KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan baik. Makalah yang berjudu” Arab Pra Islam
Dan Pasca Islam Serta Masa-Masa Kejayaan Islam”
Dalam penulisan
makalah ini kami banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak.Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, Hal itu dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan kami.
Oleh karena itu,kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari para pembaca.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita.
Akhir
kata, kami mohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan.
Metro, 28 Januari 2019
Penulis
DAFTAR ISI
COVER........................................................................................................................ i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Arab
merupakan suatu lokasi geografis yang memiliki keterkaitan sejarah dengan
munculnya Islam. Islam mulai tumbuh di wilayah padang pasir, oleh beberapa
ilmuwan, dinilai karena ada banyak factor yang menghendaki lahirnya agama baru
yang lebih egaliter dan humanis, agama yang tidak lagi memandang wanita sebelah
mata, menganggap bayi perempuan sebagai sebuah aib dan fanatisme kesukuan yang
berpotensi besar bertabuhnya genderang perang dan yang menutup ruang toleransi
dan lain-lain.
Masa sebelum Islam, khususnya kawasan
jazirah Arab ini , disebut masa jahiliyyah. Julukan semacam ini
terlahir disebabkan oleh terbelakangnya moral masyarakat Arab khususnya Arab
pedalaman (badui) yang hidup menyatu dengan padang pasir dan area tanah yang
gersang. Mereka pada umumnya hidup berkabilah. Mereka berada dalam lingkungan
miskin pengetahuan. Situasi yang penuh dengan kegelapan dan kebodohan tersebut,
mengakibatkan mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan,
membunuh anak dengan dalih kemuliaan, memusnahkan kekayaan dengan perjudian,
membangkitkan peperangan dengan alasan harga diri dan kepahlawanan. Suasana
semacam ini terus berlangsung hingga datang Islam di tengah-tengah mereka.
Namun demikian, bukan
berarti masyarakat Arab pada waktu itu sama sekali tidak memiliki peradaban.
Bangsa Arab sebelum lahirnya Islam dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki
kemajuan ekonomi. Makkah misalnya pada waktu itu
merupakan kota dagang bertaraf internasional.
Hal ini
diuntungkan oleh posisinya yang sangat strategis karena terletak di
persimpangan jalan penghubung jalur perdagangan dan jaringan bisnis dari Yaman
ke Syiria. Rentetan
peristiwa yang melatar belakangi lahirnya Islam merupakan hal yang sangat
penting untuk dikaji.
Seperti
perabadan lain, Islam juga mengalami beberapa periode dalam sejarah. Ada satu
periode dimana Islam bisa menunjukan eksistensinya di Eropa bahkan dunia.
Periode tersebut terjadi pada saat para filsuf, ilmuwan, dan insinyur muslim
bisa memberikan banyak konstribusi terhadap perkembangan teknologi dan
kebudayaan. Mereka melakukannya baik dengan menjaga tradisi yang telah ada
maupun dengan menciptakan penemuan-penemuannya sendiri.
Sebaliknya,
bangsa Eropa waktu itu justru sedang berada di zaman kegelapan (dark ages),
dimana dominasi gereja sangatlah besar sehingga setiap kebenaran (ilmu
pengetahuan) harus sesuai dengan paham gereja. Apabila ada yang menyampaikan
sesuatu yang bertentangan dengan gereja, maka akan mendapatkan hukuman bahkan
sampai dibunuh. Hal tersebut menyebabkan terisolasinya ilmu pengetahuan dari
manusia. Padahal sekitar tahun 300 SM, peradaban Eropa sudah dibangun
sedemikian rupa oleh bangsa Yunani dan Romawi. Ilmuan-ilmuan Yunani
mengembangkan filsafat, sementara orangRomawi mengembangkan birokrat.
B. Rumusan Masalah
Dari
latar belakang diatas, yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana
keadaan masyarakat Arab sebelum Islam datang?
2. Bagaimana
keadaan masyarakat Arab setalah Islam datang?
3.
Seperti Apakah Masa-masa Kejayaan Islam?
3.
Siapa Saja Orang Yang Brpengaruh Pada Masa Kejayaan islam?
C. Tujuan Pembahasan
Tujuan
dari penyusunan makalah ini antara lain :
1. Mengetahui
keadaan masyarakat Arab sebelum Islam datang.
2. Mengetahui
keadaan masyarakat Arab setelah Islam datang.
3. Mengetahui Seperti Apa Masa Kejayaan
Islam?
4. Mengetahui Siapa Sajakah Orang Yang
Berpengaruh Pada Masa Kejayaan Islam?
BAB
II
PEMBAHASAN
D. Masyarakat Arab Pra-Islam ( Sebelum Islam )
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab dikenal dengan nama masyarakat
Jahiliyah, yang berarti bodoh. Sebutan Jahiliyah diberikan kepada masyarakat
Arab dikarenakan pola kehidupan mereka yang bersifat primitive dan ummi yang berarti buta (tidak
mengenal baca dan tulis). Masyarakat Arab pra-Islam hidup
berpindah-pindah (nomaden) dan berkabilah-kabilah. Sebuah kabilah yang dipimpin
oleh seorang kepala yang disebut Syaikh Al-Qabilah. Antara kabilah satu dan yang lain sering terjadi persaingan dan
perselisihan. Perselisihan keras antar kabilah memaksa bangsa Arab pra-Islam
menghabiskan sebagian besar waktu mereka dalam peperangan.
