Friday, December 2, 2016

makalah muktada



Kata Pengantar

بسم الله الر حمن الر حىم

الحد لله رب العا لمىن حمدا كثيرا والصلاة والسلام علي من ارسله بشيرا و نذيرا وعلي اله الطاهرين واصحابه الطيبين

    Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas

makalah mubtada’ khobar. Makalah  ini kami susun agar pembaca dapat memperlajari dan mengamalkannya, kami  sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini kami  dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri Saya maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah  akhirnya makalah  ini dapat terselesaikan.
                      semoga makalah kami dapat bermanfaat bagi Para Mahasiswa Mahasiswi, Umum Khususnya pada diri saya sendiri dan semua yang membaca makakalah kami, Dan  Mudah- mudahan Juga  dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca . Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kami mohon untuk saran dan kritiknya.

Terimakasih.

Makmur Sentosa,05 November 2014

                                                                                                                Penulis







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

         A.    Latar Belakang ………………………………………………..              1

         B.     Tujuan …………………………………………………………              2

BAB III PEMBAHASAN

A.   Pengertian Mubtada’ ...................………………….. ……….               3

B.   Pembagian Mubtada’....................…………………………..                4

1.    Ditinjau dari segi kejadiaannya

2.    Ditinjau dari segi khabarnya

3.    Ditinjau dari segi penempatannya

4.    Ditinjau dari segi keadaannya

C.   Ciri Mubtada’ dan Khabar

BAB IV PENUTUP

   A.  Simpulan ...................................................................................          12        

   B.  Kritik dan Saran .........................................................................        12         

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................          13












ii

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Hubungan antara hukum Islam dengan pengetahuan bahasa Arab merupakan hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Alasannya sangat jelas, karena sumber pokok dari hukum Islam itu adalah Al-Qur’an dan Hadits yang memakai atau menggunakan bahasa Arab standar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab .

Bahasa Arab adalah Bahasa Al-Qur’an. Setiap orang muslim yang bermaksud menyelami ajaran Islam yang sebenarnya dan lebih mendalam, tiada jalan lain kecuali harus mampu menggali dari sumber asalnya, yaitu Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.

Di dalam bahasa Arab , keberadaan nominal menjadi sangat mutlak karena keberadaan bahasa arab, kita senantiasa menggunakannya. Adapun contoh dari nominal yang seringkali di gunakan adalah mubtada dan khabar. Akan tetapi dalam perjalanan dewasa ini, kita senantiasa di buat bingung oleh pengertian-pengertian dari bahasa arab , apa itu mubtada’ dan bagaimanakah khabar itu. 

Sebelum berbicara mengenai Mubtada dan Khabar , sebaiknya mengetahui terlebih dahulu bahwa kalimat , baik kalimat sempurna maupun tidak dalam bahasa arab terbagi menjadi dua, yaitu Jumlah Ismiyah adalah kalimat yang di dahului oleh isim yang berada di awal kalimat tersebut dinamakan Mubtada dan bagian yang melengkapinya di namakan Khabar yang mana hukum nya dalam I’rab harus mengikuti kepada Mubtada. Dan Jumlah Fi’liyah, yaitu kalimat yang di dahului oleh fi’il.

2.   Tujuan Makalah

Berdasarkan uraian tersebut, maka dalam penulisan makalah ini, penulis mempunyai tujuan yang diantara sebagai berikut :

1.    Mengetahui pengertian mubtada’ dalam kaca mata ilmu nahwu.

2.    Mengetahui macam-macam bentuk mubtada’ dan hukum-hukumnya.

3.    Untuk memenuhi tugas mata kuliah nahwu bab mubtada’

BAB II

PEMBAHASAN

A.Pengertian Mubtada’

.اَلْمُبْتَدَأُ : هو اَلِاسْمُ اَلْمَرْفُوعُ اَلْعَارِي عَنْ اَلْعَوَامِلِ اَللَّفْظِيَّةِ وَالْخَبَرُ هُوَ اَلِاسْمُ اَلْمَرْفُوعُ اَلْمُسْنَدُ إِلَيْهِ, نَحْوَ قَوْلِكَ "زَيْدٌ قَائِمٌ" وَ"الزَّيْدَانِ قَائِمَانِ" وَ"الزَّيْدُونَ قَائِمُونَ "

       Mubtada adalah isim marfu’ yang biasanya terdapat di awal kalimat (Subyek) dan kosong dari ‘amil lafdy. Tetapi mubtada memiliki ‘amil ma’nawi yaitu mubtada harus beri’rab  rofa’ karena menjadi ibtida (awal kalimat atau awal sesuatu yang di ceritakan)

Khabar adalah sesuatu yang menerangkan kondisi mubtada dan dapat menyempurnakan makna mubtada’ yang pada bahasa Indonesia dikenal dengan Predikat. Mubtada tanpa khobar tidaklah jelas ma’nanya begitu juga khobar tanpa didahului mubtada akan menjadi tidak bermakna.

