Sunday, February 20, 2022

BAB BADAL (AL AJURUMIYAH)

BADAL yaitu Tabi yang dituju hukumnya dengan tanpa penghubung diantara Tabi dan matbu nya
 Ketika dibuat BADAL , Isim dari Isim/fiil dari fiil, maka Tabi mengikuti dalam semua i'rabnya

BADAL dibagi menjadi 4:
1. BADAL Syai' Min Syai' /BADAL Kul Min Kul & BADAL Muthobiq
Batasannya: ketika lafadz yang nomor 2 menyamai lafadz yang awal di dalam ma'nanya : datang Zaid (saudaranya)

2. BADAL ba'dh Min Kul
Yaitu ketika lafadz yang nomor 2, sebagian dari lafadz yang awal, Baik Setengahnya ataupun lebih banyak atau lebih sedikit, contoh: aku makan roti (Setengahnya)(dua per 3 nya)(sepertiganya) 
Wajib BADAL ba'dh Min Kul dhomir yang kembali kepada mubdal minhu

3. BADAL Isytimal

Yaitu mubdal minhu yang mencakup atas BADAL, ketika adanya mubdal minhu menunjukkan atasnya, sekira ketika disebut mubdal minhu, maka seseorang beronto dan menunggu nunggu mubdal minhu kepada BADAL

4. BADAL gholath
Yaitu BADAL yang lafadz nomor 2 perkara yang dimaksud dan yang pertama bukan yang dimaksud , maka ketika kamu ingin memberi Khobar " aku shodaqoh dengan dirham" kemudian lisanmu terlanjur  mengucapkan " aku shodaqoh dengan Dinar" maka kamu mengucapkan aku shodaqoh dengan Dinar "dirham" 

Nahwu BAB TAUKID (Al Ajurumiyah)

Taukid yaitu tabi (perkara yang mengikuti) yang menghilangkan kemungkinan (mungkin iya/tidak, benar atau salah). Maka ketika kamu mengatakan Zaid datang maka mungkin adanya pembicaraan dengan mengira-ngirakan mudhof, kira kiranya: kitabnya Zaid datang/utusan Zaid datang.
Maka ketika kamu mengatakan Zaid datang dirinya (hilanglah ihtimal /kemungkinan)

Taukid adalah tabi yang mengikuti muakkad, dalam roda, nashob, khofadz, ma'rifatnya

Adanya taukid dengan lafadz-lafadz yang sudah diketahui, yaitu: نفس، عين، كلّ، اجمع.
Dan lafadz-lafadz yang mengikuti اجمع
أكتع، أبتع، أبصع

Maka lafadz-lafadz ini tidak bisa digunakan untuk mentaukidkan kecuali setelah taukid أجمع
Maka tidak boleh mendahulukannya.

Ucapkanlah  قام زيد نفسه، رأيت الثوم كلهم، مررت بالقوم أجمعين

Keterangan diatas untuk taukid maknawi, Adapun Taukid lafdzi yaitu kembalinya lafadz dengan aibnya atau dengan lafadz yang murodif, karena mencegah lupanya pendengar atau memantapkan pendengar dan meneguhkan di dalam hatinya.
Contoh: datang Zaid Zaid
Adapun contoh mengulangi lafadz yang murodif : datang singa "singa/macan"

Editor : Al Faqir