Sebab-sebab
terjadinya perang adakalanya bersifat elementer seperti perebutan kekuasaan,
adakalanya bersifat spele seperti kata-kata yang bersifat menyinggung perasaan
seseorang, dan lain sebagainya.Akibat dari perselisihan itu tidak sedikit darah
yang tertumpah sia-sia. Kebiasaan buruk masyarakat Arab Jahiliyah adalah
membunuh anak perempuan mereka dengan dalih kemuliaan dan kesucian.Sebagian
besar bangsa Arab Jahiliyah adalah penyembah berhala, masing-masing kabilah memiliki
berhala sendiri-sendiri. Yang terkenal diantaranya adalah Lata, Uzza, Manah,
dan Hubal. Patung milik Quraisy yang terbuat dari aqiq dan batu hitam.
Arab
pada zaman Jahiliyah sudah mencapai kebudayaan rohani yang tidak kalah maju
dari kebudayaan bangsa-bangsa lain semasa di sekitarnya. Akan tetapi, mereka
tertinggal jauh oleh bangsa lain dalam aspek kebudayaan yang bersifat materi.
Gambaran mengenai kebudayaan bangsa Arab Jahiliyah dapat disimak dari bahasa
Arab dan syair Jahiliyah yang menunjukkan kehidupan yang telah mencapai tingkat
kemajuan.
Peranan
syair sangat dominan dalam kehidupan masyarakat Jahiliyah. Syair pada zaman
Jahiliyah memiliki peranan sebagai pers dalam kebudayaan modern dengan syair
mobilitas sosial bisa dilakukan dengan efektif.
E. Periode Klasik ( Sesudah Islam )
Periode
klasik (650-1250M). Periode ini meliputi dua masa. Yaitu: masa kemajuan dan
masa disintegrasi. Yang termasuk dalam masa kemajuan, yaitu masa Rasulullah
SAW, Khulafaurrasyidun, Bani Umayyah, dan masa permulaan daulah Abbasiyah. Pada
masa ini, Islam berkembang dari system keagamaan pada masa Makkah menjadi
sistem kenegaraan pada masa Madinah, dan pada masa Bani Umayyah di Damaskus.
Setelah itu Islam berkembang menjadi pusat kebudayaan dan peradaban, yaitu pada
masa Daulah Abbasiyah di Baghdad dan Daulah Amawiyah II di Andalusia. Setelah
Islam mencapai puncak keemasannya (650-1000M), maka tibalah masa
disintegrasi (1000-1250) yang ditandai dengan lemahnya kekuasaan khalifah
dan semata-mata sebagai boneka bagi pengawalnya dan lemahnya control
pemerintahan pusat terhadap daerah-daerah yang jauh letaknya dari pusat.
Pada
masa kemajuan itu, ditandai dengan diutusnya Nabi menjadi Rosul, dan adapula
yang berpendapat bahwa periode ini di tandai dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah
ke Madinah (16 Juli 622M). Nabi diutus untuk menyebarkan agama Islam dan
perantaranya adalah Al-Qur’an. Karena pada saat itu masyarakat Jahiliyah sangat
gandrung dengan kesusastraan.
Maka
dari itu, Al-Qur’an di turunkan dengan bahasa sastra, seperti yang lazim
dipakai oleh masyarakatnya. Hal ini didasarkan atas pertimbangan:
1. Untuk
menyesuaikan diri dengan tradisi masyarakatnya, sehingga dengan demikian mereka
bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab.
2. Untuk
menantang mengungguli syair-syair Jahiliyah, sehingga Al-Qur’an memiliki daya
hidup dan vitalis yang tinggi di tenah-tengah aktivitas dan kepandaian orang
Arab dalam bersyair. Fungsi Al-Qur’an sebagai mu’jizat bagi kelangsungan tugas
Nabi Muhammad SAW.
Selama
10 tahun Rasulullah tinggal di Madinah, sehingga ia dan kaun muslimin
mendapatkan kesempatan untuk menaklukkan Makkah dan membebaskan Ka’bah dari
berbagai berhala yang sebelumnya berada di sekitarnya. Nabi meninggal di usia
63 tahun pada tahun 632M/11H. Setelah itu kepemimpinan umat Islam berada di
tangan Abu Bakar (w.634M/11H). Kebijakan pertama yang di lakukannya adalah
memerangi orang-orang yang murtad dan golongan yang menolak membayar zakat.
Pada masa itu pula ia berhasil mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf yang
sebelumnya berserakan dalam berbagai tulisan di pelepah kurma, batu tipis,
tulang, dan lembaran kain .
Umar
bin Khattab (w. 644M/23 H) melanjutkan kepemimpinan Islam setelah Abu Bakar.
Usman bin Affan (w. 656M/35H), pada masa pemerintahannya ia berhasil menyusun
Al-Qur’an dalam satu bentuk bacaan, yang sebelumnya memiliki banyak versi.
Usman meninggal terbunuh usia 82 tahun ketika ia membaca Al-Qur’an akibat
ketidakpuasan rakyatnya atas kebijakan politiknya yang cenderung nepotisme.
