KATA
PENGANTAR
Syukur
Alhamdulillah penulis ucapkan
kehadirat Allah Subhanahu
Wata’ala (SWT), yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada
penulis, sehingga dapat menyelesaikan Makalah ini.
Penulisan Makalah
ini merupakan bagian dari persyaratan untuk menyelesaikan Tugas agama.
Penulis telah menerima banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak sehingga dapat menyelesaikan Makalah ini., yang telah menyediakan waktu dan fasilitas dalam rangka
pengumpulan data.
Kritik dan saran
demi perbaikan Makalah ini sangat diharapkan dan akan diterima dengan
kelapangan data. Akhirnya semoga Makalah ini dapat dikembangkan menjadi
penelitian yang sebenarnya.
Batanghari Nuban, 25 Januari 2019
Penulis,
DAFTAR
ISI
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Manusia merupakan
makhluk Allah yang paling sempurna, karena Allah telah melengkapi manusia
dengan akal pikiran. Namun dengan akalnya yang terbatas manusia senantiasa
berselisih, mendengki, bermusuhan, dan bertikai sehingga tidak mampu membuat
pedoman hidup yang dapat membawa mereka bahagia di dunia dan akhirat. Itulah
sebabnya Allah mengutus para Rasul untuk memperbaiki kehidupan umat manusia dan
membimbing hamba-Nya yang lain menuju jalan yang diridhoi-Nya. Tugas mereka
sangat berat dan hanya hamba-hamba Allah terpilih saja yang sanggup melakukan
hal tersebut atas izin-Nya.
BAB II
PEMBAHASAN
a)
Kisah
Nabi Adam ‘Alaihis Salam
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada para
malaikat tentang penciptaan Adam ‘alaihis salam, Dia berfirman:
“Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al Baqarah: 30)
Yakni makhluk yang satu dengan yang lain saling menggantikan. Demikianlah
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada para malaikat
tentang penciptaan Adam sebagaimana Dia memberitahukan perkara besar sebelum
terwujud.
Kemudian para malaikat bertanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meminta
diterangkan hikmah diciptakannya manusia, karena para malaikat mengetahui bahwa
di antara manusia ada yang membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah.
Menurut Qatadah, mereka mengetahui demikian karena mereka melihat makhluk
sebelum Adam, yaitu jin dan Hin (sekelompok jin atau golongan jin yang lemah).
Menurut Ibnu Umar, dua ribu tahun sebelum Adam diciptakan, jin sudah ada
(menempati bumi), lalu mereka menumpahkan darah, maka Allah Subhanahu
wa Ta’ala mengutus satu pasukan malaikat, lalu mereka mengusirnya ke
jazirah laut.”
Menurut para malaikat, jika hikmah diciptakannya manusia adalah untuk
beribadah kepada Allah, maka sesungguhnya mereka telah beribadah kepada-Nya,
mereka berkata,
“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya
Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 30)
Dia mengetahui maslahat yang lebih kuat dengan menciptakan Adam dan
keturunannya, karena akan ada di antara mereka yang menjadi para nabi dan
rasul, para shiddiqin, para syuhada, para ulama dan orang-orang yang
mengamalkan agama-Nya, yang mencintai-Nya, dan mengikuti para rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam ‘alaihis
salam dari tanah di bumi dan airnya, lalu membentuknya dengan bentuk
yang sebaik-baiknya, kemudian Dia tiupkan ruh ke dalamnya, maka jadilah dia
sebagai manusia yang hidup yang terdiri dari daging, darah, dan tulang. Hari
penciptaan Adam ‘alaihis salam adalah hari Jumat,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ
عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ
الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ
الْجُمُعَةِ
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari
itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surge, dan pada hari itu ia
dikeluarkan darinya, dan Kiamat tidaklah QS.adi kecuali pada hari Jumat.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى
خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ فَجَاءَ بَنُو آدَمَ
عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ فَجَاءَ مِنْهُمْ الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ
وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan Adam dari segenggam yang
digenggam-Nya dari semua tanah di muka bumi. Oleh karena itu, anak cucu Adam
hadir sesuai keadaan tanah (warna dan tabiatnya), maka di antara mereka ada
yang berkulit merah, putih, hitam dan antara itu. Ada pula yang lunak, keras,
yang jelek dan yang baik.” (HR. Tirmidzi, ia berkata, “Hadis ini hasan
shahih.” Hadis ini dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani dalam Al
Misykat (100) dan Ash Shahiihah (1630). Menurut
penyusun Tuhfatul Ahwadzi, hadis ini diriwayatkan pula oleh Ahmad,
Abu Dawud, Hakim dan Baihaqi)
Setelah Adam hidup dan bisa bergerak, maka Allah Subhanahu wa
Ta’ala mengajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu, Dia berfirman,
