berdiri) (Seorang perawan sedang tersenyum) (Seorang wanita telah pulang) C. Fi'iZ Amar Fi'il amar agak berbeda dengan /z'z7 madhi dan fi'il mudhari' karena fail (subjek) nya telah melekat dengan /z'z'mya. Ketika kita mengatakan jli*-! (duduklah!) kepada lawan bicara, maka yang diminta untuk duduk adalah lawan bicara (Kamu). Sehingga jlL>l meskipun terlihat satu kata, namun pada hakikatnya tersusun dari dua kata yaitu dan co I sehingga ini memenuhi persyaratan kalimat yang harus tersusun minimal dari 2 kata. Karena fa' U sudah melekat dengan fi'il amar, maka keenam tashrif fi'il amar digunakan sesuai dengan banyaknya pelaku yang diminta untuk melakukan sesuatu. Contohnya untuk kata perintah jlL?4 maka ada 6 kalimat yang bisa digunakan, yaitu: 74 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Kalimat Dhamit Arti ©s Duduklah kamu (pria) ! \ ' L-Ll Duduklah Kalian berdua ! II * iL\ Duduklah kalian! C^w 1 1 lllHllL'I'in 1 TA7Q'nil"Cl 1 I L/UClU-ivlclll ivallLU- ^WdlllLaj I Usil Duduklah Kalian berdua ! Duduklah kalian! 2.1.2 Pola Kalimat Fi'il Muta'addiy Fi'il muta'addiy adalah fi'il yang butuh objek (maful bih). Oleh karena itu, bila kita menyusun kalimat dengan fi'il muta'addiy maka kita harus menyebut objek yang disebut maful bih dalam Bahasa Arab. Contohnya kalimat "Zaid telah membaca Al Cjur'an": 5!> Objek Subjek Predikat Kata \j> merupakan kata predikat atau kerja lampau (fi'il madhi), Zaid adalah subjek {fa' U) dan Al Cjur'an adalah objek {Maful bih). Susunan kalimat Bahasa Arab memang berbeda dengan bahasa Indonesia yang memiliki rumus Subjek + Predikat + Objek. Beda dengan Bahasa Arab yang memiliki rumus: Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 75 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Fi'il + Fa'il + Maful Uh Predikat (Kata Kerja) + Subjek + Objek Berikut ini kaidah yang berlaku untuk jumlah fi'liyyah untuk fi'il muta'addiy: 1. Fi'il harus sesuai jenisnya dengan fa'il. Bila fa'ilnya mudzakkar, maka fi'ilnya wajib mudzakkar. Sebaliknya jika fa'ilnya muannats, maka fi'ilnya wajib muannats. 2. Fi'il harus dalam bentuk mufrad. Ini berlaku baik untuk fa'il yang mufrad, tatsniyah, maupun jamak. Jadi sekalipun fa'ilnya tastniyah ataupun jamak, fi'il tetap wajib dalam keadaan mufrad. 3. Fa'il harus dalam keadaan rafa' (marfu') Berikut kaidah rafa' untuk mufrad, tatsniyah, dan Jamak: Jumlah Keadaan Ketika Rafa' Contoh Mufrad Dhammah Tatsniyah Bentuk aani ( jl) Jamak Mudzakkar Salim Bentuk uuna (5j) Jamak Muannats Salim Dhammah Jamak Taksir Dhammah 76 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 4. Maful bih harus dalam keadaan nashab (manshub) Berikut kaidah nashab untuk mufrad, tatsniyah, dan Jamak: Jumlah Keadaan Ketika Nashab Contoh Mufrad Fathah Tatsniyah Bentuk aini ( jj) Jamak Mudzakkar Salim Bentuk iina (^j) Jamak Muannats Salim Kasrah Jamak Taksir Fathah 0b 5. Maful bih bisa dari jenis atau jumlah apa saja (disesuaikan dengan konteks kalimat) Berbeda dengan fa 'U dan f i' U yang saling terkait, untuk maful bih sama sekali tidak terkait dengan kondisi fi'il dan fa' U karena memang disesuaikan dengan maksud pembicaraan. Contohnya kalimat: (Zaid membawa dua buku) Tentu kita tidak bisa memaksa maful bihrvya mufrad (IjI^) kalau pada kenyataanya buku yang dibawa memang 2 buah! Artinya, bentuk mufrad, tatsniyah atau jamak bergantung pada kebutuhan. A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 77 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA f KAIDAH JUMLAH FI'ILIYYAH MUTA'ADDIY: 1. Fi'il harus sesuai jenisnya dengan fa'il. 2. Fi'il harus dalam bentuk mufrad. 3. Fa'il harus dalam keadaan raja' (marfu') 4. Maf'ul bih harus dalam keadaan nashab (manshub) 5. Maf'ul bih tidak terkait dengan fi'il dan fa'il Untuk memahami kaidah ini, mari kita latihan menerapkan kaidah tersebut dengan memperhatikan variasi kalimat berikut ini. Dikarenakan kita telah membahas tuntas variasi fa'il pada pembahasan jumlah fi'liyyah fi'il lazim, maka pada contoh jumlah fi'liyyah fi'il muta'addiy, yang dijadikan fokus pembahasan adalah pada maf'ul bihnya. FIRA DAN FARA MANIS MANA? 1. FIRA: Fi'il harus mufRAd 2. FARA: FA'il harus RAfa' 3. MANIS: fi'il dan fa'il itu harus saMA jeNIS 4. MANA: MAf 'ul bih harus NAshab (n RUMUS CEPAT: J 78 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA A. Fi'il Madhi A.l Mufrad Jumlah fi'iliyah untuk fi'il muta'addiy harus tersusun dari fi'il, fa' U, dan maf'ul bih. Sebagaimana disebutkan dalam kaidah bahwa fa' U harus taf a' sedangkan maf'ul bih harus nashab. Ketika rafa', Isim mufrad wajib berharakat dhammah dan ketika nashab, isim mufrad wajib berharakat fathah. Untuk fi'il dan fa' U nya sendiri sudah dibahas pada pembahasan fi'il lazim sehingga tidak perlu dijelaskan kembali di sini. Silahkan perhatikan contoh kalimat pada tabel berikut: Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 79 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Mudzakkar (Zaid telah mengendarai mobil) (Fathimah telah menaiki kuda) (Utsman telah mendengar khutbah) (Aisyah telah mendengar nasihat) (Siswa telah mempelajari bahasa) (Siswi telah mempelajari Al Qur'an) (Guru telah menghapus papan tulis) Aj\iiSsJ\ *CjjJlJI Cs#t*u,« (Guru telah menghapus tulisan) (Ayah telah membersihkan jendela) (Ibu telah mengepel lantai) (Anak laki-laki telah memakan pisang) (Anak perempuan telah memakan jeruk) (Anak kecil telah meminum susu) J» . . (Kakek telah meminum kopi) s» ^ - - (Zaid telah memukul Utsman) *UJ?\I AjUslp CJ^9 (Aisyah telah memukul Fathimah) (Umar telah memberi makan kucing) iiijc»- (Khadijah telah memberi makan ikan) (Pedagang telah menjual baju) (Maryam telah menjual sepeda) 80 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA A.2 Tastniyah Tidak ada pembahasan khusus untuk fi'il muta'addiy yang maf'ul bihnya tastniyah selain bentuk yang digunakan adalah "ayni" bukan "aani". Mudzakkar Muannats (Zaid telah membeli 2 mobil) (Fathimah telah membeli 2 kuda) 'd, i W 1 4 1 * C. <• » . i( (Utsman telah mendengar 2 khutbah) (Aisyah telah mendengar 2 nasihat) > (Dua siswa telah mempelajari 2 bahasa) (Dua siswi telah mempelajari 2 pelajaran) ijw \ y™ **** i ) w^vdj i /um^ (Guru telah menghapus 2 papan tulis) ^j^oUSsJl «UjjJlJI CU?t*w« (Guru telah menghapus 2 tulisan) i TW 1 ^ 1 (Ayah telah membersihkan 2 jendela) 1 :5 * o'*' (Ibu telah membersihkan 2 lemari) aji» jTt (Anak laki-laki telah memakan 2 pisang) j^ui^Ji cJJi dif t (Anak perempuan telah memakan 2 jeruk) (Zaid telah memukul 2 pencuri) (Aisyah telah memukul 2 pencuri) y4Zw Ra^in <& Ummu Ra^in 81 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com (Umar telah memberi makan 2 kucing) (Khadijah telah memberi makan 2 ikan) (Pedagang telah menjual 2 baju) (Maryam telah menjual 2 sepeda) A.3 Jamak A.3.1 Jamak Salim Perhatikan contoh-contoh variasi kalimat berikut ini. Fokus pembahasan pada kalimat berikut adalah pada objek (maful bih) yang datang dalam bentuk Jamak Salim, baik jamak mudzakkar salim maupun jamak muannats salim. Ketika jamak mudzakkar salim menjadi maful bih, maka bentuk yang digunakan adalah yang berakhiran "iina". Karena maful bih harus nashab dan bentuk nashab jamak mudzakkar salim adalah "iina" bukan "uuna". Adapun jamak muannats salim, memiliki kaidah yang agak menyimpang, dimana ketika nashab, malah berharakat kasrah. Silahkan perhatikan tabel berikut. 82 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Mudzakkar Muannats (Zaid telah mencintai kaum muslimin) (Fathimah telah mencintai kaum muslim ah) (Penderma telah memberi makan orang berpuasa) (Penderma telah memberi makan orang berpuasa) (Pak Guru telah mengajar siswa- siswa) (Bu Guru telah mengajar siswi- siswi) (Kaum muslimin telah memerangi kaum murtad) (Kaum muslimah memerangi kaum murtad) (Siswa telah mendengarkan para pak guru) (Siswi telah mendengarkan para pak guru) (Pak dokter memanggil para perawat laki-laki) (Bu dokter telah memanggil para perawat wanita) (Aku melihat para insinyur) (Kamu telah melihat para insinyur) ^jvaiiii teian iiieiiiuKtii para pencuri j (Kami telah memukul para pencuri) (Muslimin memuliakan muslimin yang lain) (Kaum muslimah memuliakan kaum muslimah yang lain A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 83 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com A.3.3 Jamak Taksir Jamak taksir termasuk jenis kata yang perubahannya berdasarkan harakat. Ketika rafa', diberi harakat dhammah dan ketika nashab, diberi harakat fathah. Artinya, bila jamak taksir menjadi fa 'U, maka wajib diberi harakat dhammah dan bila jamak taksir menjadi maful bih maka wajib diberi harakat fathah. Ini berlaku baik untuk jamak taksir lil 'aqil maupun li ghairil 'aqil. Hanya saja, ada perbedaan kaidah terkait dengan bentuk f i 'U yang sesuai. Silahkan merujuk kembali pada pembahasan jamak taksir pada pembahasan fi'il lazim. Berikut ini contoh-contoh kalimat jamak taksir ketika menjadi maful bih dalam kalimat: 84 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Jamak Taksir Lighairil 'Aqil Mufrad Tatncik Talai? cJ^ji ^>J>\ ^y^> (Seorancr Dria telah memukul aniinErl 4^ (Seorans? Dekeria telah membuka Dintu^ (Seorans? siswa telah membersihkan iendela^ juii ^iii jiif (Orang kaya telah mendermakan harta) jtjftt jSst (Seorans? Dedas?an£r telah meniual dasinEr^ (Ibu telah meembeli pakaian) - ' , 2* a - • cZgs\#i\J\j (Seorang anak laki-laki telah melihat bintang) (Utsman telah membaca buku) (Thalhah telah memilih tas) (Seorang insinyur telah membangun rumah) 85 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Kolom sebelah kiri adalah bentuk kalimat ketika mufrad dan sebelah kanan contoh kalimat ketika berubah menjadi jamak taksir. Tidak ada perbedaan untuk harakatnya karena sama-sama berharakat /a£/za/z ketika menjadi maful bih. Jamak Taksir LU 'Aqil Mudzakkar Untuk mendapat variasi kalimat yang lebih lengkap, pada contoh kalimat berikut, Kami sengaja mengelompokkan kolom kanan untuk yang bentuk fa 'U dan maful bihnya mufrad sedangkan kolom kanan untuk yang bentuk maful bih nya jamak taksir. Adapun fa'ilnya diubah ke jamak baik jamak taksir maupun jamak mudzakkar salim untuk menunjukkan bahwa ada kata yang ketika jamak menjadi jamak taksir dan ada juga kata yang ketika jamak menjadi jamak mudzakkar salim. 86 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Mufrad Jamak Taksir J> * * ' iti£u \\~ °,sti 'i (Pak Guru telah mengajar siswa) SiH&W s1t\ 'l e. (Siswa menghormati pak guru) (Orang islam telah meminta fatwa ahli ilmu) <ih\ jJui i'i*t (Anak laki-laki telah memuliakan ayah) * U i 1 J £ « i 1 *-J 1 (Orang tua menyayangi yang kecil) "i Ah \i "wi c. iui (Manusia mentaati pemimpin) :i'l*sli ^l?tl ftlKl (Mujahid memerangi orang kafir) (Orang shalih telah mendoakan orang yang syahid) t ".°..t\\ i?'/A\ 1c.\7„ (Perawat telah membantu dokter) (Aku mencintai anak laki-laki) 87 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Jamak Taksir Lil 'Aqil Muannats Tidak berbeda dengan jamak taksir lil 'aqil mudzakkar, bentuk jamak taksir lil 'aqil muannats juga sama-sama wajib berharakat/flf/ifl/z ketika dalam kedudukan maful bih. Mufrad Jamak Taksir (Islam telah memuliakan seorang wanita) (Pemuda itu telah menikahi perawan) (Aku telah menikahi janda) £ * (Allah telah mencintai hamba wanita) 88 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA B. Fi'il Mudhari' Pada pembahasan tentang fi'il mudhari untuk fi'il muta'addiy ini, Kami tidak mengulang pembahasan karena sudah dibahas pada pembahasan fi 'U madhi. B.l Mufrad Ketika mufrad, menjadi fi'il maka harus berharakat dhammah dan ketika menjadi maful bih harus berharakat fathah. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 89 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Mudzakkar (Zaid sedang mengendarai mobil) (Fathimah sedang menaiki kuda) (Ustman sedang mendengar khutbah) (Aisyah sedang mendengar nasihat) (Siswa sedang belajar bahasa) oljiji S^uSii ^ (Siswi sedang belajar Al Qur'an) (Pak Guru sedang menghapus papan tulis) (Ibu guru telah menghapus tulisan) (Ayah sedang membersihkan jendela) > (Ibu sedang mengepel lantai) (Anak laki-laki sedang memakan pisang) ''-'-'a. 9 o 4 > i'*-' JU3#I cjJI J5 L" (Anak perempuan sedang memakan jeruk) (Anak kecil sedang meminum susu) (Kakek sedang meminum kopi) iZjaici seuang memuKui ustman^ (Aisyah sedang memukul Fathimah) (Umar sedang memberi makan kucing) (Khadijah sedang memberi makan ikan) (Pedagang sedang menjual baju) (Maryam sedang menjual sepeda 90 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA B.2 Tastniyah Ketika tatsniyah menjadi fa' U maka harus dalam bentuk "aani', sedangkan bila dalam kedudukan maf'ul bih, harus dalam bentuk "aini". Mudzakkar Muannafs jjAjjLwuJi -uj (jjj«uii (Zaid sedang membeli 2 mobil) (Fathimah sedang membeli 2 kuda) (j^i ; a (jLait ^utsman sedang mendengar 2 khutbah) sedang mendengar 2 nasihat) jUaill jUJUaJl (Dua siswa sedang belajar 2 bahasa) j^jjoJl jlibJUaJl ^\jc3 (Dua siswi sedang belajar 2 pelajaran) jojjllJl (jujJuJl ^>M.aj (Pak guru sedang menghapus 2 papan tulis) j^olii^M iljJuJl ^ImJ (Bu guru sedang menghapus dua tulisan) joiilSJl oSlI L-aJalj (Ayah sedang membersihkan 2 jendela) i_ a h (Ibu sedang membersihkan 2 lemari) (Anak laki-laki sedang memaka 2 pisang) (Anak perempuan sedang memakan jeruk) jOjLlJl Joj Oj^i (Zaid sedang memukul 2 pencuri) j-aijllJl A-iilc 4ir^ (Aisyah sedang memukul 2 pencuri) (Umar sedang memberi makan 2 kucing) (Khadijah sedang memberi makan 2 ikan) (Pedagang sedang menjual 2 baju) (Maryam sedang menjual 2 sepeda) Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 91 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com B.3 Jamak B.3.1 Jamak Salim Ketika menjadi fa'il, jamak mudzakkar salim harus dalam bentuk "uuna" sedangkan ketika menjadi maful bih, harus dalam bentuk "iina". Adapaun jamak muannats salim, ketika menjadi fa'il wajib berharakat dhammah dan ketika menjadi maful bih harus berharakat kasrah. 92 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Mudzakkar Muannats ^ o . s > t . 9 * * t * (Zaid sedang mencintai muslimin) ^ 0>. > ^ . t * i oLL«-JI i^bli C^- (Fathimah mencintai para muslim ah) (Penderma sedang memberi makan orang berpuasa) (Penderma sedang memberi makan orang berpuasa) (Pak Guru sedang mengajar 2 siswa) (Bu guru sedang mengajar para siswi) (Kaum muslimin sedang memerangi kaum murtad) (Kaum muslimah sedang memerangi kaum murtad) (Siswa sedang mendengarkan para pak guru) (Siswi sedang mendengarkan para bu guru) ( Pak Dokter sedang memanggil para perawat) oLi>J^Jl ijlJaJI ij^Lj (Bu dokter sedang memanggil para perawat) (Kamu sedang melihat para insinyur) oLjJw^JI jjjJa-o (Kamu sedang melihat para insinyur) (Kamu sedang memukul para pencuri) o\3jLLJl j«a> (Kamu sedang memukul para pencuri) J^a-Lu. J 1 (3j.«.Lu. J 1 1± (Orang muslimin memuliakan muslimin yang lain) oL.Lu.Jl oL.Lu.Jl j»j^=o (Para muslimah sedang memuliakan muslimah yang lain) v4## Ra^in <& Ummu Ra^in 93 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com B.3.2 Jamak Taksir Jamak taksir sama dengan mufrad dimana ketika menjadi fa'il harus berharakat dhammah adapun ketika nashab harus berhar akat fathah. Jamak Taksir Lighairil 'Aqil Khusus untuk jamak taksir lighairil 'aqil, semuanya dihukumi sebagai muannats sekalipun untuk kata yang ketika mufradnya berjenis mudzakkar. Akan tetapi, ketika menjadi maful bih, maka ketentuan ini tidak perlu diperhatikan. Karena dalam jumlah fi'liyyah, yang harus sama jenisnya adalah fi'il danfa'il saja. 94 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Mufrad Jamak Taksir C^OOl jJJ^-jJI Uit^J (Seorang pria sedang memukul anjing) ,',stc\i IijL'U /, li ."«Ml \*\m\\ L'\\ OUJI 7r.*.8j (Seorang pekerja sedang membuka pintu) \\'»y-\\ *A\tA\ , ifc'A lili? U t iMktl , S!v1 (Seorang siswa sedang membersihkan jendela) JUJI £j*J> (Orang kaya sedang mendermakan harta) Ull*sll 2l'*e*sll "S°^ (Seorang pedagang sedang menjual daging) - > i' , - - (Ibu sedang meembeli pakaian) (Seorang anak laki-laki sedang melihat bintang) > ."sl-Ctl *«l"*e. r* si (Utsman sedang membaca buku) A S*^l . \ (Thalhah sedang memilih tas) t' iud.1 iilU (Seorang insinyur sedang membangun rumah) Pada tabel di atas diberikan contoh kalimat yang/a'z7 dan maful bih nya mufrad di kolom kiri, sedang di sebelah kanan 95 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com diberikan contoh kalimat yang fa' U dan maful bihnya jamak, baik jamak taksir maupun jamak mudzakkar salim. Tidak ada perbedaan kaidah pemberian harakat antara jamak taksir lighairil 'aqil dengan jamak taksir lil 'aqil karena perbedaannya hanya pada hukum seputar jenisnya apakah ia termasuk mudzakkar ataukah muannats. Silahkan perhatikan contoh-contoh kalimat berikut ini: 96 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Jamak Taksir LU 'Aqil Mudzakkar Mufrad iUWI / lili Tutncik T diedit (Pak Guru sedans? menEraiar siswa- (Siswa sedans? menghormati Dak Eruru^ (Orang islam meminta fatwa ahli ilmu) (Anak laki-laki sedang memuliakan ayan) (Orans? tua menvavancri vans? kecil- (Manusia sedang mentaati pemimpin) (Mujahid sedang memerangi orang kafir) (Orang shalih sedang mendoakan orang yang syahid) C^JaJl ji?^Ul ±s»\1a (Perawat sedang membantu dokter) (Aku mencintai anak laki-laki) 97 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Jamak Taksir LU 'Aqil Muannats Mufrad Jamak Taksir (Islam sedang memuliakan seorang wanita) ftCtf\ ^j=L (Pemuda itu sedang menikahi perawan) (Aku sedang menikahi janda) lh\ 4AJI cJ, S * (Allah sedang mencintai hamba wanita) 98 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA C. Fi'il Amar Perhatikan kata kerja perintah (fi'il amar) pada tabel berikut ini. Seluruh maf'ul bih (Objek) dalam kalimat berikut berharakat fathah. Ini dikarenakan maful bih wajib dalam keadaan nashab dan fathah adalah tanda asal nashab. Isim mufrad termasuk isim yang ketika nashab wajib berharakat fathah. Kalimat Arti Hidupkan lampunya! Matikan lampunya! Buka pintunya! Tutup pintunya! Dorong pintunya! Tarik Pintunya! Ambilkan piringnya! Masak nasinya! Pel lantainya! Bersihkan jendelanya! Rapihkan kasurnya! i^-LUl L yjS \ Sapu halamannya! Jemur bajunya! Cuci bajunya! Setrika bajunya! Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 99 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Semua contoh kata perintah di atas datang dalam dhamir kata ganti orang kedua tunggal laki-laki (^"1 ). Artinya bila objek yang diperintah adalah dhamir mukhathab yang lain, maka harus mengikuti tashrif lughawi j "i' 'U amar untuk setiap dhamir. Contohnya untuk kata perintah ^UJaJl ji-i (hidupkan lampunya!): Kalimat Isim Dhamir tol st> * 2 ' ^U.sla.Jl I^JJLi ■i'? Jol 100 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 2.2 Jumlah Ismiyyah Jumlah ismiyyah adalah kalimat yang didahului oleh isim. Pola kalimat jumlah ismiyyah adalah sebagai berikut: Isim yang pertama disebut dengan Mubtada dan isim yang kedua disebut khabar. Mubtada adalah kata / objek dalam bentuk isim yang ingin dijelaskan sedangkan khabar sesuai dengan namanya adalah kabar atau penjelasan dari kondisi, keadaan, jabatan, atau penjelasan dalam bentuk apapun dari objek yang sedang dijelaskan (mubtada). Contohnya: Maka Zaid adalah objek atau isim yang ingin dijelaskan, sedangkan muslim adalah kabar atau penjelasan dari keadaan Zaid yang beragama Islam. Contoh lainnya: Kata "Ini" merupakan mubtada, yaitu sesuatu yang ingin dijelaskan, sedangkan Zaid adalah penjelasan yang menerangkan bahwa yang sedang ditunjuk adalah zaid. Contoh lainnya: ISIM + ISIM Mubtada Khabar (Zaid adalah muslim) 9° * - Juj iJJfc (Ini adalah Zaid) Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 101 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com (Dia adalah Zaid) Kata "Dia" adalah mubtada sedangkan Zaid adalah penjelasannya. Dari kalimat ini dipahami bahwa nama "dia" yang sedang dibicarakan dalam kalimat tersebut bernama Zaid. Lainnya: (Orang islam itu baik) Kata "Muslim" dalam kalimat tersebut adalah mubtada, yaitu kata atau objek yang ingin dijelaskan. Sedangkan "Baik" merupakan penjelasan dari sifat muslim. Dari contoh-contoh di atas, Jumlah ismiyyah bisa dari kombinasi isim + isim dari jenis apapun. Artinya, bisa saja mubdatanya isim 'alam (nama orang), atau isim isyarah (kata tunjuk), isim dhamir (kata ganti), atau isim jenis apapun yang sesuai dengan konteks pembicaraan. 102 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA KAIDAH PENYUSUNAN JUMLAH ISMIYYAH KAIDAH JUMLAH ISMIYYAH 1. Mubtada dan Khabar harus raja' 2. Mubtada dan Khabar harus sama dari sisi jenis dan jumlah 3. Mubtada harus ma'rifah Ada 3 Kaidah dalam menyusun jumlah ismiyyah: 1. Mubtada dan Khabar harus rafa' Baik mubtada maupun khabar sama-sama harus dalam keadaan rafa'. Berikut kaidah rafa' yang perlu diperhatikan: Jumlah Keadaan Ketika Rafa' Contoh Mufrad Dhammah Tatsniyah Bentuk aani ( jl) Jamak Mudzakkar Salim Bentuk uuna (5j) Jamak Muannats Salim Dhammah Jamak Taksir Dhammah 2. Mubtada harus isim ma'rifah Isim Ma'rifah adalah kata khusus. Silahkan baca kembali tentang pembahasan isim ma'rifah di bab 1 buku ini. Mubtada' Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 103 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com wajib dalam keadaan ma'rifah. Sedangkan khabar hukum asalnya adalah nakirah, kecuali untuk isim-isim yang dari asalnya ma'rifah (Isim 'Alam, Isitn Isyarah, dan Isim Dhamir). Contoh jumlah ismiyyah yang benar: \jjt> (Ini adalah buku) Kalimat di atas, mubtadanya adalah kata "\lf>". Kata ini adalah isim isyarah. Isim isyarah merupakan ma'rifat. Kemudian kata "u^" adalah khabarnya. Ia adalah nakirah karena tidak dilekati alif lam (al). Sehingga memenuhi syarat jumlah ismiyyah. Bolehkah bila kata "<J&" datang dalam keadaan ma'rifah? Contohnya kalimat berikut: (Buku ini ...) Jawabannya tidak boleh, Karena bila kata "buku" datang dalam keadaan ma'rifah, maka makna kalimatnya bukan "Ini adalah buku" melainkan "Buku ini..". Kalimat "buku ini.." malah bukan kalimat yang sempurna dikarenakan masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut; kenapa buku ini? Misalkan dijelaskan seperti kalimat berikut: (Buku ini baru) barulah kalimat tersebut menjadi kalimat yang sempurna. Apakah setiap kalimat yang mubtada nya isim isyarah seperti contoh di atas, khabarnya wajib nakirah? Jawabannya tidak. 104 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Karena telah dijelaskan sebelumnya bahwa khusus untuk isim yang dari asalnya ma'rifah, maka tidak mengapa menjadi khabar meskipun dalam keadaan ma'rifah Karena itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan menjadi nakirah. Contohnya: (Ini adalah Zaid) Maka kalimat di atas telah memenuhi syarat jumlah ismiyyah karena mubtadanya ma'rifah dan khabarnya sekalipun ma'rifah tapi tetap diperbolehkan berdasarkan kaidah. 3. Khabar harus sama dengan mubtada dari sisi jenis dan jumlah Bila mubtadanya mufrad dan mudzakkar, maka khabarnya wajib mufrad dan mudzakkar. Begitupun bila mubtadanya muannats dan tastsniyah, maka khabarnya harus muannats dan tastniyah. Perhatikan contoh-contoh berikut: Jenis Mudzakkar Muannats Mufrad Tatsniyah Jamak Salim Jamak Taksir Perhatikanlah bahwa semua contoh kalimat di atas, khabar dan mubtada nya dalam keadaan yang sama baik dari A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 105 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA sisi jenis maupun jumlah. Untuk lebih menajamkan pemahaman tentang jumlah ismiyyah, silahkan perhatikan variasi contoh kalimat berikut ini: MADU MANIS DARI MALANG 1. MADU: MArfu' keDUanya 2. MANIS: Mubtada dan khabar itu harus saMA jeNIS 3. DARI: MubtaDA harus ma'RIfat 4. MALANG: SaMA biLANGan jumlahnya RUMUS CEPAT: 106 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 2.2.1 Mufrad Mudzakkar Muannats 2- - • . ' (Ini adalah buku) (Ini adalah penghapus) <s A i ftl t / i i I 'C (Itu adalah pulpen) (Itu adalah jendela) S LJ2J 1 )JJ& 9 * - iVL& D-*JB (Ini adalah hidung) (ini adalah mata) (Itu adalah mulut) (Itu adalah telinga) >hamir 9 ' >- ^> i ^ , , fa (Dia adalah Pak dokter) (Dia adalah Bu dokter) W S U'* ^ / ** \\ (Kamu (pria) itu rajin) (Kamu (wanita) itu rajin) 'Alam ^Zjaiu itu musiini/ (Fatimah itu muslimah) > S (Usamah itu pintar) (Hindun itu pintar) s iS -! i'l-» f, s i,» (Utsman adalah pedagang) (Khadijah adalah pedagang Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 107 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com (Taman itu bagus) (Kebun itu bagus) 'Mi (Purnama telah muncul) hiu; *. t %\\ (Matahari telah terbit) ilekati 'V (Kereta itu cepat) (Mobil itu cepat) Isim yang d s * t-tt (Pintu itu terbuka) (Jendela itu terbuka) l . a t V '"w \ 1 (Masjid itu jauh) (Sekolah itu jauh) (Susu itu panas) (Kopi itu panas) Perhatikan contoh-contoh kalimat di atas, semua mubtada dan khabarnya berharakat dhammah karena isim mufrad ketika raja' berharakat dhammah. Namun ada keanehan yaitu pada isim isyarah dan isim dhamir yang tidak berharakat dhammah. Ini dikarenakan isim isyarah dan isim dhamir termasuk isim mabniy, yaitu isim yang tidak dapat berubah. Artinya, isim-isim tersebut selamanya akan datang dalam bentuk seperti itu. Misalnya kata Ja selamanya akan berharakat jathah dan tidak mungkin berubah menjadi y> atau y> . 