Pada
masa Ali bin Abi Tholib (w.661M/40H) terjadi berbagai kerusuhan dan kekacauan
pasca terbunuhnya Usman. Ada satu keputusan yang ditetapkan
Ali, yaitu memerangi kelompok pembangkan tersebut yang berujung pada perang
Jamal yang dipimpin oleh Aisyah dan perang Shiffin yang dipimpin oleh Mu’awiyah.
Pemerintahan Abu Bakar ke Ali disebut masa khulafaurrasyidun. Setelah
itu, beralih menjadi kerajaan turun temurun. Dinasti pertama didirikan oleh
Mu’awiyah bin Abi Sufyan (w.661M/41H).
Dinasti Basni Umayyah mencapai puncak kejayaan pada masa Al-Walid (w.715M/96H).
Sedang, Umar bin Abdul Aziz(w.720M/101H) adalah seorang khalifah Umayyah yang
terkenal dengan ketaqwaan, kezuhudan, dan kejujurannya. Ia adalah khalifah
ketiga setelah Abu Bakar dan Umar dari Khulafaurrasyidun.
Secara umum masa kekuasaan dinasti Umayah berlangsung selama 91 tahun.
Khalifah-khalifah besar dari dinasti Umayah adalahMu’awiyah bin Abi Sufyan
(660-680 M)/40-60H), ‘Abd al-Malik bin Marwan (685-705M/65-86H), al-Walid bin
‘Abd al-Malik(705-715M/86-96H0, Umar bin ‘Abd Aziz (717-720M/99-101H).
Sedangkan Marwan bin Muhammad (w.750M/132H).
Penyebab keruntuhan dinastu Umayah ada dua faktor,pertama: faktor intern, yaitu adanya persaingan dan perebutan kekuasaan
diantara para keluarga khalifah. Kedua: factor ekstern, yaitu adanya perselisihan dan pengaruh yang
cenderung yang mengarah pada fanatisme golongan Arab Mudariyah di Utara dan
Yamaniyah di Selatan.
Dinasti Abbasiyah adalah pelanjut dinasti Umayyah. Pendiri dinasti tersebut
adalah Abu al-Abbas al-Saffah (w.754M/136H) yang didukung oleh kaum Mawali
pimpinan Abu Muslim yang berasal dari Khurasan, yaitu orang muslim non-Arab.
Meskipun
al-Saffah disebut sebagai pendiri Bani Abbasiyah, namun penggantinya Abu Ja’far
Al-Mansur (w.776M/158H) yang harus disebut sebagai Pembina dan peletak dasar
dinasti yang sebenarnya. Dinasti Abbasiyah mencapai puncak kejayaan pada masa
Harun Al-Rosyid (w.809M/193H), perhatiannya lebih banyak di curahkan untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat dan keperluan social sampai-sampai kehidupan
mewah, kesenangan dan kebesarannya digambarkan dalam cerita seribu satu malam.
Pengganti
al_rosyid adalah Al-Amin (w.813M/198H), putranya adalah Al-Ma’mun
(w.833M/218H). selanjutnya diganti oleh al-Mu’tashim (w.843M/227H). jadi,
khalifah dinati Abbasiyah yang terakhir adalah al-Mu’tashim (w.1258M/656H) dan
ia berkuasa ketikakota Baghdad diserbu oleh serangan Hulagu
Khan tahun 1258 M. Perbedaan antara dinasti Bani Umayyah dengan dinastu Bani
Abbasiyah adalah: Pertama, Bani Umayyah lebih mendahulukan solidaritas Arabnya, Kedua, konsentrasi Bani Umayyah lebih
besar pada perluasan wilayah Islam, dan dinasti Bani Abbasitah lebih banyak
konsentrasinya pada peningkatan sumber daya menusia dengan menonjolkan ilmu
pengetahuan dan ketrampilan, hingga peradaban Islam mencapai tingkat yang
tinggi.
Secara
umum periode klasik terbagi menjadi dua. Pertama, pada masa kemajuan dan
keemasan Islam yang terjadi mulai tahun 650M sampai tahun 1000M. Sedangkan
period kedua adalah masa kemunduran dan disintegrasi yang dimulai tahun 1000M
hingga runtuhnya Baghdad pada tahun 1258 M.
F. Masa Kejayaan Islam
Masa Kejayaan Islam (750 M-1258 M) adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di Dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan
kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan
menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri.
Banyak dari
perkembangan dan pembelajaran ini dapat dihubungan dengan geografi. Bahkan
sebelum kehadiran Islam, kota Mekah merupakan pusat perdagangan di Jazirah Arab dan Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan seorang pedagang. Tradisi ziarah ke Mekah menjadi pusat pertukaran gaagasan dan barang. Pengaruh yang dipegang
oleh para pedagang Muslim atas jalur perdagangan Afrika-Arab dan Arab-Asia
sangat besar sekali. Akibatnya, peradaban Islam tumbuh, berkembang, dan meluas
dengan berdasarkan pada ekonomi dagangnya, berkebalikan dengan orang-orang Kristen, India, dan Cina yang membangun masyarakat dengan berdasarkan kebangsawanan kepemilikan
tanah pertanian. Pedagang membawa barang dagangan dan menyebarkan agama mereka
ke Cina (berujung pada banyaknya penduduk Islam di Cina dengan perkiraan jumlah
sekitar 37 juta orang, yang terutama merupakan etnis Uyghur Turk yang wilayahnya dikuasai oleh Cina), India, Asia tenggara, dan
kerajaan-kerajaan di Afrika barat. Ketika para pedagang itu kembali ke Timur
Tengah, mereka membawa serta penemuan-penemuan dan ilmu pengetahuan baru dari
tempat-tempat tersebut.