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,” (QS. Al Baqarah: 31)
Menurut Ibnu Abbas, yaitu nama-nama yang biasa dikenal manusia, seperti
manusia, hewan, tanah, tanah yang datar, laut, gunung, unta, keledai dan lain
sebagainya seperti umat-umat dan lain-lain. Menurut Mujahid, Allah Subhanahu
wa Ta’ala mengajarkan kepadanya nama setiap binatang, setiap burung
dan segala sesuatu. Menurut Ar Rabii’, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan
kepadanya nama-nama para malaikat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menunjukkan keutamaan Adam
dan kedudukannya di sisi-Nya kepada para malaikat, maka Dia tunjukkan kepada
malaikat segala sesuatu yang telah diajarkan kepada Adam, Dia berfirman:
“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar
orang-orang yang benar!” (QS. Al Baqarah: 31)
Para malaikat pun menjawab,
“Mahasuci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah
Engkau ajarkan kepada kami.” (QS. Al Baqarah: 32)
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Adam
untuk memberitahukan kepada mereka nama-nama benda yang tidak diketahui para
malaikat; mulailah Adam menyebutkan nama-nama benda yang diperlihatkan
kepadanya, ketika itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
kepada para malaikat,
“Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui
rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan?” (QS. Al Baqarah:
33)
Kemudian QS.adilah dialog antara Adam ‘alaihis salam dengan para malaikat sebagaimana yang
diceritakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada
kita:
خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ
وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ مِنْ
الْمَلَائِكَةِ فَاسْتَمِعْ مَا يُحَيُّونَكَ تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ
ذُرِّيَّتِكَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالُوا السَّلَامُ عَلَيْكَ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
عَلَى صُورَةِ آدَمَ فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى الْآنَ
“Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam dengan
tingginya 60 hasta, kemudian Dia berfirman, “Pergilah dan ucapkan salam kepada
para malaikat itu, lalu dengarkanlah salam penghormatan mereka kepadamu;
sebagai salammu dan salam keturunanmu.” Maka Adam berkata, “As Salaamu
‘alaikum.” Mereka menjawab, “As Salaamu ‘alaika wa rahmatullah,” mereka
menambah “wa rahmatullah.” Maka setiap orang yang masuk ke surga mengikuti rupa
Adam, dan bentuk makhluk senantiasa berkurang (semakin pendek) hingga
sekarang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para malaikat
untuk sujud kepada Adam untuk menghormatinya, maka mereka pun sujud kecuali
Iblis, ia menolak sujud dan bersikap sombong terhadap perintah Tuhannya, lalu
Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya kepadanya –sedangkan Dia
lebih mengetahui-,
“Wahai Iblis! Apa yang menghalangimu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan
dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa)
termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS.. Shaad: 75)
Lalu Iblis menjawab dengan angkuhnya,
“Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan
dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS.. Shaad: 76)
Iblis tidak menyadari padahal tanah lebih baik daripada api, tanah lebih
bermanfaat daripada api, karena pada tanah terdapat ketenangan, mudah diolah
dan menumbuhkan tanaman, sedangkan pada api terdapat keadaan yang tidak
terarah, ringan, cepat dan membakar.
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan Iblis dari
rahmat-Nya dan menjadikannya terusir dan terlaknat, Dia berfirman,
“Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang
terkutuk,– Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (QS.. Shaad: 77-78)
Kemudian Iblis semakin benci kepada Adam dan keturunannya, dia bersumpah
dengan nama Allah untuk menghias keburukan kepada mereka, dia berkata, “Demi
kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya,—Kecuali hamba-hamba-Mu
yang ikhlas di antara mereka.” (QS.. Shaad: 82-83)
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepadanya,
“Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan
dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya.” (QS.. Shaad: 85)
As Suddiy menceritakan dari Abu Shalih dan Abu Malik dari Ibnu Abbas, dan
dari Murrah dari Ibnu Mas’ud serta dari beberapa orang sahabat, bahwa mereka
berkata, “Iblis dikeluarkan dari surga dan Adam ditempatkan di surga, maka Adam
berjalan-jalan di surga sendiri tanpa ada pasangan yang dapat menenteramkannya,
ia pun tidur, ketika bangun, ternyata di dekat kepalanya ada seorang wanita
yang duduk, Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakannya dari
tulang rusuknya.