108 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 2.2.2 Tatsniyah Mudzakkar Muannats iyarah (Ini adalah 2 buku) jll^wl^a jl£ft (Ini adalah 2 penghapus) Isim h jUii JJui (Itu adalah 2 pulpen) j\j jili duU (Itu adalah 2 jendela) ihamir jLlJ» (Mereka berdua Pak dokter) jl£Lis lift (Mereka berdua adalah Bu dokter) S jlj^L^ (Kalian berdua (pria) itu rajin) j\j j^iLS- Uiji (Kalian berdua (wanita) itu rajin) (2 Taman itu bagus) (2 Kebun itu bagus) 'ilekati " (2 Kereta itu cepat) (2 Mobil itu cepat) P toC C n >> S (2 Pintu itu terbuka) (2 Jendela itu terbuka) (2 Masjid itu jauh) (2 Sekolah itu jauh) Ketika tastniyah dalam keadaan rafa', maka wajib dalam bentuk "aani" bukan "ayni". Ketika mubtadanya tatsniyah, maka khabarnya juga wajib tatsniyah berdasarkan kaidah. A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 109 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 2.2.3 Jamak Salim Nludzakkar Mudtitiuts -s <s « >> (Ini adalah muslimin) sim h W Li V »VA a www A 1 (Itu adalah para insinyur) >hamir *i m _ t \ y* • f ** s\ - » \ ^ * M (Mereka berpuasa) W S •v* i? --e- 9 ^ > (Kalian rajin) t >*> * '.' T » f.S^U i ** i \ * , ,y» «A j ** _S l A ISk \ i (Kaum kafir itu dimurkai) v..ti .;a'/i.V.ii _*^\ .vO » 1 ... . \ 1 (Kaum muslimin berpuasa) J3 •i—i +^ ns (Para insinyur itu belajar) ■ H 0 C M (Para Pak guru itu rajin) Isim (Para pegawai itu baru) 9 J' > > \ (Orang-orang yang berdiri itu adalah dokter) 110 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Tabel di atas berisi contoh jamak mudzakkar salim dan jamak muannats salim ketika menjadi mubtada maupun khabar. Hal yang harus diperhatikan adalah, hukum asalnya, mubtada dan khabarnya harus sama-sama dalam bentuk jamak mudzakkar salim atau sama-sama jamak muannats salim kecuali untuk kata yang bentuk jamak nya adalah taksir maka tidak dapat dipaksakan menjadi salim. Akan tetapi yang penting adalah sama-sama jamak. Contohnya jumlah ismiyyah yang mubtadanya isim isyarah dan isim dhamir seperti contoh di atas atau jumlah ismiyyah yang mubtada nya jamak mudzakkar salaim tetapi khabar jamak. Contonya kataJoJj> (baru) yang memang jamak taksir nya @ 2 adalah . Kita tidak dapat memaksa mengubah nya menjadi jJjoj*- dan oijoj*- karena kedua bentuk kata ini tidak ditemukan dalam Bahasa Arab. 2.2.4 Jamak Taksir Jamak taksir memilki kaidah khusus ketika digunakan dalam jumlah ismiyyah. Bila jamak taksirnya untuk benda yang tidak berakal (lighairil aaqil), maka khabarnya cukup dalam bentuk mufrad muannats. Contohnya: (Rumah-rumah itu luas) Adapun bila jamak nya untuk yang berakal (lil aaqil) maka khabarnya mengikuti jenis jamak taksirnya. Bila jamak taksir untuk mudzakkar, maka khabarnya jamak mudzakkar salim. Contohnya: A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 111 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com (Pria-pria itu rajin) Bila jamak taksir nya untuk muannats, maka khabarnya adalah jamak muannats salim. Contohnya: 9 f -""'i (pemudi-pemudi itu rajin) Kecuali bila khabarnya merupakan isim yang ketika jamaknya berubah menjadi jamak taksir maka ini digunakan baik untuk jamak taksir lil 'aqil mudzakkar maupun muannats. Contohnya untuk mudzakkar: 9 >> ''tiru (Para siswa itu baru) dan contoh untuk muannats: * £ (Hamba-hamba wanita itu baru) Dikarenakan kata (baru) jamaknya merupakan 9 } > jamak taksir (iJ^>), maka bentuk jamak taksirnya digunakan baik untuk mudzakkar maupun muannats. 112 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA KAIDAH JUMLAH ISMIYYAH JAMAK TAKSIR 1. Bila mubtadanya jamak taksir lighairil 'acjil, maka khabarnya mufrad muannats. 2. Bila mubtadanya jamak taksir lil 'aqil mudzakkar maka khabarnya harus jamak (mudzakkar salim atau taksir sesuai kebutuhan) 3. Bila mubtadanya jamak taksir lil'aqil muannats maka khabarnya harus jamak (muannats salim atau taksir \^^^ sesuai kebutuhan) Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 113 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Untuk lebih memahami kaidah jumlah ismiyyah jamak taksir, silahkan perhatikan contoh-contoh berikut: Jamak Taksir Lighairil Aqil Jenis Mufrad Jamak Taksir -e S 1 C~o IJJb (ini adalah rumah) S | ® ' ' ' Jl> liUi (itu adalah gunung) oli^Jl (buku itu baru) JjJ? (bintang itu indah) F— 1 Js ■ ■■a' Tjpju* obM (Pintu itu terbuka) S' c* t- •» ilekat -L*-llJt (Masjid itu dekat) ^ang d Ajum\j a—jJjlJI (Sekolah itu luas) Isim j Jjjls^Jt (Sungai itu panjang) jCJai (JJJiJl (Hati itu tenang) 4.«. Jas ojJJJl JjIj *UjI (Air itu dingin) Perhatikan contoh kalimat di atas. Ketika dalam bentuk jamak taksir, maka semua khabarnya dalam bentuk mufrad muannats sekalipun untuk kata yang ketika tunggal dihukumi mudzakkar. Jamak Taksir LU Aqil Silahkan perhatikan baik-baik tabel berikut dan bandingkan kalimat-kalimat berikut dari bentuk mufrad ke 114 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA jamakbaik untuk yang mudzakkar maupun muannats. Jenis Mufrad Mudzakkar Jamak Taksir Mufrad Muannats Jamak Taksir iyarah (la (Ini adalah siswa) ©J^.gI oJcft (Ini adalah wanita) Isim It (Itu adalah ayah) > iL«jl <jJJu (Itu adalah janda) > >hamir (Dia adalah hamba laki-laki) v •-• s * (Dia adalah hamba wanita) Isim L 'i" i ) \ (Kamu adalah pedagang) °M s£ © °£ ol^^l Oo 1 (Kamu adalah wanita) 9 . A (Saya adalah seorang laki-laki) 0* 0 '£ si^jui (Saya adalah wanita) ilekati "Al" (Anak laki-laki itu kecil) * • . ' -''t (Hamba wanita itu kecil) Isim yang d (Lelaki itu besar) JUv s Ji Sj^Lo el^a il (Wanita itu besar) JlJlSI ( Hamba laki-laki itu berpuasa) s , „ f (Hamba wanita itu berpuasa) v4## Ra^in <& Ummu Ra^in 115 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com TANBIH (PERHATIAN) Terkadang ditemukan kalimat yang terkesan tidak mengikuti kaidah jumlah ismiyyah, seperti: :syui) jfij; jSuSJt "Cerai (yang dapat rujuk) itu dua kali. " (Al Baqarah: 229) Kata jMJsLSl merupakan mufrad sedangkan adalah tatsniyah. Padahal mubtada dan khabar harus sama jumlahnya. Kalimat semacam ini tidak wajib mengikuti kaidah karena memang maksud dari kalimat ini adalah pemberitahuan tentang hukum cerai yang dapat dirujuk itu adalah sebanyak 2 kali. Tentu kita tidak dapat memaksakan kalimatnya menjadi: (Cerai itu sekali) Kalimat kedua ini benar secara kaidah tapi tidak sesuai konteks kalimat yang dibicarakan. Kalimat kedua ini sekaligus menjadi contoh lain kalimat yang terkesan menyalahi kaidah. Kata j!>UaJl merupakan mudzakkar sedangkan ly> adalah muannats. Ini terjadi karena memang Bahasa Arabnya sekali itu adalah >y> . Tentu kita tidak bisa memaksakan untuk membuang ta marbuthahnya menjadi y> saja. Contoh lain dalam hadits Rasulullah: (Puasa adalah perisai) 116 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 9 5 ? Karena Bahasa Arabnya perisai adalah maka kita tidak boleh memaksakan membuang ta marbuthahnya menjadi a»- . Terkadang, kita harus menggunakan logika dalam memahami suatu kalimat atau ketika membuat sebuah kalimat. Karena tujuan kita membuat kalimat adalah agar dapat dipahami orang lain oleh karena itu memahami konteks kalimat sangat penting dalam mempelajari dan menerapkan ilmu nahwu. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 117 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com BAB III KETERANGAN TAMBAHAN DALAM KALIMAT Dalam penggunaan kalimat sehari-hari, kita sering menggunakan keterangan tambahan pada suatu kalimat seperti keterangan tempat, waktu, kondisi, sifat, dan sebagainya. Keterangan ini digunakan untuk memperjelas maksud dari kalimat yang ingin disampaikan kepada lawan bicara. Contohnya kalimat: (Zaid telah berdiri) Kalimat ini bisa diperjelas dengan menggunakan beberapa keterangan kalimat, misalnya: Zaid telah berdiri di depan kelas Zaid yang tinggi telah berdiri Jj*uu^Jl °j Joj pil Zaid telah berdiri di dalam masjid Beberapa contoh kalimat di atas menunjukkan maksud yang lebih jelas dibanding sebelum ditambahkan keterangan tambahan. Dalam Bahasa Arab, ada beberapa jenis keterangan tambahan yang bisa digunakan. Kami telah merangkum beberapa keterangan tambahan yang sering 118 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA digunakan dalam Al Qur'an, hadits, dan percakapan sehari- hari Bahasa Arab yang penting untuk dipahami oleh pemula. Beberapa kata keterangan ada yang majrur dan manshub dan ada juga yang fleksibel tergantung keadaan. Yang jelas, tidak ada keterangan tambahan yang marfu', karena marfu' khusus untuk kata yang menempati jabatan utama dalam kalimat seperi sebagai fa' U, mubtada, khabar dan naibul fa' U. Begitupula tidak ada keterangan tambahan yang mazjum, karena majzum umumnya hanya digunakan untuk penafian fi'il berupa huruf-huruf jazm. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 119 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 3.1 Keterangan Majrur 3.1.1 Jar - Majrur Pada bab 1, kita telah mempelajari huruf jar dan pengaruhnya terhadap suatu kata dalam kalimat. Bila suatu kata didahului oleh huruf jar, maka ia wajib dalam kondisi jar (majrur). Majrur adalah istilah yang digunakan untuk kata yang dalam kondisi jar baik karena didahului oleh huruf jar atau sebab lain yang menjadikannya wajib dalam keadaan jar. Tanda asal jar adalah kasrah. Oleh karena itu, banyak kata dalam Al Qur'an yang berharakat kasrah apabila didahului oleh huruf jar sebagaimana yang telah disebutkan contohnya pada bab 1. Akan tetapi karena tidak semua kata mu'rab dengan harakat, selain kasrah, tanda jar adalah "ya" dan juga "fathah" . Silahkan perhatikan tabel berikut: Jumlah Keadaan Ketika Jar Contoh Mufrad Kasrah Tatsniyah Bentuk aini ( jj) Jamak Mudzakkar Salim Bentuk iina (^>) Jamak Muannats Salim Kasrah Jamak Taksir Kasrah Isim Ghairu Munsharif Fathah 120 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Untuk kata yang mu'rabnya dengan huruf, ketika jar tanda l'rabnya adalah "ya" seperti tatsniyoh (ayni) dan jamak mudzakkar salim (iina). Adapaun untuk yang mu'rabnya dengan harakat (isim mufrad, jamak taksir, dan jamak muannats salim), semuanya berharakat kasrah kecuali isim ghairu munsharif. Ketika jar, isim ghairu munsharif berharakat fathah. Dalam menyusun kalimat, kita bisa menggunakan huruf jar sebagai keterangan tambahan untuk kalimat. Silahkan perhatikan contoh-contoh berikut untuk mengetahui peran huruf jar dalam suatu kalimat. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 121 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com No. Bilangan Majrur Contoh Kalimat jjdcf iLl^ 1 Mufrad /T/'l J'" 1 "■_ — 1 _ * 1 \ (Knadijan itu cantik bagaikan purnama) (Saya telah pergi ke perpustakaan) 2 Tatsniyah (Hamid adalah guru di dua sekolah) jOiL^Jl ^j£- A^ll C^Wo (Fathimah mendengar kabar dari dua orang jujur) Jamak Mudzakkar Salim 3 (Puasa adalah perisai bagi orang berpuasa) (Ibu memasak nasi untuk orang berpuasa) Jamak Muannats Salim 4 (Hijab itu wajib atas musliman) (Aku berpapasan dengan siwsi-siswi) 5 Jamak Taksir (ranglima sedang mencari para laki-laki) (Para pedagang pulang dari pasar-pasar) 6 Isim Ghairu (orang-orang berhaji pergi ke mekkah) Munsharif ^ 0 f 9 ° ° ;Z ^ (Hindun berpapasan dengan Ahmad) 122 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 3.1.2 Keterangan Kepemilikan dan Peruntukan (Mudhaf- Mudhafllaih) Mudhaf-mudhaf ilaih adalah frasa (susunan kata) yang terdiri dari dua isim. Meskipun terdiri dari dua isim, susunan mudhaf - mudhaf ilaih bukanlah sebuah kalimat yang sempurna seperti mubtada - khabar. Karena frasa mudhaf - mudhaf ilaih biasa digunakan untuk menjelaskan kepemilikan atau asal dari isim yang pertama (mudhaf). Isim yang pertama yang ingin dijelaskan disebut dengan mudhaf dan isim yang kedua sebagai penjelasan disebut dengan mudhaf ilahi. Mudhaf. Misalkan dalam bahasa Indonesia, kita kenal frasa cincin emas (cincin dari emas), pintu jati (pintu dari jati), buku Zaid (buku milik Zaid), dana ummat (dana milik ummat), dan sebagainya. Contoh mudhaf - mudhaf ilaih dalam Bahasa Arab: 4*^ Buku Zaid Dalam frasa di atas, kata "<J(&" disebut dengan mudhaf, sedangkan "-Uj" disebut dengan mudhaf ilaih. Ketika kita menyebutkan "il>\sS" saja, maka cakupannya masih umum (nakirah), bisa buku tentang apa saja atau buku milik siapa saja. Namun ketika kita menyebutkan mudhaf ilaihnya, maka jelas kepemilikan dari buku tersebut. Selain kepemilikan, mudhaf ilaih juga berfungsi untuk menjelaskan "peruntukan". Contoh: z&\ 4*13' Buku bahasa A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 123 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Mudhaf ilaih dalam frasa di atas berfungsi sebagai penjelasan peruntukan buku yang sedang dibicarakan. Buku untuk bahasa. Bukan buku untuk sejarah, matematika, dan sebagainya. Karena sebetulnya, susunan mudhaf-mudhaf ilaih mengandung makna "J / untuk ". Sehingga asalnya, bentuk kedua frasa di atas adalah: (buku nya zaid) (buku untuk bahasa) Selain memiliki kandungan makna "J / untuk ", mudhaf- mudhaf ilaih juga mengandung makna " j* / dari". Contohnya Cincin emas Maka bentuk asalnya sebetulnya adalah: Cincin dari emas 124 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Kaidah Mudhaf- Mudhaf Ilaih 1 . Mudhaf tidak boleh bertanwin Mudhaf tidak boleh bertanwin 18 baik dhammatain, kasratain, maupun fathatain. 