Hanya dalam bidang
filsafat, para ilmuwan Islam relatif dibatasi dalam menerapkan gagasan-gagasan
nonortodoks mereka. Meskipun demikian, Ibnu Rushd dan polimat Persia Ibnu Sina membberikan kontribusi penting dalam melanjutkan karya-karya Aristoteles, yang gagasan-gagasannya mendominasi pemikiran nonkeagamaan dunia Islam
dan Kristen. Mereka juga mengadopsi gagasan-gagasan dari Cina dan India, yang
dengan demikian menambah pengetahuan mereka yang sudah ada sebelumnya. Ibnu
Sina dan para pemikir spekulatif lainnya seperti al-Kindi dan al-Farabi menggabungkan Aristotelianisme dan Neoplatonisme dengan gagasan-gagasan lainnya yang diperkenalkan melalui Islam.
Literatur filsafat Arab
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Ladino, yang ikut membantu perkembangan filsafat Eropa modern.
Sosiolog-sejarawan Ibnu Khaldun, warga Kartago Konstantinus orang Afrika yang menerjemahkan naskah-naskah kedokteran Yunani dan kumpulan teknik
matematika Al-Khwarzimi adalah tokoh-tokoh penting pada Zaman Kejayaan Islam. Pada masa ini
juga terjadi perkembangan filsuf non-Muslim. Filsuf Yahudi Moses Maimonides yang tinggal di Andalusia adalah salah satu contohnya.
Banyak ilmuwan penting Islam yang hidup dan berkegiatan selama Zaman Kejayaan Islam. Di antara
pencapaian para ilmuwan pada periode ini antara lain perkembangan trigonometri ke dalam bentuk modernnya (sangat menyederhanakan penggunaan praktiknya
untuk memperhitungkan fase bulan), kemajuan pada bidang optik pada Cammera Obscura 200 tahun sebelum Leonardo Da Vinci, memberi komentar pada Euklides dan Ptolomeus perihal penembusan dan perjalanan sinar,[1] dan kemajuan pada bidang astronomi.
Kedokteran adalah bagian penting dari kebudayaan Islam Abad Pertengahan. Sebagai
tanggapan atas keadaan pada waktu dan tempat mereka, para dokter Islam
mengembangkan literature medis yang kompleks dan banyak yang meneliti dan
menyintesa teori dan praktik kedokteran.
Kedokteran Islam
dibangun dari tradisi, terutama pengetahuan teoretis dan praktis yang telah
berkembang sebelumnya di Yunani, Romawi, dan Persia. Bagi para ilmuwan Islam, Galen dan Hippokrates adalah orang-orang yang unggul, disusul oleh para ilmuwan Hellenik di Iskandariyah. Para ilmuwan Islam menerjemahkan banyak sekali tulisan-tulisan Yunani
ke bahasa Arab dan kemudian menghasilkan pengetahuan kedokteran baru dari
naskah-naskah tersebut. Untuk menjadikan tradisi Yunani lebih mudah diakses,
dipahami, dan diajarkan, para ilmuwan islam mengusulkan dan menjadikan lebih
sistematis pengetahuan kedokteran Yunani-Romawi yang luas dan kadang
inkonsisten dengan cara menulis ensikolpedia dan ikhtisar.
Pembelajaran Yunani dan Latin dipandang sangat
jelek di Eropa Kristen Abad Pertengahan Awal, dan baru pada abad ke-12, setelah
adanya penerjemahan dari bahasa Arab membuat Eropa
Abad Pertengahan kembali mempelajari kedokteran Hellenik, termasuk karya-karya
Galen dan Hippokrates. Jauh sebelum itu, bangsa Eropa telah banyak belajar dengan umat Islam
dalam hal kedokteran. Di Sisilia, sebuah sekolah kedokteran dengan dokter-dokter Muslim sebagai
pengajarnya, menjadi sumber ilmu kedokteran di Eropa.[2] Dengan memberikan pengaruh yang setara atau
mungkin lebih besar di Eropa Barat adalah Kanon Kedokteran karya Ibnu
Sina, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dibuat manuskrip lalu
dicetak dan disebarkan ke seluruh Eropa. Selama abad kelima
belas dan keenam belas saja, karya tersebut diterbitkan lebih dari lima kali.
Sejarah mencatat, ada sekitar 300 buku kedokteran yang diterjemahkan bangsa
Eropa.
Di dunia Islam Abad Pertengahan, rumah sakit mulai dibangun di semua kota besar, misalnya
di Kairo, rumah sakit Qalawun memiliki staf
pegawai yang terdiri dari dokter, apoteker, dan suster. Orang juga dapat
mengakses apotek, dan fasilitas penelitian yang menghasilkan kemajuan pada
pemahaman mengenai penyakit menular, dan penelitian mengenai mata serta
mekanisme kerja mata.