Adam lalu bertanya kepadanya, “Siapa engkau?” Ia menjawab, “Seorang
wanita.” Adam bertanya, “Untuk apa engkau diciptakan?” Ia menjawab, “Agar
engkau dapat merasa tenteram denganku.” Lalu para malaikat berkata kepadanya
melihat ilmu yang dimiliki Adam, “Siapa namanya wahai Adam?” Ia menjawab,
“Hawa’.” Mereka berkata lagi, “Mengapa (disebut) Hawa’?” Adam menjawab, “Karena
ia diciptakan dari sesuatu yang hidup.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Adam dan istrinya
Hawa’ untuk tinggal di surga dan memakan buah-buahan yang ada di sana serta
menjauhi sebuah pohon sebagai ujian kepada keduanya, Dia berfirman,
“Wahai Adam! diamilah olehmu dan istrimu surga ini, dan makanlah
makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan
janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang
yang zalim.” (QS. Al Baqarah:
35)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memperingatkan Adam dan
istrinya agar tidak tergoda oleh Iblis serta mengingatkan permusuhan Iblis
kepada keduanya, Dia berfirman,
“Wahai Adam! Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu,
maka sekali-kali janganlah ia sampai mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang
menyebabkan kamu menjadi celaka.” (QS. Thaha: 117)
Mulailah Iblis berpikir tentang cara menyesatkan Adam dan Hawa’, setelah
berhasil menemukan caranya, maka ia pun melakukan rencananya itu, ia pun
mendatangi Adam dan Hawa’ dan berkata,
“Wahai Adam! Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon kekekalan dan kerajaan
yang tidak akan binasa?” (QS.. Thaha: 120)
Maka Adam dan Hawa membenarkan ucapan Iblis itu karena sumpahnya, dimana
menurut keduanya tidak mungkin ada seorang yang berani bersumpah secara dusta
dengan nama Allah, maka Adam dan Hawa’ pun pergi mendatangi pohon itu dan
memakan buahnya. Ketika itulah terjadi peristiwa yang mengejutkan, keduanya
terbuka auratnya dan telanjang karena maksiatnya dan keduanya pun merasa malu
dan sedih sekali, segeralah keduanya mendatangi pepohonan dan memetik
daun-daunnya untuk menutupi auratnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
kepada Adam dan Hawa’,
“Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku
katakan kepadamu, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu
berdua?” (QS.. Al A’raaf: 22)
Ketika itu Adam dan Hawa’ sangat menyesal sekali karena telah bermaksiat
kepada Allah, segeralah keduanya bertobat dan beristighfar, keduanya berkata,
“Ya Tuhan Kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau
tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk
orang-orang yang rugi.” (QS.. Al A’raaf:
23)
Setelah Adam dan Hawa’ menyesal dan beristighfar, maka Allah Subhanahu
wa Ta’ala menerima tobatnya dan memerintahkan keduanya untuk turun ke
bumi dan hidup di sana.
Mulailah Adam hidup di bumi dan membuka lembaran perjalanan hidupnya yang
baru di sana. Di bumi itu, Adam memiliki banyak keturunan, ia mendidik dan
mengajarkan mereka serta memberitahukan mereka, bahwa hidup di dunia merupakan
ujian dan cobaan, dan hendaknya mereka berpegang teguh dengan petunjuk Allah
serta berwaspada terhadap tipu daya setan. Ia juga mengajak keturunannya agar
menyembah Allah, memberitahukan kepada mereka tentang kebenaran dan keimanan,
memperingatkan mereka akan bahayanya syirk, kemaksiatan, dan bahayanya menaati
setan sampai ia wafat.
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimi’rajkan ke
langit, maka Beliau bertemu Nabi Adam ‘alaihis salam di langit
pertama dan dikatakan kepada Beliau, “Ini adalah bapakmu Adam ‘alaihis
salam, maka ucapkanlah salam kepadanya.” Maka Beliau mengucapkan salam
kepadanya dan Adam ‘alaihis salammenjawab salamnya dan berkata,
“Selamat datang anak yang saleh dan nabi yang saleh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberitahukan
kepada kita, bahwa manusia akan mendatangi Adam ‘alaihis salam dan
berkata, “Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia. Allah menciptakanmu dengan
tangan-Nya, meniupkan ruh (ciptaan)-Nya kepadamu, dan memerintahkan para
malaikat untuk sujud kepadamu dan menempatkanmu di surga, tidakkah engkau
memberikan syafaat untuk kami kepada Tuhanmu, tidakkah engkau melihat keadaan
kami ini dan apa yang menimpa kami? Tetapi Adam ‘alaihis salam tidak
bisa memberikannya dan menyebutkan uzurnya. Ia malu kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala karena pernah memakan pohon yang dilarang-Nya sehingga ia
menyuruh mereka pergi mendatangi nabi yang lain.
b)
Kisah
Nabi Hud ‘Alaihis Salam
بسم الله الرحمن الرحيم
Nabi
Hud ‘alaihis salam tinggal di
negeri Yaman, di sebuah tempat yang bernama Al Ahqaaf (bukit-bukit berpasir),
di sana tinggal kaum ‘Aad pertama yang nasab mereka sampai kepada Nabi Nuh.