2. Mudhaf tidak boleh dilekati "al" Selain tidak boleh bertanwin, mudhaf juga tidak boleh dilekati al. 3. Mudhaf ilaih harus dalam keadaan jar (majrur) Isim kedua yang berfungsi sebagai penjelas (mudhaf ilaih) harus dalam keadaan jar sesuai dengan kondisi mu'rabnya. 4. Mudhaf 'boleh rafa' , nashab, dan jar sesuai kebutuhan. Berbeda dengan mudhaf ilaih yang wajib dalam keadaan jar, mudhaf tidak wajib dalam keadaan tertentu karena disesuaikan dengan kebutuhan. Ini dikarenakan mudhaf itu pasti telah menempati kedudukan lain. Contohnya: Tidak bertanwin di sini bukan berarti mudhaf harus isim ghairu munsharif, akan tetapi yang dimaksud adalah isim yang menjadi mudhaf (munsharif apalagi ghairu munsharif) tidak boleh ditanwinkan Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 125 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Dalam keempat contoh di atas, kita bisa melihat bahwa mudhaf pada contoh pertama menjadi khabar (marfu'), contoh kedua menjadi fa'il (marfu'), contoh ketiga menjadi maful bih (manshub), dan contoh keempat menjadi jar majrur. Silahkan perhatikan contoh-contoh pada table berikut untuk memahami fungsi mudhaf - mudhaf ilaih dalam suatu kalimat: 126 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA No. Bilangan Mudhafilaih Contoh Kalimat 1 Mufrad (Bukunya zaid itu baru) (Ibunya Hamid adalah bibinya Mahmud) ^ o > ° ^ ° ^tKtl £ ° « J ^J^W« ^JJ|yl LSJ^* 2 Tatsniyah (Mendurhakai kedua orang tua itu terlarang) (Siswa membeli kamus 2 bahasa) 3 jamak Mudzakkar Salim (Aisyah adalah Ibu kaum mu'minin) (Doa adalah senjata kaum muslimin) 4 Jamak Muannats Salim /Al 1*1 i_ 1 1 *\ (Aku melihat ayah-ayahnya para siswi) (Tekad para siswi itu kuat) (Utsman adalah siswa terpandai) 5 Jamak Taksir ( Aku menghafal Al Qur'an di sekolah para huffadz) 6 Isim Ghairu (Tasnya ahmad itu bagus) Munsharif (Saudaranya aisyah adalah bapaknya utsman) Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 127 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 3.2 Tawaabi' Tawaabi' adalah kelompok jabatan kata dalam kalimat yang tanda I'rabnya tidak mutlak. Kelompok ini berbeda dengan fa' U, mubtada dan khabar yang mutlak harus marfu' dan maf'ul bih yang wajib nashab. Kelompok tawaabi', sesuai artinya adalah pengikut, l'rab dari kelompok tawaabi' mengikuti kata yang diikuti. Tawaabi' ada 4: • Na'at (sifat) • 'Athaf (kata sambung) • Taukid (penekanan) • Badai (pengganti) 3.2.1 Keterangan Sifat (Na'at) Untuk memberikan sifat pada sesuatu, di dalam Bahasa Arab dikenal istilah na'at - man'ut atau shifat - maushuf. Na'at atau shifat adalah sifat sedangkan man'ut atau maushuf adalah kata yang disifati. Contohnya: Maka "Zaid" adalah man'ut sedangkan "yang tinggi" adalah na'at. Bila kita perhatikan, susunan na'at man'ut tersebut mirip dengan susunan mubtada - khabar. Bila susunan di atas diubah menjadi: Dengan membuang "al ma'rifat", maka maknanya menjadi "Zaid itu tinggi". Artinya, ini merupakan kalimat Zaid yang tinggi 128 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA sempurna dalam bentuk jumlah ismiyyah. Adapun na'at - man'ut hanya f rasa yang tidak memiliki makna kalimat yang sempurna. Ada kaidah yang harus diperhatikan yang dengannya kita bisa membedakan mana susunan na'at man'ut dan susunan mubtada - khabar. Kaidah na'at man'ut adalah: 1. Na'at dan man'ut harus sama jenis Bila man'utnya mudzakkar, maka na'atnya wajib mudzakkar. Sebaliknya jika man'utnya muannats, maka na'atnya wajib muannats. 2. Na'at dan man'ut harus sama bilangan Bila man'utnya mufrad, maka na'atnya wajib mufrad, begitupun bila man'utnya tastniyah atau jamak, maka na'atnya harus mengikuti bilangan man'utnya. 3. Na'at man'ut harus sama dari sisi ma'rifat dan nakirah Bila man'utnya ma'rifat, maka na'atnya wajib ma'rifat. Sebaliknya jika man'utnya nakirah, maka na'atnya wajib nakirah 4. Na'at dan man'ut harus sama dari sisi I'rab Bila man'utnya marfu', maka na'atnya wajib marfu'. Begitupun bila man'utnya manshub atau majrur, maka na'atnya harus menyesuaikan I'rab dari man'utnya. Kesimpulannya, na'at dan man'ut harus sama dari semua sisi berbeda dengan mubtada dan khabar yang hanya harus sama jenis dan bilangannya saja. Mari kita perhatikan tabel berikut untuk memahami penggunaan na'at atau shifat dalam kalimat: Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 129 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com No. Bilangan Na'at Contoh Kalimat 1 Mufrad (Ali yang ganteng itu tinggi) joj^-I oliSOl jajc^I (Saya meminjam buku yang baru) 2 Tatsniyah jljAli jIJ^iLklJl jllj-uJl (Kedua pak guru yang bersungguh-itu pandai) (Aku melihat dua siswi yang rajin) 3 Jamak (orang-orang islam yang beriman itu berihsan) Mudzakkar Salim (Saya melihat orang islam yang shalat di masjid) 4 Jamak Muannats (orang-orang muslimah yang shalihah itu telah shalat) Salim (Aku berpapasan dengan para guru yang pandai) 5 Jamak Taksir (Para siswa yang baru itu dari Negara- negara yang jauh) (Para pedagang yang bersungguh-sungguh itu kaya) 130 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 0 ' ' ~ » k -^\) jj£S\£i\ £ .2 :o\&)UI) a^U-ijS l^^ljlli .5 (r:^)o^Vl4)Jl IJCaj .7 ^\>r 't i' S S ' i' tf\K ' i'.f f" '\ '. 'i < "s OV/ A)Jc5 4«tfU V 9 )/ <w>Ul> UiZjl AO> y /rJ > .8 l' " * - 'i £' l' /l' ' *' i<f P \i *' f •^'T l' r> ^L-ii* ^ ^^Lli L)" ^r?" AK*^ -9 (o -r :2L&liJl) 131 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 3.2.2 Kata Sambung ('Athaf dan ma'thuf) Kata sambung dalam Bahasa Arab disebut dengan huruf 'athaf. Ada 3 istilah yang digunakan untuk susunan 'athaf dan ma'thuf yaitu huruf 'athaf ma'thuf dan ma'thuf 'alaih. Huruf 'athaf adalah kata sambung, ma'thuf adalah istilah yang digunakan untuk kata yang disambungkan sedangkan ma'thuf alaih adalah kata yang dijadikan sandaran untuk disambungkan. Contohnya: j Juj ^»19 (Zaid dan Ahmad telah berdiri) Maka "j" adalah huruf 'athaf dan adalah ma'thuf dan kata "juj"adalah ma'thuf 'alaih, yaitu kata yang dijadikan sandaran ma'thuf. Huruf 'athaf ada 10: 1. j (dan), 2. l3 (maka), 3. p (kemudian), 4. j\ (atau), 5. j»l (ataukah), 6. U} (adakalanya), 7. Jj (bahkan), 8. S (tidak), 9. (akan tetapi), 10. (hingga) 132 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Kaidah yang berlaku pada 'athaf - ma'thuf adalah wajib sama dari sisi I'rab saja. Apabila ma'thuf 'alaih nya marfu', maka ma'thujhya wajib marfu' dan Apabila ma'thuf 'alaih nya manshub, majrur, atau majzum, maka ma'thujhya wajib mengikutinya. Silahkan perhatikan contoh-contoh berikut: • *U*s p A-iilcji A^bli J Juj J l». (Zaid dan fathimah atau aisyah datang kemudian para wanita) • AauL«Jt (j ji^-"**^ j f^*)^ (Aku melihat seorang imam dan kaum muslimin di masjid) I30-I (Kamu telah makan roti ataukah nasi?) • ol^J.HJl J o^UsLSIj ojj^ (Aku berpapasan bersama para siswa dan para ibu guru) • 4*?"!iJ <*f* ^-^[3 0^ y*^ (Mempelajari Al Quran dan Sunnah itu penting dan wajib) Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 133 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com _j .8 134 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 3.2.3 Keterangan Pengganti (Badai) Badai secara bahasa artinya pengganti. Dinamakan demikian karena badai bisa menggantikan posisi kata yang digantikan. Contohnya: Jj-jj Ju^ JIS Telah berkata Muhammad, Rasulullah Dalam kalimat di atas, Kata Jj-jj" disebut dengan badai dan kata "jlL£" adalah mabdul (yang digantikan). Ketika dikatakan "rasulullah" saja, maka yang dimaksud adalah "Muhammad" dan ketika dikatakan "Muhammad" maka yang dimaksud adalah "Rasulullah". Ini adalah fungsi badai yang biasanya menjelaskan posisi atau jabatan dari mabdul. Selain menjelaskan jabatan atau posisi dari mabdul, badai juga digunakan untuk menjelaskan sebagian (setengah, sepertiga, dan sebagainya) dari mabdul. Contohnya: Saya Makan Ikan Setengah (bagian) nya Isim Isyarah dan Badai Bila setelah isim isyarah ada isim yang ma'rifah dengan sebab "al" maka ia pasti menjadi badai. Contohnya: Joo^- \jjs> (Buku ini baru) AiLwUl A^JlJaJl (iUj (Siswi itu rajin) Kata "u>\&\" dan "k^\" menjadi badai sehingga Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 135 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com maknanya menjadi "Buku ini" dan "Siswi itu". Kalimatnya tidak sempurna bila tidak ditambahkan kata lain sebagi khabar. Akan tetapi bila kata "tjlsfil" dan dalam keadaan nakirah, maka ia bisa menjadi khabar sehingga sempurna kalimatnya: (Ini adalah buku) <cJU? (1L)J (Itu adalah siswi) Silahkan perhatikan contoh-contoh berikut: • xAs>- Joj j»b (Zaid, saudaranya Hamid, telah berdiri) • Hit juj (jjtij (Ilmunya Zaid bermanfaat untukku) • ^4 a. ,^3 j»JiJl (Setengah kaum telah dating) • ^jV - (Aku telah melihat mobilnya Zaid) • Jjj dLoU £>jJ-« ( Saya telah berpapasan dengan bapakmu, Zaid) • oliaiJ-l j^ajlJl Jll (Amirul mu'minin, Umar bin Khatthab telah berkata) 136 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Jy.^f 0 JL£ .3 *2~> \j £^>\j ^ ^giW ^^j^Jfc <y_yi JL3J .5 ' ojH Uli .8 «-Uji rHj-J^i? <-£_?-Xe j <jj <j\ ~^>\j tSy^J^ tiyrj^i eS**^ C^t, S+^r W l^r^-^J "^y^i y' Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 137 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 3.2.4 Keterangan Penguat (Taukid) Taukid yang dimaksud di sini bukanlah penguat dari sisi makna seperti penggunaan kata "5}" yang bermakna sungguh. Tetapi khusus untuk penekanan dengan kata-kata berikut ini: jIj&JI (diri) (Zaid telah berdiri, dirinya) • jUil (diri) <U*£. iJoj Co j (Aku telah melihat zaid, dirinya) JS" (seluruh, semua) jLjir ^jiji C013 (Aku telah melihat kaum, seluruhnya) ? • £Jr\ (seluruh, semua) (Aku berpapasan dengan kaum semuanya) Kata "jlubJl" dan " j<*JI" digunakan untuk menekankan bahwa yang dimaksud adalah orang yang sedang dibicarakan, bukan hal lain yang berkaitan dengan dirinya. Misalkan ketika seseorang berkata: <U**AJ Joj 138 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Maka kalimat ini menekankan bahwa yang berdiri adalah si Zaid, bukan anaknya Zaid, istrinya Zaid, atau hal lain yang terkait dengan Zaid. Adapun kata "Js" dan bisa digunakan untuk menekankan bahwa obyek yang tengah dibicarakan adalah seluruhnya, bukan setengahnya atau sebagian darinya. Kaidah yang berlaku untuk taukid adalah: 1. Taukid harus sama Frabnya dengan kata yang diperkuat Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 139 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 140 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 3.3 Keterangan Manshub 3.3.1 Keterangan Penguat (Mashdar) Mashdar yang dimaksud di sini adalah istilah mashdar yang kita temui pada pelajaran ilmu sharaf. Menyebutkan mashdar setelah fi 'z'mya yang satu wazan memiliki 2 faidah: 1. Penekanan Bila kita menyebutkan mashdar setelah fi 'z'mya yang satu wazan, maka ia akan memberikan faidah taukid (penekanan makna). Contohnya: Aku benar-benar memukulnya 2. Penyerupaan Selain untuk penekanan, mashdar juga bisa digunakan untuk penyerupaan. Contohnya: x**i\ Oysb <^yo Aku memukulnya dengan pukulan (terkaman) singa Selain untuk yang satu tashrif mashdar juga berlaku untuk kata yang satu makna sekalipun beda tashrifnya. Contohnya: Saya benar-benar duduk Contoh lain, Saya benar-benar berdiri