Contoh:

الْأُسْتَاذُ مَرِيْضٌ (Ustadz itu sakit)

الْمُسْلِمُ صَالِحٌ (Orang muslim itu sholeh)

الْوَلَدُ نَشِيْطٌ (Anak itu rajin)

Seperti pada contoh di atas, kata الْأُسْتَاذُberkedudukan sebagai mubtada dan مَرِيْضٌberkedudukan sebagai khabar. Kalau الْأُسْتَاذُsaja tanpa disertai kata مَرِيْضٌ jelas tidaklah bermakna. “ustadz itu…..” tentu akan menimbulkan pertanyaan seperti ; Kenapa? Ada apa dengan ustadz? Tapi kalau sudah ada kataمَرِيْضٌ orang yang di ajak bicara akan mengerti apa yang terjadi dengan ustadz, bahwa ustadz itu sedang sakit. Dan tidak akan timbul pertanyaan tentang apa yang terjadi pada ustadz. Begitu juga dengan  contoh- contoh yang lain kurang lebih sama.

B.Pembagian Mubtada’

1.    Ditinjau dari segi kejadiannya

والمبتدأ قِسْمَانِ ظَاهِرٌ وَمُضْمَرٌ فَالظَّاهِرُ مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ والمضمر اثنا عشر وهى :أنا ونحن وأنتَ وأنتِ و وأنتما وأنُتم وأنتن وهو وهى وهما وهم وهن نحو قولك (أنا قائم) و(نحن قائمون) وما أشبه ذلك

Mubtada’ dalam kalimat nominal/ ismiyah ada dua macam, yaitu :

a.    Mubatada’ isim zhahir/ jelas, contoh : al-rajulu muthi’un/ مطيع    الرجل (orang itu  ta’at)."زَيْدٌ قَائِمٌ"         (Zaid itu berdiri)      .الزَّيْدَانِ قَائِمَانِ.   (kedua Zaid bediri) .الزَّيْدُونَ قَائِمُونَ. (banyak Zaid berdiri)

Keterangan : 

Untuk lebih mudah memahami apa itu mubtada ? dan apa itu khabar ?, coba anda perhatikan contoh diatas : Yang pertama Kalimat (زَيْدٌ قَائِمٌ)artinya : zaid itu berdiri. Lafadz (زَيْدٌ) sebagai Mubtada. sedangkan Lafadz (قَائِمٌ) sebagai khabarnya. Sesuai dengan definisi mubtada, bahwa mubtada adalah isim yang di rafa'-kan (atau berharkat Dhammah) yang kosong dari amil-amil Lafdzyyang masuk. Sedangkan khabar adalah isim yang dirafa-kan yang disandarkan kepada mubtada.

Catatan 
            Jika mubtadanya Mufrad (bentuk tunggal), maka khabar mengikutinya. dan jika Mubtada berbentuk Tatsniyah, maka khabar mengikuti. begitu juga jika Mubtada berbentuk jamak(mengandung arti banyak), maka khabarnya pun sama 

b.    Mubtada’ isim dhomir ialah mubtada’nya terdiri dari kata ganti seperti ana/  انا dan saudara-saudaranya, contoh : anta mujtahidun/  انت مجتهد   (engkau rajin)

Mubtada isim dhamir itu ada dua belas bagian yaitu :.
.أنا ونحن وأنتَ وأنتِ و وأنتما وأنُتم وأنتن وهو وهى وهما وهم وهن
Dan apa-apa yang menyerupai contoh ini
Contoh Mubtada Isim dhomir :

       (أنا قائم) Saya itu berdiri

       (نحن قائمون) Kami itu berdiri

2.    Ditinjau dari segi khabarnya

Apabila dilihat dari Khabarnya maka Mubtada terbagi menjadi dua, yaitu:

a.    Mubtada’ yang mempunyai khabar,contohnya (محمد مبتسم)

b.    Mubtada’ yang tidak ada khabar. , akan tetapi mempunyai isim marfu’yang menempati posisi dari pada khabar, contohnya (أنائم الطفل=apakah bayi telah tidur) Naim adalah mubtada sedangkan Thifl adalah Fa’il yang menempati posisi khabar, contoh lain (ما محمود البخل=tidaklah terpuji orang kikir), mahmud=terpuji adalah mubtada dan bukhli adalah Naib Fa’il yang menempati tempatnya khabar.