Mereka tinggal di rumah-rumah yang memiliki tiang-tiang yang besar sebagaimana
difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“(Yaitu)
penduduk Iram (ibu kota tempat tinggal kaum ‘Aad) yang mempunyai
bangunan-bangunan yang tinggi–Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti
itu, di negeri-negeri lain,” (QS. Al Fajr: 7-8)
Mereka
juga membangun istana-istana dan benteng-benteng yang tinggi dan membanggakan
diri dengan bangunan-bangunan itu. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu
wa Ta’ala:
“Apakah
kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main
(bermewah-mewah) –Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud agar kamu
kekal (di dunia)?” (QS. Asy Syu’ara: 128-129)
Mereka
juga memiliki peradaban yang tinggi; mereka unggul dalam bidang pertanian
karena melimpahnya air yang segar kepada mereka, di samping mereka memiliki
harta dan binatang ternak yang banyak. Tempat mereka ketika itu menjadi ladang
yang subur dan hijau, penuh dengan kebun-kebun yang indah dan mata air.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala juga mengaruniakan kepada mereka bentuk fisik yang
berbeda dengan yang lain, badan mereka tinggi dan kuat. Apabila mereka
berperang atau menyerang suatu kaum, maka mereka dapat memenangkan peperangan
itu dan serangan mereka begitu mengerikan. Hal ini sebagaimana firman
Allah Ta’ala menyebutkan
perkataan Nabi Hud kepada mereka,
“Dan
apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang yang kejam dan
bengis.–Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.–Dan bertakwalah
kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.–Dia
telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak,–Dan
kebun-kebun dan mata air,” (QS. Asy Syu’ara: 130-134)
Tetapi,
meskipun nikmat-nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan
kepada mereka begitu banyak, namun mereka tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala terhadapnya, bahkan mereka menyekutukan-Nya dengan
sesuatu, mereka sembah patung-patung, dan mereka adalah kaum yang pertama
menyembah patung setelah banjir besar zaman Nabi Nuh. Sebagaimana firman Allah,
“Dan
ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai
pengganti-pengganti (yang berkuasa) setelah lenyapnya kaum Nuh, dan Allah telah
melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka
ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu mendapat keberuntungan.” (Terj.
Al A’raaf: 69)
Tidak
hanya itu, mereka juga mengerjakan berbagai maksiat dan dosa serta mengadakan
kerusakan di bumi, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus
Nabi Hud ‘alaihis salam kepada mereka
untuk menunjukkan jalan yang lurus; Beliau mengajak mereka menyembah hanya
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan
melarang mereka berbuat syirk dan melakukan berbagai kemaksiatan.
Beliau
juga mengingatkan mereka agar bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya
yang diberikan-Nya kepada mereka, Beliau berkata kepada mereka, “Wahai
kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan yang berhak disembah
bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”(QS.
Al A’raaf: 65)
Mereka
pun bertanya-tanya tentang keadaan diri Nabi Hud ‘alaihis
salam, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Hud sehingga mengatakan
kata-kata seperti itu?” Hud menjawab,
“Sesungguhnya
aku adalah rasul yang dapat dipercaya bagimu—Oleh karena itu, bertakwalah kamu
kepada Allah dan taatilah aku.” (QS. Asy Syu’ara: 125-126)
Maka
kaumnya membantahnya dengan kasar dan sombong sambil berkata,
“Sesungguhnya
Kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami
menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS.
Al A’raaf: 66)
Hud
menjawab,
“Wahai
kaumku! Tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah
utusan dari Tuhan semesta alam.– Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku
kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (QS.
Al A’raaf: 67-68)
Kaumnya
pun semakin sombong di samping menolak dengan keras beribadah kepada
Allah Subhanahu
wa Ta’ala, mereka berkata kepada Nabi Hud ‘alaihis
salam,
“Wahai
Hud! Kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami
sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu,
dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu–Kami tidak mengatakan
melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas
dirimu…dst.” (QS. Huud: 53-54)
Meskipun
begitu Nabi Hud ‘alaihis salam tetap bersabar
dan mengajak mereka untuk mengikuti kebenaran. Beliau mengingatkan mereka akan
nikmat-nikmat Allah kepada mereka dengan harapan mereka mau bertobat kepada
Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan meminta ampunan kepada-Nya. Beliau berkata
kepada mereka,
Dan
bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu
ketahui.–Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan
anak-anak,–Dan kebun-kebun dan mata air,” (QS. Asy Syu’ara: 131-134)
Beliau
juga berkata:
“Wahai
kaumku! Mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia
menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan
kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS.
Huud: 52)
Tetapi
Nabi Hud ‘alaihis salam tidak
mendapatkan kaumnya selain sebagai manusia yang telah mati hatinya dan telah
menjadi keras seperti batu, memegang teguh kesesatan dan penyimpangannya dan
tetap kokoh menyembah patung. Mereka juga membalas nasihatnya dengan tindakan
zalim dan olok-olokkan, sehingga Nabi Hud berkata kepada mereka,
”Sesungguhnya
aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya
aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan,–dengan yang lain, sebab itu
jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh
kepadaku.–Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak
ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang
ubun-ubunnya–Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus–Jika kamu berpaling,
maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus
(untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum
yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit
pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu.” (QS.