A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 141 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com ■JL 'C' f- 'e. >J 't/'i s (m :aSLU) 5& SSi J^ff ci£j .3 ijL^JI S^L? ^L^l ^ i .6 (^: CJ i)iJ\!L»!5S5i^5j -9 {xih\ fgy ~6%a &5%& J cJi 13} .10 142 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 3.3.2 Keterangan Waktu dan Tempat (Dzharaf Zaman dan Dzharaf Makan) Keterangan waktu (Dzharaf Zaman) dan keterangan tempat (Dzharaf Makan) yang juga dikenal dengan maf 'ul fiih bisa digunakan untuk menerangkan waktu (pagi, siang, sore, malam, dll) atau tempat (di depan, di belakang, dll). Dzharaf Zaman adalah: • (di hari ini). (Saya pergi ke perpustakaan yang besar hari ini) -"'e-" • (di malam hari) (Fathimah pergi di malam minggu) • «Jjlc. (di pagi hari) Saya berjalan bersama istri saya yang cantik di pagi hari • »J^=>J (di pagi hari) Para pekerja yang rajin berangkat pagi-pagi (di waktu sahur) Imam masjid bangun tidur di waktu ssahur Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 143 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com llc- (besok) Pelajaran mulai besok ^ult (di waktu malam 19 ) 4 -« JL& ^gZtJU Mahmud makan malam di waktu isya L>ll^> (Di waktu shubuh) l>ll^> (Jj*^ ^>J_P^ °jj Saya mengunjungi istri pertama di waktu shubuh t\^J> (di sore hari) pLlwO L\j)3\ L>-J^\ OjJ Saya mengunjungi istri kedua di waktu sore (selamanya) Saya mencintaimu selamanya # * Ij^I (besok-besok) Saya akan pergi ke rumah mu besok-besok lu*- (suatu ketika) Saya akan pergi ke rumah mu suatu saat 19 Sepertiga malam pertama 144 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Adapun Dzharaf Makan adalah: s. • (di depan) Zaid berdiri di depan kelas • i_IU- (di belakang) Kaum muslimini shalat di belakang imm • ^iJli (di hadapan) Saya berjalan di depan ' Aisyah • (di belakang) Saya berjalan di belakang Bakr • (di atas) Saya melihat burung di atas pohon • cJfr (di bawah) Saya tidur di bawa pohon • JCLt (di sisi) Saya bahagia di sisimu Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 145 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com • (bersama) Ali menunggangi kuda bersama Mahmud • (di depan) Saya duduk di depan pintu • (di depan) • * ♦ Saya duduk di depan pintu • £U)J (di depan) Saya duduk di depan pintu • p (di sana) Lihatlah Zaid di sana ua (di sini) Saya tinggal di sini Bila setelah dzharaf, baik dzharaf makan maupun dzharaf zaman, terdapat isim, maka ia dihukumi majrur karena menjadi mudhaf ilaih. Contohnya: o - S (J o 146 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Dan contoh: Maka kata "^s> menjadi mudhafilaih Abu Ra^in & Ummu Ra^in ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com _j (AA : J^iiJl) ^-L?JuJu \ - Lj OJ* ot *^4^ Xp */V5M ^\JJ\ ^^=0 C^bo^JS -4 (U :8 ^O^^^^Dt^"!^ <J?^ ij^U C/jJi ojjt^j UiJJ\ «^^i IV" <-^«^J -6 (W :S _^iJ\) 148 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Abu Ra^in & Ummu Ra^in 149 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 3.3.3 Keterangan Kondisi (Haal) Keterangan kondisi (haal) bisa digunakan untuk menjelaskan kondisi dari subjek (shahibul haal) yang sedang dibicarakan. Misalkan, informasi kedatangan seseorang bisa diperjelas dengan menjelaskan keadaannya ketika datang; apakah jalan kaki atau berkendaraan. Contoh: Zaid telah datang dengan berkendaraan Maka "C$\j" adalah haal yang menjelaskan keadaan atau kondisi, sedangkan shahibul haalnya (pemilik keadaan) adalah "Z'j" Contoh lain: Zaid telah datang dengan tersenyum Kaidah yang berkaitan dengan haal: 1. Haal harus nakirah 2. Shahibul haal harus ma'rifah 150 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Berikut contoh-contoh penggunaan haal dalam kalimat: (Anak itu bangun tidur dalam keadaan menangis) (Manusia keluar dalam keadaan takut) (Zaid masuk kelas dengan tersenyum) (Zaid datang dengan tertawa) # ^> ^ ^ (Hamid menangis karena sedih) (Muslim dilarang minum sambil berdiri) Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 151 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com J^JUj ,>*j .2 ^ C-o^ ajl^aM j[ o^J^\ \_^L^i pUJLd»! lila ^^-=^»^4" t| jbL^J^ i^=t^> LilU ^ bh .6 152 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA (^A :*LjJl) liU^s cA-^i' <3*P"-? f^^-f^o'^'-^ -7 o jiiii ^« ejLsuw l^?^ 9 IjlI*^» cy* -io 'J 153 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 3.3.4 Keterangan Dzat (Tamyiz) Bila haal menjelaskan tentang keadaan atau kondisi, maka tamyiz digunakan ketika kita ingin menjelasakan atau menegaskan dzat atau objek yang dimaksud. Contoh penggunaan tamyiz: uLL oU? Muhammad itu wangi tubuhnya Kata "LJLi" merupakan tamyiz, karena ia menegaskan apa yang wangi dari Muhammad. Karena bisa jadi yang wangi adalahnya pakaiannya, rumahnya, mobilnya, dan lain- lain. Ketika ditambahkan kata "LJLS" maka jelaslah yang wangi adalah tubuhnya. Selain untuk mempertegas, tamyiz juga berfungsi ketika kita ingin menjelaskan benda yang dimaksud setelah penyebutan angka atau jumlah. Contohnya: Aku memiliki 90 ekor kambing Maka kata "&?s*i" disebut dengan tamyiz karena ia menjelaskan dzat yang dimaksud dari kata "90 ekor". Artinya, yang dimaksud adalah kambing bukan kucing, sapi, atau kerbau. 154 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Kaidah yang berkaitan dengan Tamyiz: 1. Tamyiz harus nakirah Berikut contoh-contoh penggunaan tamyiz dalam kalimat: • llji Juj C^ai (Zaid itu mengalir keringatnya) • Ujki ^£=u ULu (Bakr itu berlapis-lapis lemaknya) • lyo jJj-^t c*SjJ*\ (Saya membeli 20 ekor sapi) • u I tili? \ Juj (Bapaknya Zaid lebih mulia darimu 20 ) • l^>j J^l (Wajah Zaid lebih tampan darimu) 20 Terjemah asalnya, Zaid itu lebih mulia darimu, Bapaknya. Artinya yang lebih mulai darimu itu Bapaknya Zaid bukan si Zaid. Kalimat dengan tamyiz bisa digunakan untuk memalingkan maksud dari objek pembicaraan yang sudah sebutkan di awal. Artinya, bukan objek pembicaraanya yang dimaksud melainkan hal lain yang berkaitan dengan objek pembicaraan Abu Ra^in & Ummu Ra^in 155 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 156 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 3.3.5 Keterangan Tujuan (Maful Min Ajlih) Maful min ajlih sesuai namanya adalah maful yang menjelaskan tujuan atau alasan kenapa suatu perbuatan dilakukan. Contohnya: Zaid berdiri untuk menghormati Muhammad Contoh lain: Aku mengunjungimu karena mengharapkan kebaikanmu Kaidah yang berkaitan dengan maful min ajlih adalah ia harus dalam wazan mashdar. Tidak boleh dalam bentuk tashrif yang lain. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 157 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com ■l (M- : f UiVl) jb yo;jU« y^^^-u ljJki-y if-U^S _^-*'J <-k->j>*3 s-(^" J>J ^ g u-< i^jajo'j «y.yaJi i_y*Lfl]^ (»-frj ^rj ^3Jy& Q-~ J ■' 158 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA ^as> Qb <Axpy aZjJJ) axJ-1» *J>ycj 159 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 3.3.6 Keterangan Penyertaan (Maful Ma'ah) Maful ma'ah adalah keterangan yang menjelaskan penyertaan atau kebersamaan. Fungsinya mirip seperti 'athaf - tna'thuf hanya saja ia lebih menekankan penyertaan. Contohnya: Pemimpin dan tentara telah dating Contoh tersebut merupakan contoh 'athaf - ma'thuf. Adapun contoh maful min ajlih: \jjLh\*\? Pemimpin telah datang bersama tentara Dengan memfathahkan "j£isM ", maka maknanya menjadi bersama. Kemudian huruf "J" pada contoh tersebut bukanlah huruf 'athaf yang memiliki arti "dan" melainkan waw ma'iyyah yang memiliki arti "bersama". 160 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA BAB IV VARIASI KALIMAT 4.1 Jumlah Ismiyyah dengan Khabar Majemuk Pada bab 2 kita telah mempelajari bahwa jumlah ismiyyah terdiri dari 2 unsur, yaitu mubtada dan khabar. Dalam penggunaannya sehari-hari, khabar tidak selalu dalam keadaan tunggal seperti pada contoh: Semua khabar di atas terlihat sederhanya karena memang khabarnya tunggal. Kata yang ada setelah mubtada dan marfu' maka sudah pasti menjadi khabarnya. Namun, banyak sekali khabar yang kita temukan dalam Al Quran atau Hadits yang tidak tunggal, contohnya: .'.■5 i ^ <, «t'<^ ^ »^ >*f--' "Dan AZZa/z memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." (Al Baqarah 213) Dalam ayat di atas, lafal Allah adalah mubtada, sedangkan khabarnya adalah "ij-^>" beserta fail dan mafulnya. Artinya yang menjadi khabar bukan hanya 1 kata saja melainkan keseluruhan kata yang menjelaskan tentang keadaan mubtada. Karena memang Khabar ada dua: A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 161 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 1. Khabar Mufrad (Tunggal) Dinamakan khabar mufrad karena memang khabarnya hanya satu kata sederhana seperti contoh-contoh pada bab 2. 2. Khabar Ghairu Mufrad (Majemuk) Ini adalah kelompok khabar yang majemuk karena khabarnya bukan hanya satu kata melainkan dua kata atau lebih yang merupakan frasa atau bahkan kalimat sempurna. Sehingga ada mubtada yang khabarnya merupakan "mubtada khabar" atau bahkan khabarnya "fi'il dan fa'il" . Khabar ghairu mufrad ada empat: 1. Jar dan Majrur Contohnya: J 2. Dzharaf Contohnya: ° * f 9 ° * C«-wJl ^Ul Joj (Zaid di depan rumah) 3. Mubtada Khabar Contohnya: 2 - - - > >2f <s° - <Uuj Ju« 4*ol Joj (Zaid itu ibunya seorang guru) 4. Fi'il dan Fa'il: Contohnya: tji\ >l9 Joj (Zaid itu berdiri bapaknya) 162 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Ketika kita menemukan jumlah ismiyyah yang khabarnya ghairu mufrad, maka yang menjadi khabar bukan hanya satu kata, melainkan keseluruhan kata yang memiliki makna yang utuh. Contohnya: Zaid di dalam rumah Maka kalimat di atas, khabarnya bukan hanya "3" saja atau saja melainkan keseluruhan makna dari "jIjJI £4 ". Oleh karena itu kita katakan bahwa khabarnya adalah jar majrur 3". Begitu juga dengan contoh: 'C- <?°- tji) ^19 Joj Zaid itu telah berdiri bapaknya Maka khabarnya bukan hanya saja atau saja melainkan keseluruhan makna dari ^li". Oleh karena itulah khabar yang semacam ini disebut dengan khabar ghairu mufrad karena yang menjadi khabar bukan kata tunggal melainkan rangkaian dari beberapa kata. Catatan Khusus untuk Jumlah Ismiyyah dengan khabar fi'il dan f a' U Saat mempelajari jumlah fi'liyyah, kita mengetahui bahwa apapun bilangan fa'ilnya, /z'z'Znya tetap mufrad (FIRA). Contohnya: Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 163 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Kaidah tersebut tidak berlaku apabila kita ingin mendahulkan fa'ilnya. Karena ketika fa'ilnya didahulukan, maka berlaku kaidah jumlah ismiyyah yang mana mubtada dan khabar harus MALANG (Sama bilangan). Sehingga kalimatnya menjadi: Silahkan perhatikan contoh-contoh jumlah ismiyyah yang khabarnya ghairu mufrad: 1 °\ j*£ J Juj (Zaid dan Umar di masjid) ». . 'O' ' ' ® o • c«iJl 3 *y*£- (Mahmud bersama istrinya di rumah) • ly»>- Jl«1>- (Hamid itu tulisannya bagus) f? ' fiO' * ^ *T • Ifli A^bli (Fathimah itu rumahnya luas) • djjjj>- ajJu-*i (Mahmud itu mobilnya baru) • XjsS^> i^SC^JI ,JI jllijo jUalijJI jlJUaJI (Dua siswa yang rajin sedang pergi ke perpustakaan yang besar) • x>^>&\ ^1*5 jJlsJI 4^^* (Penuntut ilmu itu telah mempelajari tajwid) • -u*JI aI^J Si^Jll Oj^Ji 3j-»4-*"-»^ (Orang Islam menunaikan zakat pada malam ied) 164 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA ► i Ai^>j j a — V . jtr^ <L£ -^>i «-^J- 5 s-^Lr 'f"" ^*?ir ^r^b (^v^ ^0 CliJ^aK^ «^'iSS^ ^^/fj^jt ... .4 (^t<\ :SyJI) uLjJ^lt^ 4ii!j ... .5 A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 165 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 4.2 Pengembangan Jumlah Ismiyyah (An Nawaasikh) Dalam Bahasa Arab dikenal ada beberapa 'aamil (faktor) yang membuat jumlah ismiyyah menjadi rusak hukumnya. Artinya, ketika ada faktor-faktor ini, maka syarat mubtada dan khabar yang wajib marfu' menjadi berubah. Faktor ini disebut dengan 'aamil nawasikh (faktor perusak). 'Aamil nawasikh ada 3: 1. 5 o dan yang semisalnya 'Aamil ly> dan yang semisalnya menjadikan khabar manshub sedangkan mubtada tetap marfu'. 2. 