Selain di sungai Nil, Tigris dan Efrat, sungai-sungai yang dapat dilalui tidaklah banyak, jadi perjalanan
lewat laut menjadi sangat penting. Ilmu navigasi amat sangat berkembang,
menghasilkan penggunaan sekstan dasar (dikenal sebagai kamal). Ketika digabungankna dengan peta terinci
pada periode ini, para pelaut berhasil berlayar menjelajahi samudara dan tak
lagi perlu bersusah payah melalui gurun pasir. Para pelaut muslim juga berhasil
menciptakan kapal dagang besar bertiang tiga ke Laut Tengah. Nama karavel kemungkinan berasal dari perahu terawal Arab yang dikenal sebagai qārib.[3] Sebuah kanal buatan yang menghubungkan sungai Nil dengan Terusan Suez dibangun, menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah meskipun itu sering berlumpur.
G. Tokoh-tokoh Pada Masa Kejayaan Islam
1. Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid) dalam bahasa Arab ابن رشد dan dalam bahasa Latin Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia).
a.
Ikhtisar
Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu
Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah
seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak
ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami
filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja.
Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan
pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi
sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd
dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Kristen pada abad pertengahan, termasuk
pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah
kedokteran dan masalah hukum.
b.
Pemikiran Ibnu Rusyd
Karya-karya Ibnu Rusyd
meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan,
essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam
bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak
ada. Filsafat Ibnu
Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa
pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap
keberagamaannya.
c. Karya
1.
Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
2.
Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)
2. Al-Ghazali
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus; 1058 / 450 H –
meninggal di Thus; 1111 /
14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan
teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya
bernama Hamid. Gelar dia al-Ghazali
ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu
kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia
(Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi'i
menunjukkan bahwa dia bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin.
Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim
dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat
Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan
manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah
Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad.
Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan
dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat
kelahirannya.
a.
Sifat Pribadi
Imam al-Ghazali
mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Ia digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia sangat dihormati di dua dunia
Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia
berjaya menguasai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat
mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup
untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan kesenangan hidup demi
mencari ilmu pengetahuan. Sebelum dia memulai pengembaraan, dia telah
mempelajari karya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid
Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah
mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem,
dan Mesir. Ia
terkenal sebagai ahli filsafat Islam
yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat
bermutu tinggi. Sejak kecil lagi dia telah dididik dengan akhlak
yang mulia. Hal ini menyebabkan dia benci kepada sifat riya, megah,
sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat,
wara', zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan
mencari sesuatu untuk mendapat ridha Allah SWT.
b.
Pendidikan
Pada tingkat
dasar, dia mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena
kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini
membolehkan dia menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab
minatnya yang mendalam terhadap ilmu, dia mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq,
usul fiqih,filsafat,
dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab
hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas
itu, dia melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih,
Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, dia telah
dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiyah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad
pada tahun 484 Hijrah. Kemudian dia dilantik pula sebagai Naib Kanselor di
sana. Ia telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah,Madinah,Mesir dan
Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu
pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, dia menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran
manusia dalam semua masalah.
3. Al Kindi
Abu Yūsuf Yaʻqūb ibn ʼIsḥāq aṣ-Ṣabbāḥ al-Kindī (Arab: أبو يوسف يعقوب
بن إسحاق الصبّاح الكندي, Latin: Alkindus) (lahir: 801 - wafat: 873), dikenal
sebagai filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam. Semasa
hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia
mahir berbahasa
Yunani. Banyak karya-karya para filsuf Yunani
diterjemahkannya dalam bahasa Arab; antara lain karya Aristoteles dan
Plotinos.
Sayangnya ada sebuah karya Plotinus yang diterjemahkannya sebagai karangan
Aristoteles yang berjudul Teologi menurut Aristoteles, yang di kemudian
hari menimbulkan sedikit kebingungan.
Ia adalah
filsuf berbangsa Arab dan
dipandang sebagai filsuf Muslim pertama. Secara etnis, al-Kindi lahir dari
keluarga berdarah Arab yang berasal dari suku Kindah, salah satu suku besar
daerah Jazirah Arab Selatan. Salah satu kelebihan al-Kindi adalah menghadirkan
filsafat Yunani
kepada kaum Muslimin setelah terlebih dahulu mengislamkan pikiran-pikiran asing
tersebut.
Al Kindi telah
menulis banyak karya dalam pelbagai disiplin ilmu, dari metafisika, etika, logika dan
psikologi,
hingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, astrologi dan
optik,
juga meliputi topik praktis seperti parfum, pedang, zoologi, kaca, meteorologi dan
gempa bumi.
Di antaranya ia
sangat menghargai matematika. Hal ini disebabkan karena matematika, bagi
al-Kindi, adalah mukaddimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat.
Mukaddimah ini begitu penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk
mencapai keahlian dalam filsafat tanpa terlebih dulu menguasai matematika.
Matematika di sini meliputi ilmu tentang bilangan, harmoni, geometri dan
astronomi.
Yang paling
utama dari seluruh cakupan matematika di sini adalah ilmu bilangan atau aritmetika
karena jika bilangan tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun.
Al-Kindi
membagi daya jiwa
menjadi tiga: daya bernafsu (appetitive), daya pemarah (irascible),
dan daya berpikir (cognitive atau rational). Sebagaimana Plato, ia
membandingkan ketiga kekuatan jiwa ini dengan mengibaratkan daya berpikir
sebagai sais kereta dan dua kekuatan lainnya (pemarah dan nafsu) sebagai dua
ekor kuda yang menarik kereta tersebut. Jika akal budi dapat
berkembang dengan baik, maka dua daya jiwa lainnya dapat dikendalikan dengan
baik pula. Orang yang hidupnya dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu birahi
dan amarah diibaratkan al-Kindi seperti anjing dan babi, sedang bagi mereka
yang menjadikan akal budi sebagai tuannya, mereka diibaratkan sebagai raja.