Huud: 54-57)
Azab yang
Ditimpakan kepada Kaum Nabi Hud ‘alaihis salam
Mereka
tetap saja menyombongkan diri dan membanggakan diri dengan kekuatannya, dan
mereka berkata Nabi Hud dengan sombongnya,
“Siapakah
yang lebih kuat kekuatannya daripada kami?” (QS. Fushshilat: 15)
Mereka
juga mengolok-olok Nabi Hud dan meminta
kepadanya agar disegerakan azab. Mereka berkata,
“Maka
datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang
yang benar.” (Terj. Al A’raaf: 70)
Hud pun
menjawab,
“Sungguh
sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu
sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu
beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan
hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk
orang yamg menunggu bersama kamu”. (QS. Al A’raaf: 71)
Maka
mulailah azab Allah datang kepada kaum ‘Aad. Allah Subhanahu
wa Ta’ala mengirimkan kepada mereka hawa yang panas yang
membuat sumur-sumur dan sungai-sungai menjadi kering, tanaman dan buah-buahan
menjadi mati, hujan pun berhenti turun dalam waktu yang cukup lama, lantas
kemudian datang awan yang besar. Ketika mereka melihatnya, mereka bergembira
dan mengira bahwa mereka akan diberikan curahan hujan, mereka berkata,
“Inilah
awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.”
Mereka
mengira bahwa awan itu akan datang membawa kebaikan untuk mereka, menghilangkan
haus dahaga mereka, memberi minum hewan-hewan mereka dan menyirami kebun dan
tanaman-tanaman mereka. Padahal awan itu datang membawa azab bagi mereka.
Mereka pun ditimpa angin yang kencang yang terus menimpa mereka selama tujuh
malam delapan hari tanpa henti, yang membinasakan segala sesuatu yang ada di
hadapannya sehingga mereka semua binasa. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman:
“Maka
ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka,
berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.”
(Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta agar datang dengan segera (yaitu)
angin yang mengandung azab yang pedih,”–Yang menghancurkan segala sesuatu
dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi
kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan
kepada kaum yang berdosa. (QS. Al Ahqaaf: 24)
Dan
Allah Subhanahu
wa Ta’ala menyelamatkan Hud dan orang-orang yang beriman
bersamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka
Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang
besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami,
dan mereka bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS.
Al A’raaf: 72)
Hud ‘alaihis
salam pun pergi bersama orang-orang yang beriman ke tempat
yang lain; yang di sana mereka beribadah kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
c)
Kisah
Nabi Nuh Lengkap Dan Mukjizat Nabi Nuh
Alhamdulillah
sahabat Quran yang dimuliakan Allah. Kali ini kita akan kembali berbagi kisah
tentang riwayat Nabi yang wajib kita ketahui yaitu Kisah Nabi Nuh Alaihissalam.
Nabi Nuh merupakan nabi yang berada diurutan ketiga, setelah Nabi Adam
Alaihissalam, dan Nabi Idris Alaihissalam yang wajib kita ketahui dan pelajari,
dari total sekitar 124 ribu nabi, yang telah diutus oleh Allah SWT dengan
313 diantaranya adalah Nabi dan Rasul.
Nabi Nuh
sendiri merupakan keturunan Nabi Adam yang
ke-9. Dikutip dari Kitab Ibnu Katsir tentang kisah para Nabi, jarak
antara Nabi Nuh dengan Nabi Adam adalah 10 Abad. Agama Islam yang dibawa
Nabi Adam terus berkembang, tetapi setelah masa yang panjang antara nabi Idris
dan Nabi Nuh, menyebabkan umat manusia, yaitu kaum Nuh yang ada saat itu, sudah
sangat jauh menyimpang dari jalan Allah.
Mereka
kembali pada perbuatan ingkar dengan menyembah patung-patung yang mereka anggap
sebagai tuhan. Mereka meniru bapak-bapak mereka terdahulu dan menganggap bahwa
perbuatan itu pasti benar. Patung-patung itu pada awalnya adalah
orang-orang yang sholeh yang menjadi pewaris Nabi Idris, yang berdakwah agar
agama Islam selalu diamalkan oleh masyarakat.
Para
orang shaleh yang bernama wadd, shuwa ini selalu mengingatkan masyarakat agar
bertakwa kepada Allah SWT. Akan tetapi ketika para orang shaleh ini
meninggal maka iblis la’natullah mulai membisik-bisiki nenek moyang kaum Nuh
untuk tidak melupakan jasa mereka. Cara untuk tidak melupakan jasa mereka
adalah dengan membuat patung-patung yang menyerupai orang-orang shaleh
tersebut.