5i dan yang semisalnya Kebalikan dari 5& dan yang semisalnya, 'aamil 5i dan yang semisalnya menjadikan mubtada menjadi manshub dan khabar tetap marfu' 3. "^Jo dan yang semisalnya 'Aamil "^o dan yang semisalnya menjadikan mubtada dan khabar menjadi manshub. Misalnya untuk jumlah ismiyyah: Zaid itu bersungguh-sungguh Ketika diawali 'aamil 5& menjadi: Zaid itu bersungguh-sungguh 166 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Ketika diawali 'aamil 5} menjadi: Sesungguhnya Zaid itu bersungguh-sungguh Dan ketika diawali amil j& menjadi: Aku menyangka Zaid itu bersungguh-sungguh Abu Ra^in <& Ummu Ra^in ISI ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 4.2.1 5^ dan yang semisalnya (l^l^-ij 5^) 'Aamil 5& dan yang semisalnya menjadikan khabar manshub sedangkan mubtada tetap marfu'. Kata 5 » sendiri merupakan /f 'z7 madhi naqish 21 yang tashrifaya: ^s3^-^L>-^ib -Uji-5jl=J-5o Begitu juga dengan yang semisal "5» , semuanya termasuk /z'z7 naqish. Selain "5»", 'aamiZ yang juga menyebabkan khabar menjadi manshub dan mubtada tetap marfu' adalah: • 5» (ada, terjadi), (Hamid adalah seorang guru) • (memasuki waktu sore), (Di sore hari para siswa pulang) • (memasuki waktu shubuh), (Di pagi hari sangat dingin) Fi'il madhi naqish sesuai namanya adalah fi'il yang kurang sempurna (naqish) dikarenakan fi'il ini tidak memiliki fa'il melainkan isim fi'il dan khabar fi'il. 168 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA • ij**o\ (memasuki waktu dhuha), (Di waktu dhuha orang Islam shalat) • Jis (pada waktu siang), (Di waktu siang hujan turun) • oli (pada waktu malam), (Di malam hari anak kecil tidur) • JUrf» (menjadi), (Roti menjadi murah) • jlli (tidak), (Zaid tidak rajin) • Jlj U - (iiljl U - Sj^fl U - ^J> \j> - >\s \j> (Senantiasa 22 ) (Zaid senantiasa berilmu) 22 Semua 'aamil ini, Jl} Lo hingga U semuanya bermakna sama, yaitu senantiasa. Abu Ra^in & Ummu Ra^in 169 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com • dan tashrif dari fi'il-fi'il di atas. Artinya, yang menjadi 'aamil bukan hanya bentuk fi 'U madhinya saja melainkan juga turunan atau tashrif dari fi'il madhi seperti fi'il mudhari dan fi'il amar. Contohnya: (Jadilah orang berilmu) Susunan kalimat cfc dan yang semisalnya adalah: Fi'il + Isim Fi'il + Khabar Fi'il Contohnya: Zaid itu bersungguh-sungguh Maka "5^" merupakan fi'il madhi naqish, dan "lij" adalah isim kaan, dan adalah khabara kaana. Contoh lain: Zaid tidak bersungguh-sungguh Maka "j*aJ" merupakan fi'il madhi naqish / dan "Joj" adalah isim laisa, dan adalah khabara laisa. Contoh lain: Di waktu pagi sangat dingin Maka "^©1" merupakan /z'z7 madhi naqish, dan " adalah isim ashbaha, dan adalah khabar ashbaha. 170 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Kaidah Kaana dan yang semisalnya: 1. Mubtada berubah namanya menjadi isimfi'il dan i'rabnya tetap marfu' 2. Khabar berubah namanya menjadi khabar f i' U dan i'rabnya berubah menjadi manshub. 4.2.2 5i dan yang semisalnya (l^l^Vj 5i) 'Aamil inna dan yang semisalnya menjadikan mubtada manshub dan khabar tetap marfu'. Seluruh 'aamil inna dan yang semisalnya merupakan huruf. Huruf-huruf tersebut adalah: • 5i (sesungguhnya), (Sesungguhnya Allah maha pengampun) • 5^ (sesungguhnya 23 ), (Ketahuilah sesungguhnya Allah maha pengampun) • ijr^ (akan tetapi), (Hamid telah berdiri akan tetapi Zaid duduk) • 5« (seperti), (Seakan-akan Fathimah itu purnama) -j 23 Penggunaan huruf "Jjl" hanya diperbolehkan bila huruf ini ada di tengah kalimat. Bila di awal kalimat wajib meggunakan huruf "£)r A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 171 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com • c*Z) (andai), (Seandainya masa muda kembali) ""'t • J*J (supaya, semoga) (Semoga hujan turun) Susunan kalimat inna dan yang semisalnya adalah: Huruf + Isim huruf + Khabar Huruf Contohnya: Sesungguhnya Zaid itu bersungguh-sungguh Maka "5|" adalah huruf (tauhid), "\joj" adalah isim inna dan "j^i^'adalah khabar inna. Kaidah inna dan yang semisalnya: 1. Mubtada berubah namanya menjadi isim huruf dan berubah i'rabnya menjadi manshub 2. Khabar berubah namanya menjadi khabar huruf dan i'rabnya tetap marfu' 172 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 4.2.3 j£ dan yang semisalnya \ j ^) 'Aamil dzhanna dan yang semisalnya menjadikan mubtada dan khabar manshub keduanya. Kelompok ini merupakan fi 'U muta'addiy yang maf'ulnya ada dua. Oleh karena itu, kedua isim setelannya menjadi manshub keduanya. Misalnya kata kerja "menjadikan". Maka dalam bahasa Indonesia sekalipun dapat dipahami bahwa objek untuk kalimat ini ada dua. Contohnya kalimat "Aku Menjadikan Kamu Istri". Maka "Kamu" dan "Istri" adalah objek. 'Aamil yang masuk kelompok ini adalah: • cJlSs (menyangka), (Saya menyangka pemimpin itu adil) • c«--*5>- (mengira), (Saya mengira hamid itu jujur) • c~U- (membayangkan), (Saya membayangkan murid itu paham) • c~*&3 (menduga/mengira), bj-^ IJloI>- C%*£j (Saya kira Hamid itu Mahmud) y4Zw Ra^in <& Ummu Ra^in 173 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com (melihat), USU \xi\ co r (Aku melihat Zaid menangis) (mengetahu), Ajaibi ilkll clif- (Saya tahu Fathimah itu rajin) • ojc>-j (mendapati), (Saya mendapati buku hilang) • ojJt| (menjadikan), (Saya menjadikan Hindun sebagai istri saya) • cJJu> (menjadikan), \Ijl> JO-^M C-l*^- (Saya menjadikan besi itu cincin) «j (mendengar) (Saya mendengar Nabi bersabda) 174 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Perlu dicatat bahwa yang menjadi 'aamil bukan hanya fi'il madhi dhamir ana seperti contoh-contoh di atas, tapi seluruh bentuk tashrif dari fi'il-fi'il di atas. Contohnya: Susunan kalimat dzhanna dan yang semisalnya adalah: Fi'il + Fa'il + Maf 'ul Awwal + Maf 'ul Tsani Contohnya: Saya mengetahui Zaid itu bersungguh-sungguh Maka "c^Lifi." adalah fi'il madhi beserta fa'ilnya (dhamir ana), "i-uj" disebut dengan maf'ul awwal, dan disebut dengan maf'ul tsaa Kaidah dzhanna dan yang semisalnya: 1. Mubtada berubah namanya menjadi maf'ul awwal dan berubah i'rabnya menjadi manshub 2. Khabar berubah namanya menjadi maful tsaani dan i'rabnya menjadi manshub Abu Ra^in & Ummu Ra^in 175 (Ali menjadikan emas itu cincin) ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com (<r : ,LjJ1) tL-^j 6^ <£^i- -4 # ^ -» ^ » > >^ »> 176 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA (Ho :S yJ>\) <_>UuM \XJ^ / t,\ £ x- ' $ ' Q-\_,..al Jf-y-J J* 4 1**} o- UI' >»l £Ji 2 J3 J ... .12 -r^Tf <^ , »< >» x*f < ^" -f'vff £j Xu ^>->. % .13 ^ > x" i » XX X ^x X —"X < » J> > ^ 'S X (YT :0^il)^ki5jbir £ £ f .14 (W :^jj^!0 <J^1 ^plfjl JjJ *ii>jJu^j ... .15 , / »X/ x X 1 x »x»xx-5 x XX i x»^x X a ^|Jb b^uilj ^Jue^ AllLe,- jlj .16 > f" '»> x >// <x OAiUii oj\>_Xj Wl> ^' o^ 1 cW- jJJ -17 (^A rjyb) Jfi A .18 177 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com (pL~* o\jj) juil j-wfr 4^1 5} .19 f $■ I ««• ««• ** Uji Co-I JUS 4JJl5ij *S^Jl|i«f £• *!>^f£f 5} -20 178 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 4.3 Kalimat Negatif Jumlah Ismiyyah dengan Laa Naafiyah d) Huruf laa nafiyah (penafian / peniadaan) adalah huruf yang bisa digunakan untuk membuat kalimat negatif jumlah ismiyyah. Laa nafiyah memiliki hukum seperti hukum inna dan saudaranya. Artinya, menashabkan isim dan merofa'kan khabar. Contohnya: Tidak ada seorang pun laki-laki berdiri Maka "J*-j" merupakan isim laa dan ia manshub sedangkan " adalah khabar laa dan ia marfu'. Contoh lain: Tidak ada seorang pun laki-laki di rumah Maka " J»j" merupakan isim laa dan ia manshub dan " 3 adalah khabar ghairu mufrad dan ia menjadi khabar laa. Kaidah yang berlaku untuk laa nafiyah: 1. Isim laa wajib nakirah Artinya, isim laa tidak boleh ma'rifat. Contohnya: Kalimat di atas salah karena isim laa dalam keadaan ma'rifat. Isim laa tidak boleh ma'rifat karena laa nafiyah berfungsi meniadakan secara keseluruhan. Artinya, benar-benar tidak ada seorang pun laki-laki yang ada di A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 179 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com rumah. Kalau yang ingin ditiadakan lelaki tertentu (ma'rifat), maka bisa menggunakan "jll!" Contohnya: Lelaki itu tidak ada di rumah 2. Isim laa tidak boleh ditanwinkan Tidak ditanwinkan karena kaidah bukan karena ia ghairu munsharif. Tidak boleh membuat kalimat sebagai berikut: Laa Nafiyah untuk menafikan fi'il Selain menafikan isim, laa nafiyah juga bisa menafikan fi'il. Ketika laa nafiyah digunakan untuk fi'il, maka kaidah yang berlaku adalah: 1. Laa nafiyah tidak mengubah i'rab fi'il Artinya, laa nafiyah tidak menjadikan fi'il nya menjadi manshub atau majzum. Ia tetap dalam keadaan asal (marfu'). Contohnya: Zaid tidak berdiri 2. Laa nafiyah hanya bisa menafikan fi 'U mudhari Laa nafiyah merupakan huruf nafiy yang khusus untuk fi'il mudhari. Contohnya: Zaid tidak pulang 180 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Laa nafiyah tidak bisa digunakan untuk menafikan fi'il madhi. Maka kita tidak boleh membuat kalimat: Kita bisa menggunakan maa nafiyah (U) untuk menafikan fi'il madhi. Contohnya: (Zaid tidak berdiri) Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 181 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA dJj^Jli jTylfl Ox diairi 182 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 4.4 Pengecualian (Istitsna) Pengecualian dalam Bahasa Arab bisa menggunakan 8 kata berikut yang dikenal dengan adaat al istitsnaa 24 : Ada beberapa istilah yang digunakan dalam kalimat pengecualian, yaitu huruf atau isim istitsna yang dikenal dengan adatul istitsna, yang dikecualikan (mustatsna), dan yang dijadikan patokan pengecualian (mustatsna minhu). Contohnya: Para laki-laki telah berdiri kecuali Zaid Maka disebut dengan adatul istitsna, disebut dengan mustatsna, dan "JU-J31" disebut dengan mustatsna minhu. Ada 3 kaidah yang berkaitan dengan istitsna: 1. Bila kalimatnya sempurna dan positif, maka mustatsna nya wajib manshub. Contohnya: Para manusia keluar kecuali Zaid 2. Bila kalimatnya sempurna dan negatif, maka boleh menghukumi mustatsna sebagai badai ataupun manshub dengan adat ististnaa. Contoh ketika badai: Manusia tidak keluar kecuali Zaid 14 Tidak disebut huruf istitsna karena j*£- itu isim bukan huruf Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 183 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 9° * Dalam kalimat di atas, kata "->oj" menjadi marfu' karena ia menjadi badai bagi Kemudian contoh ketika manshub: Manusia tidak keluar kecuali Zaid 3. Bila kalimatnya negatif dan tidak sempurna, maka l'rab mustatsna mengikuti 'amilnya. Contoh: Tidak berdiri kecuali Zaid, Tidak Aku pukul kecuali Zaid, Aku tidak berpapasan kecuali dengan Zaid Ketiga kaidah di atas berlaku^ untuk pengecualian dengan menggunakan huruf istitsna Pengecualian dengan , ^J-l , ^J-j , jd. Bila istitsnanya menggunakan , , ^J-j , js- (semuanya bermakna selain) maka mustatsnanya wajib majrur. Keempat jenis istitsna ini merupakan isim bukan huruf. Oleh karena itu ketiga kaidah ististna di atas bukannya berlaku untuk mustatsna nya melainkan untuk keempat isim istitsna ini. Sehingga: 1. Bila kalimatnya sempurna dan positif, maka isim istitsna nya yang wajib manshub sedangkan mustatsna nya wajib majrur. Contohnya: Para manusia keluar selain Zaid 184 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 2. Bila kalimatnya sempurna dan negatif, maka boleh menghukumi isim istitsna sebagai badai ataupun manshub dengan adat ististnaa sedangkan mustatsna nya tetap wajib majrur. Contoh ketika badai: Manusia tidak keluar selain Zaid Dalam kalimat di atas, Isim istitsna "js-" menjadi marfu' karena ia menjadi badai bagi "j*»lUl". Kemudian contoh ketika manshub: Manusia tidak keluar selain Zaid 3. Bila kalimatnya negatif dan tidak sempurna, maka I'rab isim ististna mengikuti 'amilnya sedangkan mustatsna tetap wajib majrur. Contoh: Jjj j^ju O Jjj j*£> £*Jj& l* j Jjj ^19 \j» Tidak berdiri selain Zaid, Tidak Aku pukul selain Zaid, Aku tidak berpapasan dengan selain Zaid Ketiga kaidah penggunaan ististna dengan "js-" di atas juga berlaku untuk , , ^J-j . Hanya saja untuk ^J-j dan ^gj-*! karena diakhiri alif maqsurah (^g) maka tidak terlihat perbedaannya ketika marfu, manshub, dan majrur karena sama-sama dalam keadaan aslinya. Pengecualian dengan UiU- , llt , Bila istitsnanya menggunakan UiU- , , M> maka boleh menjadikan mustatsnanya manshub atau majrur. Contohnya: Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 185 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com SU. ^jiii j \ Juj SU- ^jIjI j^aj^liil»' ^j^Si j |^=»J P^aJI ^li Bila majrur, maka ketiga adatul istitsna ini dianggap sebagai huruf /ar. Sedangkan bila manshub, maka ia dianggap fi'il dan mustastsna sebagai maful bih. 25 25 Ini dikarenakan kata Uul>- , \js- , kadang dianggap huruf jar dan kadang dianggap fi'il 186 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA i . .,\ ' \<' *\ ' >'< *'n ->•» A (fl :*LjJi) ... ^£^4^ S S' "f' vi iuii ^ jr£ vi %"S?