Mubtada yang memiliki khabar haruslah terdiri dari isim sharih atau dhahir ataupun yang telah dita’wilkan menjadi mashdar yang sharih, sedangkan mubtada yang tidak memiliki khabar tidak boleh menta’wilkannya dan penggunaanya haruslah selalu disertai dengan Nafyu atau istifham.

Adapun Isim marfu’yang terletak setelah mubtada yang tidak memiliki khabar yang dibarengi oleh Nafyu atau istifham maka kedudukannya dalam I’rab kalimat adalah sebagai berikut:

a.    Apabila menunjukkan kepada sifat yang tunggal dan setelahnya adalah isim yang tunggal contohnya (أ مسافر الرجل) atau (ما محبوب الكسول) maka I’rabnya ada dua kemungkinan, Pertama: sifat yang pertama setelah istifham (musafir) adalah mubtada dan setelahnya adalah Fa’il karena letaknya setelah Isim Fa’il, atau Naib Fa’il apabila terletak setelah isim maf’ul, keduanya marfu’menempati kedudukan khabar. Kedua: Sifat yang pertama (musafir) adalah khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) sedangkan kata (rajul) adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar).

b.    Apabila sifat yang pertama menunjukkan pada isim tunggal kemudian setelahnya adalah Mutsanna (yang menunjukkan bentuk dua) atau Jamak, maka sifat yang pertama adalah mubtada dan isim setelahnya tersebut adalah Fa’il atau naib fa’il yang menempati posisi khabar, contoh (ما مهمل الطالبان) dan (ما محبوب المقصرون) kata Muhmil adalah mubtada sedangkan thalibani adalah Fa’il karena terletak setelah isim Fa’il, dan kata Mahbub adalah mubtada sedangkan Muqshirun adalah Naíb Fa’il karena terletak setelah Isim Maf’ul.

c.    Apabila sifat yang pertama berbentu dua (mutsanna) atau Jamak dan setelahnya adalah mutsanna atau jamak maka isim yang pertama adalah khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) dan isim yang setelahnya adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar), contohnya (أ مسافران الضيفان) dan (ما مقصرون المجتهدون), kata musafirani dan muqshirun adalah khabar muqaddam sedangkan dhaifani dan mujtahidun adalah Mubtada muakkhar.

3.    Ditinjau dari segi penempatannya.

Mubtada ketika kita lihat dari segi penempatan posisinya ada dua macam yang pertama Mubtada itu wajib didahulukan apabila:

a.    Isim yang mempunyai kedudukan sebagai pendahuluan di dalam kalimat, seperti isim syarat, atau istifham atau Ma yang menunjukkan ketakjuban, contohnya (من يقرأ الشعر ينم ثروته اللغوية =barangsiapa yang membaca syair maka akan bertambah kekayaannya dengan bahasa), kata Man di sini adalah mubtada yang harus di dahulukan karena posisinya dalam kalimat sebagai pembukaan dan pendahuluan, contoh lain (من مسافر غدا =siapakah yang akan bepergian besok), kata man di sini adalah kata Tanya yang harus selalu didahulukan dan ia adalah mubtada, contoh lain (ما أجمل الربيع =alangkah indahnya musim semi) Kata Ma disini adalah Ma takjub yang mana harus dan wajib didahulukan.

b.    Mubtada yang menyerupai isim syarat, contohnya (الذي يفوزُ فله جائزة =yang menang maka baginya piala), kata allazi dalam kalimat ini menyerupai isim syarat.

c.    Isim tersebut haruslah disandarkan kepada isim yang menempati posisi dan kedudukan kata pendahuluan, contohnya (عمل من أعجبك) kata ‘amal disandarkan pada Man yang kedudukannya sebagai pendahuluan.

d.    Apabila khabarnya adalah jumlah fi’liyah dan fa’ilnya adalah dhamir yang tersembunyi yang kembali kepada mubtada, contohnya (محمد يلعب الكرة =Muhammad bermain bola) kata yal’ab adalah khabar jumlah fi’liyah dan fa’ilnya dhamir.

e.    Mubtada’nya berupa كم الخبرية

Contoh: كم كتاب فى بيت ابي                            

f.     Mubtada’ dan khobarnya sama- sama معرفة atau sama  نكرة

           Contoh:انت استاذى

Yang kedua Khobar wajib mendahului mubtada’ apabila :

a)    Khobarnya berupa dhorof sedangkan mubtada’ berupa nakiroh

           Contoh : عندى كتاب. وراء المدرسة بستان

b)    Khobarnya berupa jer majrur sedangkan mubtada’nya berupa nakiroh.