Pada
masa awal pembuatan patung ini, keimanan dan keislaman masyarakat masih
terjaga. Akan tetapi seiring dengan waktu dan setelah beberapa generasi, ketika
ilmu agama mulai memudar di antara mereka, maka secara perlahan tapi pasti
iblis mulai menggiring kaum Nabi Nuh untuk menyembah patung-patung ini dan
menjadikannya sebagai Tuhan. Demikianlah cara licik iblis dalam melakukan
tipu dayanya kepada umat manusia.
Iblis
lagi-lagi berhasil membuat keturunan Adam kembali tergoda bujuk rayu mereka.
Kaum Nuh kemudian menjadi sangat jauh kesesatannya dalam ketaatan kepada Allah.
Mengimani dan menyembah kepada Allah tidak mereka kenal lagi. Dan iblis pun
menjadi sangat senang, karena sudah berhasil mengajak manusia untuk menemaninya
menjadi penghuni neraka Jahanam.
Nuh yang
masih mau menggunakan akal sehatnya, dapat berfikir dan menghilangkan
ketidakberdayaan ini serta membuatnya terbebas dari segala bentuk
kesyirikan kaumnya, dan melepaskan diri dari penyembahan kepada patung-patung
buatan manusia tersebut. Allah SWT pun kemudian mengangkat Nuh sebagai penerus
risalah kenabian.
Nabi Nuh
Alaihissalam mendapatkan beberapa petunjuk dari Allah agar membersihkan
keimanan kaumnya untuk menyembah hanya kepada Allah. Pada masa itu, setiap
manusia memiliki usia yang panjang. Nuh diangkat oleh Allah menjadi nabi dan
rasul pada usia 480 tahun. Dalam AlQur’an disebutkan bahwa usia Nabi Nuh adalah
950 tahun.
Sepanjang
usianya tersebut, Nabi Nuh Alaihissalam berdakwah dan menyeru tiada kenal
lelah. Tidak hanya kepada orang-orang di sekitarnya tapi yang utama kepada
anggota keluarganya sendiri. Tetapi sayang setelah berdakwah selama hampir 5
abad, Nabi Nuh hanya memiliki sedikit pengikut, yaitu hanya sekitar 70 sampai
80 orang.
Pengikut
Nabi Nuh Alaihissalam hanya terdiri dari orang-orang biasa, bukan orang terpandang
dan kaya raya. Sedangkan kaum Nuh yang kafir itu tidak suka bila berdekatan dan
bersama-sama dengan orang-orang tersebut. Mereka menganggap bahwa derajat
mereka lebih baik daripada Nabi Nuh dan para pengikutnya.
Penolakan
atas ajakan Nabi Nuh tidak hanya berasal dari kaumnya saja tetapi juga berasal
dari kalangan keluarga terdekatnya sendiri. Istri beliau dan putra kandungnya
sendiri Kan’an. Dua orang ini secara terang-terangan menentang ajaran Nabi Nuh
dan mempengaruhi orang lain untuk tidak mengikuti ajaran Nabi Nuh Alaihissalam.
Bagi
kaum yang durhaka itu, Nabi Nuh Alaihissalam dianggap hanya sebagai manusia
biasa, dan tidak mempunyai kelebihan apa pun. Alasan itulah yang digunakan
untuk tidak menaati ajaran yang dibawa Nabi Nuh Alaihissalam.
Pemimpin-pemimpin
kaum yang kafir itu kemudian berkata, akan dengan rela mengikuti Nabi Nuh
Alaihissalam, dengan syarat pengikut-pengikut Nabi Nuh yang terdiri dari
orang-orang hina ditinggalkan atau dibiarkan dan diusir. Tentu saja Nabi Nuh
menolak syarat tersebut.
Pemimpin-pemimpin
kaum yang kafir merasa kesal kemudian menantang Nabi Nuh Alaihissalam. Bila
memang kedurhakaan mereka kepada Allah akan mendatangkan azab yang besar, maka
mereka meminta Nabi Nuh agar menyegerakan datangnya azab tersebut.
Nabi Nuh
kemudian mendapat petunjuk dari Allah SWT, sekaligus merupakan mukjizat
Nabi NuhAlaihissalam yaitu diperintah Allah untuk membangun bahtera
yang besar. Bahtera itu terbuat dari kayu jati. Bahtera tersebut kemudian
dikerjakan oleh Nabi Nuh bersama dengan para pengikutnya.
Pembuatan
bahtera tersebut ternyata memakan waktu yang lama yaitu mencapai 40 tahun.
Selama itu Nabi Nuh Alaihissalam diuji kesabarannya, menghadapi kaumnya yang
memandang pekerjaannya itu sebagai pekerjaan orang gila, karena membangun
bahtera di atas bukit di gurun pasir.
Menurut
Ibnu Abbas, bahtera Nabi Nuh memiliki ukuran panjang 1.200 hasta, lebar 600
hasta. Bahtera itu dibuat tiga tingkat yaitu tingkat pertama, diperuntukkan
untuk hewan, tingkat kedua untuk manusia, pengikut nabi Nuh dan tingkat ketiga
untuk bangsa burung. Bagian atas bahtera itu ditutup juga dengan kayu penutup.