>C i^i^tg ££vj .8 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 187 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 4.5 Kalimat Panggilan (Munada) Kalimat panggilan dalam Bahasa Arab memiliki dua unsur: 1. Huruf panggilan (jtjeJt t -3>>) 2. Kata yang dipanggil (^SlUl) Huruf panggilan dalam Bahasa Arab biasanya diawali dengan yang artinya adalah "Wahai". Adapun untuk munada, memiliki ketentuan sebagai berikut: 1. Bila munada nya z'sz'm 'alam kata tunggal seperti Joj , j^i , A-i^lc , dan jua maka ia didhamahkan tanpa tanwin (mabniy marfu'). Contohnya: JJLfc b , Lly£> b , Ju^l b , Joj b 2. Begitu juga bila munadanya isim nakirah yang ditentukan (nakirah maqshudah 26 ), maka ia didhammahkan tanpa tanwin: (Wahai seorang lelaki, wahai seorang yang tua) 3. Namun bila munadanya isim nakirah yang tidak ditentukan (nakirah ghairu maqshudah 27 ), maka ia manshub: Nakirah Maqsudah adalah ketika kita memanggil seseorang bukan dengan namanya baik karena sengaja maupun karena memang tidak mengenal namanya akan tetapi kita telah menetapkan orang yang dipanggil. Artinya, objek dari yang dipanggil sudah ditentukan entah itu dengan menunjuknya atau isyarat lain. Nakirah ghairu maqshudah adalah ketika kita memanggil seseorang bukan dengan namanya baik karena sengaja maupun karena memang tidak mengenal namanya, dan kita tidak menentukan objek yang dipanggil. Artinya, siapa saja bisa menjawab seruan tersebut. Seperti ketika seorang yang buta ingin menyebrang jalan. Makai a mengatakan: 188 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 4. Bila munadanya susunan kata (mudhaf - mudhaf ilaihi), maka ia manshub. Contohnya: 5. Bila munadanya menyerupai mudhaf (cJUkllU iJLlJl), maka ia manshub Contohnya: Wahai pendaki gunung Ia dinamakan menyerupai mudhaf karena asalnya adalah menyerupai susunan mudhaf - mudhaf ilaih seperti: "Wahai laki-laki! Tolong pegang tanganku!" Dalam kalimat di atas tentu orang buta tersebut tidak menetapkan lelaki yang mana melainkan lelaki mana saja yang mau menolongnya. Abu Ra^in & Ummu Ra^in 189 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 190 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 4.6 Kalimat Pasif Kalimat pasif dalam Bahasa Arab memiliki ketentuan yang berbeda dengan bahasa Indonesia dimana kita tidak diperkenankan menyebut pelaku atau fa'il. Dalam bahasa Indonesia, tidak mengapa kita mengatakan "Zaid telah dipukul oleh Bakr" akan tetapi dalam Bahasa Arab, kata hanya diperbolehkan untuk menyebut korban saja. Kita hanya diperbolehkan mengatakan "Zaid telah dipukul" tanpa menjelaskan siapa pemukulnya. Karena dalam Bahasa Arab, menyebut pelaku hanya diperbolehkan dengan menggunakan kalimat aktif. Kalimat pasif khusus untuk menyebutkan nama korban yang dikenai perbuatan tanpa menyebutkan pelakukanya baik karena (1) pelakunya sudah dikenal, (2) pelakunya tidak diketahui, atau (3) pelakunya sengaja disembunyikan. Bila pada kalimat aktif, susunannya adalah: Fi'il Ma'lum + Fa'il + Maful bih Maka pada kalimat pasif, susunannya adalah: Fi'il Majhul + Naibul Fa'il Karena kalimat pasif, maka kata kerja yang digunakan pun kata kerja pasif (fi'il majhul). Kemudian ada istilah naibul fa'il yang sebenarnya adalah maful bih ketika kalimatnya aktif. Dinamakan naibul fa'il karena ia seperti menggantikan fa'il dari sisi susunan dan I'rab (naibul fa'il juga wajib marfu'). Contohnya ketika aktif: A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 191 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Zaid telah memukul Bakr Ketika kalimat tersebut diubah menjadi pasif, maka menjadi: Bakr telah dipukul Dimana adalah fi'il madhi majhul dan "_^=u" adalah naibul fa'il. Bakr dibaca dhammah karena memang naibul fa'il wajib marfu'. Bakr dalam kalimat aktif adalah maful bih atau korban. Ketika kalimatnya menjadi pasif, maka nama Zaid sama sekali tidak muncul karena ini tidak diperbolehkan dalam Bahasa Arab. Karena hanya fi'il muta'addiy yang memiliki bentuk majhul, maka f i 'U lazim tidak bisa digunakan untuk membuat kalimat pasif 28 . Kaidah Kalimat Pasif: 1. Fi'il yang digunakan wajib fi'il majhul dari fi'il muta'addiy 2 . Naibul fa 'U wajib marfu ' 3 . Tidak diperb olehkan menyebut fa 'U Selain 3 kaidah di atas, kaidah jumlah fi'liyy ah FIRA (Fi'il wajib mufrad) dan MANIS (Fi'il dan naibu fa'il sama jenis) juga berlaku di sini. Silahkan merujuk ke buku Kami "Ilmu Sharaf untuk Pemula" untuk mengetahui lebih lanjut tentang fi'il majhul dan bagaimana cara mengubah fi'il ma'lum menjadi fi'il majhul. 192 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA > > ^ - ("W :O^5cjJ0 (^-^:UI) (N* roUjlJJl) o^»yJ-\ .6 y4Zw Ra^in <& Ummu Ra^in 193 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com .10 .12 4*U-JI ol^l cu?c3 jUr» j j»o bl .14 ( JJu* _/Jt eljj) c_A?fcsflJl o*5>J .15 194 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 4.7 Jumlah Fi'Hyyah Manshub Sama dengan isim, fi'il pun bisa berubah i'rabnya. Fi'il bisa marfu, manshub, majzum namun tidak bisa majrur. Karena majrur merupakan kekhususan isim. Sebagaimana Isim bisa marfu', manshub, dan majrur namun tidak bisa majzum karena majzum merupakan kekhususan fi 'U. Perlu dicatat bahwa fi'il madhi dan fi'il amar itu mabniy. Artinya, tidak terpengaruh dengan keberadaan 'aamil dan selamanya akan datang dalam bentuk yang sama. sedangkan fi'il mudhari' itu mu'rab kecuali fi'il mudhari dhamir dan jol. Oleh karena itu, ketika kita berbicara 'aamil nashab, maka itu berkaitan dengan fi 'U mudhari' saja. Ada beberapa 'aamil yang menyebabkan fi'il mudhari berubah menjadi manshub. Diantaranya: 1. j I (bahwa), (Saya ingin membaca Al Quran) 2. (tidak akan), (Saya tidak akan pergi ke Amerika) 3. ji} (kalau begitu), (Saya akan ke rumahmu besok I Kalau begitu, Aku akan memuliakanmu) A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 195 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 4. 3 (supaya), (Saya pergi ke perpusatkaan supaya bisa membaca buku-buku) 5. °Sfi (lam yang artinya supaya), (Saya pergi ke perpusatkaan supaya bisa membaca buku-buku) 6. ij^wM j»^ (Zam pengingkaran), "Dan AZZa/z sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka." (Al Anfal: 33) Lam Juhud adalah lam yang ada setelah kaana dan turunannya yang didahului huruf nafiy (seperti 5« ^ dan 7. (hingga), (Saya tak akan pulang sampai menghafal Al Quran) 8. jlj jUJIj ojj?-^ (Kalimat syarat-jawab dengan fa (maka), w a (dan) dan Au (atau)) (Seandainya punya harta, Saya akan berhaji) 196 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Yang menjadi huruf nashab bukanlah sekedar huruf fa, wa, dan au yang merupakan huruf 'athaf, tapi huruf fa, wa, dan ta yang digunakan dalam bentuk kalimat bersyarat. Contoh lain: lili j\ Ji&l "Saya benar-benar akan membunuh orang kafir atau (kecuali) ia menjadi muslim" Huruf-huruf nashab di atas ketika bertemu dengan fi'il mudhari, maka akan menjadikannya manshub. Tanda i' r ab fi'il mudhari ketika manshub adalah: Fi'il Mudhari Wazan Keadaan Nashab Contoh Fi'il mudhari yang akhirnya bebas dhamir tastniyah ( jl), jamak (jj) dan mufradah mukhathabah ( jj) \ m a~\ U m * ^ ° ' * ^ Fathah Fi'il mudhari yang akhirnya mengandung dhamir tastniyah ( jl), jamak (j j) dan mufradah mukhathabah ( jj) Dibuang nun nya Silahkan perhatikan contoh berikut ini: y4Zw Ra^in <& Ummu Ra^in 197 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 198 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA J£>J<U\ j- \ -'p Vj \s\ f- j»<j*£\Q\4±*ip -8 (V :^) oUSCj... .n " 2,,-» o * * . J' 0 ,,° ^2* 199 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 4.5 Jumlah Fi'liyyah Majzum Fi'il mudhari bisa menjadi majzum apabila bertemu dengan 'aamil jazm. Di antara 'aamil jazm adalah: 1. P (tidak) , „ • s. (3 j-Ul (J| c-j&i! (Saya tidak pergi ke pasar) 2. Q (belum), ollj-lpl J^jjI U (Saya belum mengirim PR) 3. fjl (tidakkah?), J^cJl jl lll (Tidakkah Kamu tahu bahwa nahwu itu mudah) 4. UJI (belumkah?), Joj c-JfcJo UI (Belumkah Zaid pergi?) 5. j* a I j» a (Lara untuk perintah), 200 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA "Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya (At Thalaq: 7 ) 6. jlcoll (lam untuk permohononan), " Mereka berseru: "Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja". . . " (Az Zukhruf: 77) 7. J%i)! j ^ (Laa untuk larangan), Semua fi 'U nahiy didahului oleh laa nahiyah. Contohnya: o 8. jlcoJl (j ^ (Laa untuk permohonan) Sama dengan laa fin nahyi hanya saja penekanannya ada pada siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah. Bila yang melarang lebih tinggi kedudukannya, maka itu perintah larangan. Sebaliknya jika yang melarang lebih rendah kedudukannya, maka itu bukan perintah larangan melainkan permohonan (doa). Contohnya: Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 201 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. " (Al Baqarah: 286) 9. Kalimat jawab syarat dengan £\ (jika), U (apa), °y> (siapa), (apapun), Uil (kalau), ij\ (yang mana), jw« (kapan), jbl (kapan), jjl (dimana), <jl (bagaimana), Li*5>- (dimanapun), UllS' (bagaimanapun) Ini merupakan kelompok huruf jazm yang menjazmkan 2 fi'il mudhari sekaligus dikarenakan bentuk kalimatnya adalah kalimat bersyarat dimana ada syarat dan jawab syarat. Contohnya: * * s- (Jika Kamu pergi, Saya pergi) Contoh lain: S- 0 S- S- o ^ ^ ^ > S- (Buku apapun yang Kamu baca, Saya baca) 'Amil jazm di atas ketika bertemu dengan fi'il mudhari, maka akan menjadikannya majzum. Tanda i'rab fi'il mudhari ketika majzum adalah: 202 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Fi'il Mudhari Wazan Keadaan Ketika Jazm Contoh Fi'il mudhari yang akhirnya bebas dari huruf 'illut dan dhamir tastniyah ( jl), jamak (jj) dan mufradah mukhathabah (^jj) * ' i' * ' Sukun Fi'il mudhari yang akhirnya mengandung dhamir tastniyah ( jl), jamak (j j) dan mufradah mukhathabah ( jj) ^ > ^ e ^ Dibuang nun nya Fi'il mudhari yang akhirnya mengandung huruf 'Ulat Dibuang huruf 'Ulatnya Catatan Tambahan Fz'z7 mudhari dhamir ja dan 5*-^ seperti ^Jotaj dan jJ^aj merupakan fi 'U yang mabniy. Artinya, tidak terpengaruh oleh faktor apapun baik huruf nashab maupun harui jazm. Ia tetap dalam keadaan seperti itu sekalipun didahului huruf nashab dan jazm. Contohnya: 203 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 204 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA (c (jjuwo j e[jj) ^3)1 ^ 4j a3J| 3jJ .12 (^jl^JJl ol^j) cJb U ^L^ll gLli p b} .13 * >* 0 ^* e" " 'i -2* o' o (x?-Ujjj) jipol J J^Jjut (W t>« -14 f^jd'I f^jiij ^J^f j£aJ 9^ - 15 205 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com BAB V MU'RAB DAN MABNIY Pada bab-bab sebelumnya, Kita telah mempelajari berbagai kedudukan atau jabatan kata dalam kalimat beserta keadaan huruf terakhirnya. Ada kata yang berubah-ubah harakatnya (Mu'rab dengan harakat), ada yang harakatnya sama namun hurufnya berbeda-beda (Mu'rab dengan huruf), dan ada juga kata yang harakat dan hurufnya selalu sama (Mabniy). Pada bab ini, Kita akan mengelompokkan dan menyimpulkan pembahasan bab-bab sebelumnya supaya bisa dijadikan pedoman. 