Menurut
al-Kindi, fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran wahyu atau untuk
menuntut keunggulan yang lancang atau menuntut persamaan dengan wahyu. Filsafat
haruslah sama sekali tidak mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju
kebenaran dan mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu.
Ia
mendefinisikan filsafat
sebagai pengetahuan tentang segala sesuatu sejauh jangkauan pengetahuan manusia.
Karena itu, al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa filsafat memiliki
keterbatasan dan bahwa ia tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizat, surga, neraka,
dan kehidupan akhirat.
Dalam semangat ini pula, al-Kindi mempertahankan penciptaan dunia ex nihilio,
kebangkitan jasmani, mukjizat, keabsahan wahyu, dan kelahiran dan kehancuran
dunia oleh Tuhan.
Al-Kindi
mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian
diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna)
seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan berbagai aksi
kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks
terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid'ah,
dan dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam),
al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan
religius-ortodoks itu.
4. Al Farabi
Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi' (870-950, Bangsa Turk:
Farabi, Bahasa Persia: محمد فارابی ) singkat Al-Farabi adalah ilmuwan dan
filsuf Islam berasal dari
Farab, Kazakhstan.[1] Ia
juga dikenal dengan nama Abū Nasir
al-Fārābi (dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan
Ibn Uzalah Al- Farabi, juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir.
Kemungkinan
lain, Farabi adalah seorang Syi’ah Imamiyah[2]
(Syiah Imamiyah adalah salah satu aliran dalam islam di mana yang menjadi dasar
aqidah mereka adalah soal Imam) yang berasal dari Turki.
a. Kehidupan dan pembelajaran
Al-Farabi
berpakaian rapi sejak kecil. Ayahnya seorang opsir tentara Turki
keturunan Persia, sedangkan ibunya berdarah Turki asli. Sejak dini ia
digambarkan memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir
setiap subyek yang dipelajari. Pada masa
awal pendidikannya ini, al-Farabi belajar al-Qur’an,
tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan
ilmu hadits)
dan aritmetika
dasar.Al-Farabi muda belajar ilmu-ilmu islam dan musik di Bukhara,
dan tinggal di Kazakhstan sampai umur 50. Ia pergi ke Baghdad
untuk menuntut ilmu di sana selama 20 tahun.Setelah kurang lebih 10 tahun
tinggal di Baghdad,
yaitu kira-kira pada tahun 920 M, al Farabi
kemudian mengembara di kota Harran
yang terletak di utara Syria, di
mana saat itu Harran merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil. Ia
kemudian belajar filsafat dari Filsuf Kristen terkenal yang bernama Yuhana bin Jilad.Tahun
940M, al Farabi melajutkan pengembaraannya ke Damaskus dan
bertemu dengan Sayf al Dawla al Hamdanid, Kepala daerah (distrik) Aleppo,
yang dikenal sebagai simpatisan para Imam Syi’ah. Kemudian al-Farabi wafat di
kota Damaskus pada usia 80 tahun (Rajab 339 H/ Desember 950 M) pada masa
pemerintahan Khalifah Al Muthi’ (masih dinasti Abbasiyyah).Al-Farabi adalah
seorang komentator filsafat
Yunani yang ulung di dunia
Islam. Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ia
mengenal para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan
Plotinus
dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan,
bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan
sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqaa. Selain itu, ia juga
dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik. Al-Farabi dikenal
dengan sebutan "guru kedua" setelah Aristoteles,
karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru
pertama dalam ilmu filsafat. Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya
menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik
Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam
konteks agama-agama wahyu. Al-Farabi hidup pada daerah otonomi di bawah
pemerintahan Sayf al Dawla dan di zaman pemerintahan dinasti Abbasiyyah, yang
berbentuk Monarki
yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Ia lahir dimasa kepemimpinan Khalifah
Mu’tamid (869-892 M) dan meninggal pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muthi’
(946-974 M) di mana periode tersebut dianggap sebagai periode yang paling kacau
karena ketiadaan kestabilan politik. Dalam kondisi demikian, al-Farabi
berkenalan dengan pemikiran-pemikiran dari para ahli Filsafat
Yunani seperti Plato dan
Aristoteles dan
mencoba mengkombinasikan ide atau pemikiran-pemikiran Yunani Kuno dengan
pemikiran Islam untuk menciptakan sebuah negara pemerintahan yang ideal (Negara
Utama).
b. Buah Pemikiran
1. Karya
Selama hidupnya
al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari Ilmu Pengetahuan, karya-karya al-
Farabi dapat ditinjau menjdi 6 bagian
2. Logika
a. Ilmu-ilmu Matematika
b. Ilmu Alam
c. Teologi
d. Ilmu Politik dan kenegaraan
e. Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah).
Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah
(Kota atau Negara Utama) yang membahas tetang pencapaian kebahagian melalui
kehidupan politik dan hubungan antara rejim yang paling
baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam. Filsafat politik
Al-Farabi, khususnya gagasannya mengenai penguasa kota utama mencerminkan
rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi'ah.