           Contoh : فى الفصل تلاميد. فى المسجد مسلمون

c)    Khobarnya berupa isim istifham .

            Contoh :   اين الطريق؟

d)    Mubtada’nya mengandung dlomir yang kembali kepada khobarnya.

            Contoh : فى الفصل صاحبه

4.    Ditinjau dari segi keadaannya.

Apabila kita melihat posisi letak kalimat jumlah ismiyah mubtada’ adakala wajib dihilangkan kalimat mubtada’nya dan adakala boleh dihilangkan atau tidak.Maka Mubtada’ yang wajib dihilangkan harus ada beberapa hal yaitu :

a.    Apabila mubtada ikut kepada Sifat yang marfu’ dengan tujuan memuji atau menghina atau sebagai rasa iba dan saying, contohnya (مررت بزيدٍ الكريمُ) mubtadanya dihilangkan karena disifati oleh sifat yang rafa’, asalnya adalah (هو الكريم). Contoh lain (ابتعد عن اللئيم الخبيث =jauhilah dari orang jahat yang jelek sifatnya), asalnya adalah (هو الخبيث) mubtada nya wajib dihilangkan karena disifati oleh sifat yang marfu”.

b.    Jika menunjukkan jawaban terhadap sumpah, contohnya (في ذمتي لأقولن الصدق) asalnya adalah (في ذمتي عهد) dengan menghilangkan mubtadanya yaitu ‘ahd.

c.     Jika khabarnya adalah mashdar yang mengganti fi’ilnya, contohnya (صبر جميل) asalnya adalah (صبري صبر جمل) maka wajib menghilangkan mubtadanya.

d.    Jika khabarnya dikhususkan pada pujian atau cercaan setelah kata Ni’ma (نعم) dan Bi’sa (بئس) dan terletak diakhir, contohnya (نعم الطالب محمد=alangkah baiknya pelajar yaitu Muhammad) dan (بئس الطالب الكسول =alangkah buruknya pelajar yang pemalas), muhammad dan kusul pada contoh di atas adalah khabar dari mubtada yang dihilangkan, asalny adalah (هو محمد) dan (هو الكسول).

Selain dari empat masalah ini, mubtada juga kebanyakan dihilangkan jika terletak setelah kata qaul (berkata), contohnya (ويقولون طاعة) mubtadanya dihilangkan, asalnya adalah (أمرنا طاعة), contoh lain, (قالوا أضغات أحلام) dan (وقالت عجوز عقيم) asalnya adalah (هي أضغات) dan (أنا عجوز). Atau mubtadanya terletak setelah Fa sebagai jawban dari syarat, contohnya (وإن يخالطوهم فإخوانكم) asalnya adalah (فهم إخوانكم).

Mubtada boleh dihilangkan dan dihapus sebagai jawaban atas pertanyaan orang yang bertanya (كيف محمد)?, dan jawabnya (بخير) aslinya adalah (هو بخير), atau Mubtada itu boleh dihilangkan apabila ada kalimat atau kata yang menunjukkan tentangnya, contohnya firman Allah SWT (من عمل صالحا فلنفسه ومن أساء فعليها) kata Falinafsihi kedudukannya rafa’ khabar dan dhamir Ha majrur bil idhafah sedangkan mubtadanya mahzuf (dihilangkan) begitu juga pada wa man asaa fa’alaiha, asalnya adalah (من عمل صالحا فعمله لنفسه) dan (ومن أساء فإساءته عليها).

Dan boleh juga menghilangkan Mubtada dan khabarnya apabila ada dalil yang menunjukkan kepadanya, contohnya (الذين فازوا في مسابقة الإلقاء لهم جوائز ، والذين ساهموا أيضا) yang dihapus dari kalimat tersebut adalah mubtada dan khabarnya yaitu (لهم جوائز) aslinya haruslah (والذين ساهموا أيضا لهم جوائز) dihapus karena telah dijelaskan pada kalimat sebelumnya.