5.1 Mabniy Mabniy adalah kelompok kata yang tidak berubah-ubah kondisi akhirnya. Ia selalu dalam keadaan demikian dan tidak terpengaruh oleh keadaan apapun. Dari ketiga jenis kata dalam Bahasa Arab (Fi'il, Isim, dan Huruf) kita bisa membagi menjadi dua kelompok: 1. Semuanya Mabniy Huruf merupakan kelompok kata yang seluruhnya mabniy. Seluruh huruf seperti huruf jar dan huruf 'athaf akan selalu dalam keadaan yang tetap. Misalkan huruf athaf j" (dan) selalu dalam bentuk "J" dan tidak mungkin ditemukan dalam bentuk "J" dan "j'. Begitupula dengan huruf jar (dari), tidak mungkin 206 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA ditemukan dalam bentuk berharakat seperti " , atau 2. Ada yang mabniy dan ada yang mu'rab Isim dan fi'il merupakan kelompok kata yang sebagiannya ada yang mabniy dan sebagiannya ada yang mu'rab. Meskipun yang lebih dominan adalah yang mu'rab. 5.1.1 Fi'il yang Mabniy Berikut adalah fi 'U yang mabniy: 1. Seluruh Fi'il Madhi -* fi o'* Seluruh fi'il madhi dari dhamir y> sampai ja£ dihukumi 2. Seluruh Fi'il Amar * *■ *■ fi o t- Seluruh fi'il amar dari dhamir col sampai jol dihukumi mabniy 29 j ^ fiat 3. Fi'il mudhari dhamir ja dan Dari keempat belas tashrif fi'il mudhari, hanya 2 saja yang mabniy, selebihnya mu'rab. Kedua jenis fi 'U mudhari yang dimaksud adalah untuk dhamir ja dan Karena mabniy, keduanya tidak terpengaruh dengan keberadaan huruf nashab atau jazm. Contohnya: Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama nahwu tentang masalah ini. Sebagian ada yang berpendapat fi'il amar itu mu'rab. Akan tetapi, melihat bentuknya yang tidak pernah berubah dan sifatnya yang tidak mungkin didahului oleh huruf nashab maupun jazm, pendapat yang lebih kuat adalah yang menghukumi fi'il amar sebagai mabniy Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 207 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com - 0 j 5.1.2 Jsiw yang Mabniy Di antara sebagian contoh z'sz'm yang mabniy adalah: 1. Zsim Dhamir (Kata Ganti) Keempat belas zszm dhamir dari hingga jafr 2. Isim Isyarah (Kata tunjuk) Seluruh isim isyarah kecuali yang mutsanna (jl^Ay 0^-* / , seperti II* , »1* , , dUi , clUJ , dbJji 3. Isim Maushul (Kata sambung) Seluruh isim maushul kecuali yang mutsanna (jlo]l dan j&l) seperti j j)l , ^Jl , g^UI 4. Jsz'ra Istifham (Kata tanya) Kata tanya yang termasuk isim 30 seperti °y> (siapa), U (apa) , (kapan), ^j! (dimana), cIIj (bagaimana) 5. Sebagian Isim Dzharaf Beberapa isim dzharaf seperti c^p- dan < y*j>\ 5.1.2 Semua Huruf Itu Mabniy Semua huruf tanpa kecuali dihukumi mabniy. Huruf- huruf seperti huruf jar, huruf athaf, huruf istitsna, huruf nida, huruf istifham, huruf nashab dan huruf jazm seluruhnya tidak akan berubah-ubah keadaan huruf terakhirnya. e ^ i 30 Kata Tanya ada yang termasuk huruf seperti Jjfe (apakah) dan 1 (apakah). 208 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 5.2 Mu'rab Mu'rab adalah kelompok kata yang berubah-ubah kondisi akhirnya mengikuti kaidah i'rab. Perubahan kata dalam Bahasa Arab terbagi menjadi empat. Empat macam i'rab ini didasari oleh 4 harakat dalam Bahasa Arab, yaitu dhammah, fathah, kasrah, dan sukun. Akan tetapi, tidak semua kata berubah-ubah harakatnya. Ada kata yang harakatnya tetap tetapi hurufnya yang berubah-ubah. Oleh karena itu digunakan istilah lain untuk mewakili 4 macam perubahan ini. Empat macam i'rab yang dimaksud adalah: Raja' mewakili mu'rab dengan tanda asal dhammah. Kata yang menduduki kedudukan raja' disebut marju'. Baik ji'il maupun isim bisa datang dalam keadaan raja' 2. Nashab (JJuH) Nashab mewakili mu'rab dengan tanda asal jathah. Kata yang menduduki kedudukan nashab' disebut manshub. Baik ji'il maupun isim bisa datang dalam keadaan nashab. 3. Jar I Khafadh (JaiiLl / jil) Jar mewakili mu'rab dengan tanda asal kasrah. Kata yang menduduki kedudukan jar disebut majrur. Jar merupakan tanda khusus isim karena ji'il tidak akan majrur selamanya. 1. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 209 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 4. Jazm (j»JjM) Jazm mewakili mu'rab dengan tanda asal sukun. Kata yang menduduki kedudukan jazm disebut majzum. Jazm merupakan tanda khusus fi'il karena isim tidak akan majzum selamanya. Untuk bisa lebih memahami tentang pembagian i'rab berdasarkan perubahannya (harakat dan huruf), silahkan perhatikan tabel berikut: 210 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA «7- »7* U •S'A ;1» □ i g j i ,o3 5y g a o» o O' »iTl -o» g 3- O' i I f t -J -T ■s3 '3 " ; 1 -3» «J '3 3 X "0 3 ; 0> "^O "'O "J' X X X A bu Ra^in <& Ummu Ra^in 211 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Berikut ini tabel yang memuat tanda-tanda setiap i'rab: lt^- >o~M 'u*4^ 'Lr4^ j^Llll /UJI «X- i, fsi. « -['l M 'Tim f ' J -| JU iSj iilij 2!&j MAj 'M dJj > ^.-.M jymi /uji «X- * e - — - o - - a - - > 0 Oli 212 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA r u M 7 'M ' 1 1 L_JUaJU C >j'jj> PUJI j^iill i£ (_r4^- f!) fl3 f*' Pada tabel di atas, Kita bisa melihat tanda i' r ah yang lain selain tanda asalnya. Tabel di atas dapat dijadikan pedoman untuk menentukan kondisi suatu kata saat menduduki suatu kedudukan dalam kalimat. Contohnya, ketika Kita ingin membuat kalimat jumlah ismiyyah dengan mubtada dari tastniyah dan Kita mengetahui bahwa mubtada wajib marfu', maka Kita lihat apa keadaan tatsniyah ketika taf a'. Pada tabel di atas akan Kita melihat bahwa tatsniyah ketika raja' dalam bentuk tatsniyah dengan alif (aani) bukan dengan ya (ayni). Adapun tatsniyah dalam bentuk ya (ayni) digunakan ketika manshub dan majrur. Seyogyanya setiap penuntut ilmu nahwu menghafal tabel i'rab di atas karena ia adalah pedoman yang sangat penting untuk dihafal. Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 213 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 5.2.1 Marfu' 5.2.1.1 Fi'il yang Marfu' Hukum asalanya seluruh fi'il (khususnya fi'il mudhari') itu marfu' sampai ada sebab lain yang menjadikan ia manshub dan majzum. Fi'il bisa berubah menjadi manshub dan majzum dengan keberadaan amil nashab dan amil jazm. Bila tidak ada, maka kembali ke hukum asalnya. 5.2.1.2 Isim Yang Marfu' Ada 7 kedudukan isim dalam kalimat yang wajib marfu' yaitu: 1. JcAlJl Pelaku dalam suatu kalimat wajib marfu'. Contohnya: 2. Jc-UJI 4JU Dalam kalimat pasif (majhul), korban (naibul fa'il) wajib marfu'. Naibul fa'il ini ketika dalam kalimat aktif merupakan maf 'ul bih. Contohnya: 9 • > 3. Kata pertama yang diterangkan dalam jumlah ismiyyah disebut dengan mubtada dan ia wajib marfu' 214 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 4. p.\ Kata kedua yang menerangkan mubtada dalam jumlah ismiyyah disebut dengan khabar dan ia juga wajib marfu. Contohnya: JJUs Joj 5. l^jl^-ij $ Lu>\ Isim Kaana pada jumlah ismiyyah merupakan mubtada. Ketika ada Kaana dan saudaranya, ia berubah namanya menjadi isim kaana dan tetap marfu'. Contohnya: Khabar inna pada jumlah merupakan khabar. Ketika ada inna dan saudaranya, ia berubah namanya menjadi isim inna dan tetap marfu'. Contohnya: 7. Qp\ Tawabi' adalah kelompok i'rab yang perubahannya mengikuti kata yang diikuti. Tawabi' ada 4 yaitu na'at, athaf, taukid, dan badai. Contohnya: 9 ^ t f ° ^ * ****** *- 215 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 5.2.2 Manshub 5.2.2.1 Fi'il yang Manshub Hanya fi'il mudhari yang bisa manshub. Ini dikarenakan fi'il madhi dan fi'il amar itu mabniy. Ada 3 kelompok fi'il yang manshub: 1. ij^^i J-*^; i£^\ £^jt£*JI J**^ Ini adalah kelompok fi'il mudhari yang huruf terakhirnya tidak bersambung dengan apapun. Yaitu fi'il mudhari dhamir y>, {£ , c-ii , dan l yfi-. Ketika manshub, kelima fi'il mudhari jenis ini menjadi fathah. Contohnya: 2. il^lJUi^l Ini adalah kelompok lima fi'il mudhari yang huruf terakhirnya bersambung dengan huruf alif dan nun tastniyah (uiil ,ua), waw dan nun jamak ,^J>), dan ya dan nun muannatsah mukhathabah (c-il) . Ketika manshub, fi'il yang lima ini dibuang nun nya. Contohnya: Ini adalah kelompok fi'il mudhari yang huruf terakhirnya adalah huruf 'illat seperti alif, waw, dan ya. Contohnya: 216 Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA Fi'il mudhari yang mu'tal ketika manshub tetap dalah keadaan asalnya. Contohnya: Huruf 'illatnya tidak dibuang sebagaimana ketika majzum. Hanya saja untuk fi'il mudhari yang diakhiri huruf 'illat waw dan ya difathahkan huruf 'illatnya. 5.2.2.2 Isim yang Manshub Ada 15 kedudukan isim dalam kalimat yang wajib manshub: 1. dj JjJuUl Obyek atau korban atau yang dikenai perbuatan dalam kalimat wajib manshub. Contohnya: Mashdar atau disebut juga maf'ul muthlaq wajib manshub. Contohnya: 2. J 3. gujji <jy& Keterangan waktu wajib manshub. Contohnya: Abu Ra^in <& Ummu Ra^in 217 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 4. j&lSl >Sj> Keterangan tempat wajib mansub. Contohnya: 5. jiii Ha/ adalah keterangan yang menjelaskan kondisi atau keadaan. Contohnya: Tamyiz adalah keterangan yang menjelaskan zat. Contohnya: uu5 jjj-i^fr co^Li| 7. J&Jl Ada beberapa keadaan z'rafc mustatsna (yang dikecualikan) tergantung dari hurus istitsna dan pola kalimatnya. Contoh yang manshub: 8. S,Lll Lflfl nafiyah memiliki pengaruh seperti inna dimana isim laa wajib manshub. Contohnya: J 218 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 9. jSliL)! Kata yang dipanggil memiliki beberapa keadaan Frab tergantung jenis munadanya. Contoh yang rnanshub: 0*0 •'o-' 0 ', 10. *isH ^« JjAjjJt Maful min ajlih adalah keterangan tujuan. Contohnya: Maful ma'ah adalah keterangan penyertaan. Contohnya: 12. jo^> Kaana merupakan /f 'f/ madhi naqish yang termasuk 'amil nawasikh yang merafa'kan isim dan menashabkan khabar. Contohnya: 13. 5|f— i Kebalikan dari Kaana, Inna merupakan huruf yang termasuk 'amil nawasikh yang menashabkan isim dan merafa'kan khabar. Contohnya: 219 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com 14. jlj $ C)\j>-\ Khabar yang semisal kaana dan isim yang semisal inna juga wajib manshub. Contohnya: Tawabi' menjadi manshub bila kata yang diikuti juga manshub. Contohnya: 5.2.3 Majrur Majrur adalah kondisi l'rab yan dikhususkan untuk isim. Fi'il tidak mungkin majrur. Ada 3 keadaan yang bisa membuat isim menjadi majrur, yaitu: 1. Didahului oleh huruf jar. Contohnya: 2. Menjadi mudhaf ilaih Contohnya: 220 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in www.programbisa.com ILMU NAHWU UNTUK PEMULA 3. Mengikuti yang majrur (tawabV: na'at, athaf, taukid, badai) 5.2.4 Majzum Majzum adalah kondisi I'rab yang dikhususkan untuk fi'il. Kita tidak mungkin menemukan isim dalam keadaan majzum. Ada 3 kelompok fi'il yang majzum: 1. ij^"^ (J-*?^ ^jl^a-il J**^ Ini adalah kelompok fi 'U mudhari yang huruf terakhirnya tidak bersambung dengan apapun. Yaitu fi'il mudhari dhamiji, {£ , cJl , UI, dan j>-. Ketika majzum, kelima fi'il mudhari jenis ini menjadi sukun. Contohnya: o -> ** 0 £■ — o f o ^ 2. 1113-1 JUo^l Ini adalah kelompok lima /z'z7 mudhari yang huruf terakhirnya bersambung dengan huruf alif dan nun tastniyah (uiii ,ua), waw dan nun jamak (^1 ,^), dan ya dan nun muannatsah mukhathabah (cJi) . Ketika majzum, fi'il yang lima ini dibuang nun nya. Contohnya: 3. jsiUl ^jUk^Jl jiii! Ini adalah kelompok fi'il mudhari yang huruf terakhirnya adalah huruf 'illat seperti alif, waw, dan ya. Contohnya: Abu Ra%in <& Ummu Ra^in 221 ILMU NAHWU UNTUK PEMULA www.programbisa.com Fi'il mudhari yang mu'tal ketika majzum huruf 'illatnya dibuang. Contohnya: 222 Abu Ra^in <& Ummu Ra^in REFERENSI 1. Matan Al Ajurrumiyyah oleh Ibnu Ajurrum Ash Shanhajiy 2. An Nahwu I (LARB1014), Diktat Ilmu Nahwu Universitas Al Madinah International (MEDIU) 3. Jami'ud Durus Al Lughah Al Arabiyyah oleh Mushtafa Al Ghulayayniy 4. Syarah Muqaddimah Al Ajurrumiyyah oleh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin 5. Durusul Lughah Al 'Arabiyyah oleh Dr. V. Abdurrahim 6. An Nahwu Al Wadhih oleh Ali Al Jarim & Musthafa Amin 7. Mutammiah Al Ajurrumiyyah oleh Muhammad bin Muhammad Ar Ra'iniy 8. Ringkasan Kaidah-kaidah Bahasa Arab oleh Aunur Rafiq Bin Ghufran PROFIL PENULIS Abu Razin, Khairul Umam Ibnu Syahruddin Al Batawy, dilahirkan pada 11 April 1987, dan tumbuh besar di lingkungan betawi. Lebih senang dipanggil dengan Encang iRul. Bermulazamah ilmu nahwu dan sharaf bersama KH. Mahfudz bin Ma'mun hafidzhahullah (Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat) selama 6 tahun di tengah-tengah kesibukan sebagai pelajar dari Kelas 1 MTS sampai Kelas 3 SMA. Pendidikan formal dilalui mulai dari SDN Duri Kosambi 06, MTs An Nida Al Islamiy, SMAN 78 Jakarta Barat, dan Fakultas Teknik Metalurgi dan Material Universitas Indonesia. Lulus dari Universitas Indonesia pada tahun 2009. Pada saat menempun kuliah di Universitas Inonesia, tepatnya saat tahun 2008, juga mengikuti perkuliahan jarak jauh di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Al Madinah Internasional (MEDIU) Malaysia, dan lulus pada tahun 2012. Ummu Razin, Lailatul Hidayah, dilahirkan pada 17 Agustus 1989, dan tumbuh besar di lingkungan pesantren semenjak usia taman kanak-kanak. Sedari TK hingga selesai SMP dihabiskan di Pondok Pesantren Imam Bukhari di Solo, Kemudian melanjutkan SMA ke Pondok Pesantren Bin Baz, Yogyakarta. Kemudian melanjutkan kuliah jarak jauh di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Al Madinah Internasional (MEDIU) Malaysia dan lulus pada tahun 2012. Abu Razin dan Ummu Razin ditaqdirkan menikah pada Juli 2009. Kini telah dikaruniai 2 putera; Razin Abdilbarr dan Adib Ubaidillah. Semoga Allah senantiasa memberikan limpahan karunia Nya untuk Kita semua. - Khairul Umam, S,T, B,A & Lailatul Hidayah, B. A -

No comments:
Post a Comment