Nabi Nuh
Alaihissalam kemudian berdoa kepada Allah SWT. Beliau memohon agar Allah jangan
membiarkan seorang pun dari kaum dan pemimpin yang kafir itu tetap tinggal di
muka Bumi. Jika dibiarkan hidup, nantinya mereka akan menyebabkan banyak orang
menjadi tersesat dan selalu berbuat maksiat.
Setelah
selesai membuat bahtera di atas bukit di tengah gurun pasir selama kurun waktu
empat puluh tahun. Maka Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk bersiap siap.
Sebagai tandanya adalah, akan muncul air dari dalam tannur di dapur rumah Nabi
Nuh AS.
Para
ahli tafsir menafsirkan bahwa tafsiran dari at-Tannur adalah oven (alat untuk
memanggang roti) di rumah Nabi Nuh. Apabila air muncul keluar dari tannur
tersebut serta mengalir maka itu merupakan perintah bagi Nabi Nuh untuk
bergerak.
Maka
pada suatu hari tannur itu mulai menunjukkan tanda-tandanya dari dalam rumah
Nabi Nuh. Mengetahui hal itu, Nabi Nuh pun segera membuka bahteranya dan
mengajak orang-orang mukmin untuk menaikinya. Jibril turun ke bumi. Nabi Nuh
membawa burung, binatang buas, binatang yang berpasang-pasangan, sapi, gajah,
semut, dan lain-lain.
Jibril
menggiring setiap dua binatang yang berpasangan agar setiap spesies binatang
tidak punah dari muka bumi. Menurut riwayat hewan yang pertama kali naik adalah
burung kakak tua, sedangkan hewan yang terakhir adalah keledai, diceritakan
bahwa iblis ikut bergelantung dipundak keledai.
Peristiwa
ini Allah gambarkan dalam Al Qur’an Surat Hud ayat 40, yang artinya :
“Hingga
apabila perintah Kami datang dan tannur telah memancarkan air, Kami berfirman:
‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan
dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang terdahulu ketetapan terhadapnya
dan (muatkanlah pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama Nuh
itu kecuali sedikit. “ (QS. Hud : 40)
Istri
Nabi Nuh tidak beriman kepadanya sehingga ia tidak ikut menaiki perahu, dan
salah satu anaknya, Kan’an juga tidak beriman. Hanya ada 80 orang mukmin yang
masuk ke dalam bahtera. Hewan-hewan darat Allah kumpulkan di lantai
pertama kapal, sedangkan lantai kedua manusia, dan lantai ke tiga jenis burung.
Agar Hewan buas tidak memangsa hewan jinak, maka Allah turunkan demam kepada
hewan hewan buas tersebut.
Setelah
semua makhluk yang Allah takdirkan selamat masuk kapal dan pintu kapal pun
ditutup maka dengan kekuasaan-Nya, Allah turunkan air dari langit dan air dari
bumi. Air mulai meninggi yang keluar dari celah-celah bumi. Tiada satu celah
pun di bumi kecuali keluar air darinya.
Selain
itu dari arah langit pun mulailah turun air hujan yang sangat deras dan belum
pernah terjadi sebelumnya sedemikian deras seperti itu di bumi, termasuk pula
sesudahnya tidak akan ada lagi hujan seperti itu. Lautan semakin bergolak dan
ombaknya menerpa apa saja dan menyapu bumi.
Isi
perut bumi pun bergolak dan bergerak dengan gerakan yang belum pernah terjadi
sebelumnya, tidak wajar sehingga mengakibatkan bola bumi tenggelam dalam air
untuk pertama kalinya, dan bumipun menjadi seperti sebuah bola air.
Peristiwa
ini Allah SWT gambarkan dalam Al Quran yang artinya :
“Maka
Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami
jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk
satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas
(bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS.
Al-Qamar: 11-13)
Air
terus naik tinggi hingga di atas kepala manusia, bahkan hingga melampaui
ketinggian pohon, dan puncak gunung. Akhirnya, seluruh permukaan bumi
diselimuti dengan air. Itulah banjir dan tsunami terdahsyat serta terbesar
sepanjang masa. Tidak ada banjir sebesar ini lagi hingga sampai tiba hari
kiamat nanti.
d)
Kisah
Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam
بسم الله الرحمن الرحيم
Ayyub ‘alaihis
salam adalah seorang nabi yang mulia yang nasabnya sampai
kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman,
وَمِن ذُرِّيَتِهِ دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ
وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan
kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) Yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub,
Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik.” (QS. Al An’aam: 84)
Sebelumnya Nabi Ayyub memiliki
harta yang banyak dengan bermacam jenisnya, seperti: hewan ternak, budak, dan
tanah. Ia juga memiliki istri yang saleh dan keturunan yang baik. Allah Subhanahu
wa Ta’ala ingin mengujinya, dan Allah apabila mencintai suatu
kaum, maka Dia menguji mereka, barangsiapa yang ridha dengan ujian tersebut,
maka dia mendapatkan keridhaan-Nya dan barangsiapa yang marah terhadap ujian
tersebut, maka dia mendapatkan kemurkaan-Nya (sebagaimana dalam hadis yang
diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahihul
Jami’ no. 2110).