3.
Pemikiran tentang Asal-usul Negara
dan Warga Negara
Menurut
Al-Farabi manusia merupakan warga negara
yang merupakan salah satu syarat terbentuknya Negara. Oleh karena manusia tidak
dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain, maka manusia
menjalin hubungan-hubungan (asosiasi).
Kemudian, dalam proses yang panjang, pada akhirnya terbentuklah suatu Negara.
Menurut Al-Farabi, negara atau kota merupakan
suatu kesatuan masyarakat yang paling mandiri dan paling mampu memenuhi
kebutuhan hidup antara lain: sandang, pangan, papan, dan keamanan,
serta mampu mengatur ketertiban masyarakat, sehingga pencapaian kesempurnaan
bagi masyarakat menjadi mudah. Negara yang warganya sudah mandiri dan bertujuan
untuk mencapai kebahagiaan yang nyata , menurut al-Farabi, adalah Negara Utama.
Menurutnya, warga
negara merupakan unsur yang paling pokok dalam suatu Negara. yang diikuti
dengan segala prinsip-prinsipnyaprinsip-prinsipnya (mabadi) yang berarti
dasar, titik awal, prinsip, ideologi, dan konsep dasar.
Keberadaan
warga negara sangat penting karena warga negaralah yang menentukan sifat, corak serta jenis
Negara. Menurut Al-Farabi perkembangan dan/atau kualitas negara ditentukan oleh
warga negaranya. Mereka juga berhak memilih seorang pemimpin negara,
yaitu seorang yang paling unggul dan paling sempurna di antara mereka.
Negara Utama
dianalogikan seperti tubuh manusia yang sehat dan utama, karena secara alami,
pengaturan organ-organ dalam tubuh manusia bersifat hierarkis dan sempurna. Ada
tiga klasifikasi utama:
Pertama,
jantung. Jantung merupakan organ pokok karena jantung adalah organ pengatur
yang tidak diatur oleh organ lainnya.
Kedua, otak.
Bagian peringkat kedua ini, selain bertugas melayani bagian peringkat pertama,
juga mengatur organ-ogan bagian di bawahnya, yakni organ peringkat ketiga,
seperti : hati, limpa, dan organ-organ reproduksi.
Organ bagian
ketiga. Organ terbawah ini hanya bertugas mendukung dan melayani organ dari
bagian atasnya.
Al-Farabi membagi negara ke dalam lima bentuk, yaitu:
a.
Negara
Utama (Al-Madinah Al-Fadilah): negara yang dipimpin oleh para nabi dan
dilanjutkan oleh para filsuf; penduduknya merasakan kebahagiaan.
b.
Negara
Orang-orang Bodoh (Al-Madinah Al-Jahilah): negara yang penduduknya tidak
mengenal kebahagiaan.
c.
Negara
Orang-orang Fasik: negara yang penduduknya mengenal kebahagiaan, tetapi tingkah
laku mereka sama dengan penduduk negara orang-orang bodoh.
d.
Negara
yang Berubah-ubah (Al-Madinah Al-Mutabaddilah): pada awalnya penduduk
negara ini memiliki pemikiran dan pendapat seperti penduduk negara utama, namun
kemudian mengalami kerusakan.
e.
Negara
Sesat (Al-Madinah Ad-dallah): negara yang dipimpin oleh orang yang
menganggap dirinya mendapat wahyu dan kemudian ia menipu orang banyak dengan
ucapan dan perbuatannya.
4.
Pemikirannya Tentang Pemimpin
Dengan prinsip
yang sama, seorang pemimpin negara merupakan bagian yang paling penting dan
paling sempurna di dalam suatu negara. Menurut Al Farabi, pemimpin adalah
seorang yang disebutnya sebagai filsuf yang berkarakter Nabi yakni orang yang
mempunyai kemampuan fisik dan jiwa (rasionalitas dan
spiritualitas).
Disebutkan
adanya pemimpin generasi pertama (the first one – dengan segala
kesempurnaannya (Imam) Selanjutnya
al-Farabi mengingatkan bahwa walaupun kualitas lainnya sudah terpenuhi , namun
kalau kualitas seorang filsufnya
tidak terpenuhi atau tidak ambil bagian dalam suatu pemerintahan, maka Negara
Utama tersebut bagai “kerajaan tanpa seorang Raja”. Oleh karena itu, Negara
dapat berada diambang kehancuran. dan karena sangat sulit untuk ditemukan
(keberadaannya) maka generasi kedua atau generasi selanjutnya sudah cukup, yang
disebut sebagai (Ra’is) atau pemimpin
golongan kedua.
5. Ibnu Sina
Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga
sebagai Avicenna di Dunia Barat
adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia
(sekarang Iran). Ia juga seorang penulis yang produktif di mana sebagian besar
karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, dia adalah
"Bapak Pengobatan Modern" dan masih banyak lagi sebutan baginya yang
kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya
yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan Referensi di bidang
kedokteran selama berabad-abad. Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn
bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina
atau dalam tulisan arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara,
sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia),
dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamada n, Persia (Iran).Dia adalah pengarang
dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan
pada filosofi dan
kedokteran.