C.Ciri Mubtada’ dan Khabar

Untuk membedakan antara mubtada’ dan khabar dapat kita perhatikan beberapa hal sebagai syarat mubtada’ antara lain :

1. Mubtada’ harus rafa’

2.  Mubtada’ harus berbentuk ma’rifah

Sedangkan syarat kahabar antara lain :

1.   Khabar harus berharakat rafa’

2.    Khabar harus nakirah

 3.   Khabar harus disesuaikan dengan mubtada’, baik jenis kelamin, mufrad, mutsanna, jamak,dan segala segi ‘irabnya.

Contoh :

Al-kurrash nazhifah/ نظيفة  الكراسة (buku tulis itu bersih)

Al-ustaz mahirun/  الاستاد ماهر (guru itu pintar)

Dari kedua kalimat di atas terlihat bahwa kata benda yang pertama (mubtada’)الكراسة , dan الاستاد berbentuk ma’rifah dan berharakat rafa’/ dhammah, sedangkan kata benda kedua sebagai khabar yaitu, نظيفة danماهر terlihat dua kata tersebut adalah nakirah, dan selalu sesuai dengan khabarnya, seperti kata نظيفة  adalah muannast.

Secara teori umum tidak boleh membuat mubtada’ darikata benda nakirah, kecuali yang  memperbolehkannya, antara lain :

1. Hendaknya mubtada’nya didahului huruf naif (peniadaan) atau istifham (kata tanya), contoh : ma rajulun qa’imun/   ما رجل قائم     (tiada seorang laki-laki yang berdiri), hal rajulun jalisun/ هل رجل جالس  (apakah ada seorang laki-laki yang duduk?)

2.Hendaknya mubtada’ nakirah disifati, seperti firman Allah SWT dalam (QS 2: 221) ولعبد مؤمن خير (sesungguhnya budak yang mukmin itu lebih  baik)

3.Hendaknya mubtada’ nakirah dimudhafkan, contoh : خمس صلوات كتبهن الله     (shalat lima waktu telah diwajibkan oleh Allah SWT)

4.Hendaknya khabar mendahului mubtada’ yang nakirah yaitu, dalam bentuk jar majrur atau zharaf (keterangan tempat dan waktu) contoh : عندك رجل    (disisimu terdapat seorang laiki-laki) في الدار امراة  (di dalam rumah terdapat seorang perempuan).






















BAB III

PENUTUP

A.   Kesimpulan

     I.        Pola struktur kalimat bahasa Arab pada dasarnya terdiri atas dua pola, yaitu jumlah   ismiyah atau disebut kalimat nominal dan jumlah fi’liyah atau disebut kalimat verbal.

   II.        Mubtada’ dalam kalimat nominal/ ismiyah ada dua macam, yaitu :

-       Mubatada’ isim zhahir/ jelas, contoh : al-rajulu muthi’un/ مطيع     الرجل (orang itu ta’at)

-       Mubtada’ isim dhomir ialah mubtada’nya terdiri dari kata ganti seperti ana/  انا dan saudara-saudaranya

  III.        Untuk membedakan antara mubtada’ dan khabar dapat kita perhatikan beberapa hal sebagai syarat mubtada’ antara lain :

-       Mubtada’ harus rafa’.

-       Mubtada’ harus berbentuk ma’rifah

          Sedangkan syarat kahabar antara lain :

·         Khabar harus berharakat rafa’.

·         Khabar harus nakirah

·         Khabar harus disesuaikan dengan mubtada’, baik jenis kelamin, mufrad, mutsanna, jamak dan segala segi ‘irabnya.

B. SARAN

Saran yang dapat kami berikan diantaranya adalah:

1. Dalam mempelajari bahasa arab, hendaknya kita mempelajari dulu dasar-dasar dari bahasa arab itu sendiri, dalam hal ini pengetahuan tentang ilmu sharaf dan nahwu menjadi sangat penting adanya

2.Hendaknya dosen memberikan tugas yang lebih diperinci dan mudah dalam pencarian sehingga dikemudian hari menjadikan tugas ini menjadi lebih spesifik atas satu pokok bahasan saja.




DAFTAR PUSTAKA

·         Al Faruqi, Isma’il Raji’ dan Louis Lamnya Al Faruqi.Atlas Budaya Islam, diterjemahkan oleh Ilyas Hasan. Bandung : Mizan (2000)

·         Aminudin. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung : Sinar Baru (1998)

·         Anwar, K.H. Muhammad. Ilmu Nahwu Terjemahan MATAN AL-JURUMIYYAH DAN ‘IMRITHY. Penerbit : Sinar Baru algensindo Bandung.

·         Chaer, Abdul. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : Renika Cipta (1995)

·         Ichwan, Nor. Memahami Bahasa Al Quran.Semarang : Walisongo Press (2002)

·         Syarkun Syuhada’. Menimba Ilmu Nahwu Dalam Al-Jurumiyyah Tebu Ireng. Pustaka Syarkun Jakarta.

No comments:

Post a Comment