Dia dianggap oleh banyak orang sebagai "bapak kedokteran modern." George Sarton
menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu
yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu". Karyanya yang
paling terkenal adalah The Book of Healing dan
The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun
fi At Tibb).
a.
Latar Belakang
Ibnu Sina
merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dokter dan penulis aktif yang lahir di zaman
keemasan Peradaban
Islam. Pada zaman tersebut
ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani,
Persia dan India. Teks Yunani dari zaman Plato, sesudahnya hingga zaman Aristoteles
secara intensif banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para
ilmuwan Islam. Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang
didirikan oleh Al-Kindi.
Pengembangan ilmu pengetahuan pada masa ini meliputi matematika, astronomi, Aljabar, Trigonometri,
dan ilmu pengobatan. Pada zaman Dinasti Samayid
dibagian timur Persian
wilayah Khurasan dan
Dinasti Buyid
dibagian barat Iran dan Persian memberi suasana yang mendukung bagi
perkembangan keilmuan dan budaya. Di zaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan
Baghdad
menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahun dunia Islam. Ilmu ilmu lain seperti studi tentang Al-Quran dan Hadist
berkembang dengan perkembangan dengan suasana perkembangan ilmiah. Ilmu lainya
seperti ilmu filsafat, Ilmu Fikih, Ilmu Kalam
sangat berkembang dengan pesat. Pada masa itu Al-Razi dan
Al-Farabi
menyumbangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu pengobatan dan filsafat. Pada
masa itu Ibnu Sina memiliki akses untuk belajar di perpustakaan besar di wilayah
Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota Ray, Kota Isfahan dan
Hamedan.
Selain fasilitas perpustakaan besar yang memiliki banyak koleksi buku, pada
masa itu hidup pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu Raihan Al-Biruni seorang astronom terkenal, Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur
seorang matematikawan terkenal dan sangat teliti, Abu al-Khayr Khammar seorang
fisikawan dan ilmuwan terkenal lainya.
b.
Karya Ibnu Sina
Jumlah karya
yang ditulis Ibnu Sina (diperkirakan antara 100 sampai 250 buah judul).
Kualitas karyanya yang bergitu luar biasa dan keterlibatannya dalam praktik
kedokteran, mengajar, dan politik, menunjukkan tingkat kemampuan yang luar
biasa. Beberapa Karyanya yang sangat terkenal di antara lain :
1.
Qanun
fi Thib (Canon of Medicine) (Terjemahan bebas : Aturan Pengobatan)
2.
Asy
Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
3.
An
Najat
4.
Mantiq
Al Masyriqin (Logika Timur)
Selain karya filsafatnya tersebut, Ibnu Sina meninggalkan sejumlah
esai dan syair. Beberapa esainya yang terkenal adalah :
1. Hayy ibn Yaqzhan
2. Risalah Ath-Thair
3. Risalah fi Sirr Al-Qadar
4. Risalah fi Al- 'Isyq
5. Tahshil As-Sa'adah
Dan beberapa Puisi terpentingnya yaitu :
1.
Al-Urjuzah
fi Ath-Thibb
2.
Al-Qasidah
Al-Muzdawiyyah
3.
Al-Qasidah
Al- 'Ainiyyah
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
1. Bangsa
Arab sebelum datangnya Islam, dalam kondisi primitive, dan ummi. Oleh karena
itu, mereka disebut Arab Jahiliyah. Periode Klasik Islam Arab mempunyai dua
masa, yaitu : masa kemajuan, dan masa disintegrasi.
2. banyak adat orang Arab yang dinilai kurang baik dan
bertentangan dengan nilai –nilai kemanusiaan secara umum dan yang kemudian
dirubah setelah datangnya Islam di jazirah tersebut. Kebiasaan kebiasaan
tersebut antara lain peribadatan dengan banyak tuhan yang sesembahannya itu
dimanifestasikan dengan batu, kayu atau logam atau berupa benda-benda alam yang
dinilai memiliki kekuatan supra natural.
Kebiasaan ini kemudian mulai digeser dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Kebiasaan buruk lainnya adalah memperlakukan perempuan dan budak tidak
selayaknya manusia yang kemudian dicounter sedemikian rupa oleh Islam melalui
ajaran-ajaranya untuk diposisikan pada derajat yang sama dengan yang lainnya
b. Saran
Semoga apa yang ada dalam makalah ini bermanfaat bagi pembaca terutama bagi
kami penulis sendiri. kami penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun dari pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
2.
Study Islam IAIN Ampel Surabaya. ( Pengantar Study
Islam.Surabaya: Sunan Ampel Press, 2010),
3. Abd.
Jabbar Adlan, (Sejarah dan Pembaharuan Islam, Surabaya: Anika
Bahagia Offset. 1995),
4. Study
Islam IAIN Ampel Surabaya. (Pengantar Study Islam.Surabaya: Sunan Ampel
Press. 2010
5. Hasan
Ibrahim Hasan. ( Tarijh al-Islam al-Siyasi wa al-Dini wa al-Thaqafi wa
al-Ijtima’I, vol II Cairo: MAktabat al-Nahdah al Misriyah, 1979),
6. Study
Islam IAIN Ampel Surabaya, Pengantar Study Islam. (Surabaya: Sunan Ampel
Press, 2010),
7. CE.
Bosworth, The Islamic Dynasties, Terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan,
1993),
No comments:
Post a Comment