Ayyub
adalah orang yang sabar dalam menghadapi ujian tersebut, hartanya yang banyak
habis, anak-anaknya meninggal dunia, semua ternaknya binasa, dan Nabi
Ayyub ‘alaihis salam sendiri
menderita penyakit yang sangat berat, tidak ada satu pun dari anggota badannya
kecuali terkena penyakit selain hati dan lisannya yang ia gunakan untuk
berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam menghadapi
musibah itu, ia tetap bersabar dan mengharap pahala, serta berdzikir di malam
dan siang, pagi dan petang.
Hari pun
berlalu, namun tidaklah berlalu hari itu kecuali penderitaan Ayyub semakin
berat, dan saat penderitaan yang dialaminya semakin berat, maka kerabatnya
menjauhinya, demikian pula kawan-kawannya, tinggallah istrinya yang sabar
mengurusnya dan memenuhi haknya. Istrinya terus mengurusnya, dan memenuhi
keperluannya, sampai ia rela bekerja dengan upah tidak seberapa untuk menafkahi
suaminya.
Ayyub
terus merasakan sakitnya, namun ia tetap sabar sambil mengharap pahala dari
Allah Subhanahu
wa Ta’ala, memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya, sehingga jadilah
Ayyub sebagai imam dan teladan dalam kesabaran.
Abu
Ya’la dan Al Bazzar meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ
أَيُّوبَ كَانَ فِي بَلَائِهِ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ سَنَةً، فَرَفَضَهُ الْقَرِيبُ
وَالْبَعِيدُ إِلَّا رَجُلَانِ مِنْ إِخْوَانِهِ، كَانَا مِنْ أَخَصِّ إِخْوَانِهِ
كَانَا يَغْدُوَانِ إِلَيْهِ وَيَرُوحَانِ إِلَيْهِ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا
لِصَاحِبِهِ: تَعْلَمُ وَاللَّهِ لَقَدْ أَذْنَبَ أَيُّوبُ ذَنْبًا مَا أَذَنَبَهُ
أَحَدٌ. قَالَ صَاحِبُهُ: وَمَا ذَاكَ؟ قَالَ: مُنْذُ ثَمَانِيَ عَشْرَةَ سَنَةً
لَمْ يَرْحَمْهُ اللَّهُ فَيَكْشِفُ اللَّهُ عَنْهُ. فَلَمَّا رَاحَا إِلَيْهِ،
لَمْ يَصْبِرِ الرَّجُلُ حَتَّى ذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، قَالَ أَيُّوبُ: مَا أَدْرِي
مَا تَقُولُ، إِلَّا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ أَنِّي كُنْتُ أَمُرُّ عَلَى
الرَّجُلَيْنِ يَتَنَازَعَانِ فَيَذْكُرَانِ اللَّهَ، فَأَرْجِعُ إِلَى بَيْتِي
فَأُكَفِّرُ عَنْهُمَا، كَرَاهِيَةَ أَنْ يُذْكَرَ اللَّهُ إِلَّا فِي حَقٍّ.
قَالَ: وَكَانَ يَخْرُجُ إِلَى حَاجَتِهِ، فَإِذَا قَضَى حَاجَتَهُ أَمْسَكَتِ
امْرَأَتُهُ بِيَدِهِ حَتَّى يَبْلُغَ، فَلَمَّا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَبْطَأَ
عَلَيْهَا، وَأُوحِيَ إِلَى أَيُّوبَ فِي مَكَانِهِ أَنِ {ارْكُضْ بِرِجْلِكَ
هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ} [ص: 42] فَاسْتَبْطَأَتْهُ فَتَلَقَّتْهُ
يَنْتَظِرُوا، وَأَقْبَلَ عَلَيْهَا قَدْ أَذْهَبَ اللَّهُ مَا بِهِ مِنَ
الْبَلَاءِ وَهُوَ عَلَى أَحْسَنِ مَا كَانَ، فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ: أَيْ
بَارَكَ اللَّهُ فِيكَ، هَلْ رَأَيْتَ نَبِيَّ اللَّهِ هَذَا الْمُبْتَلَى؟
وَوَاللَّهِ عَلَى ذَلِكَ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشْبَهَ بِهِ مُذْ كَانَ صَحِيحًا
مِنْكَ. قَالَ: فَإِنِّي أَنَا هُوَ. وَكَانَ لَهُ أَنْدَرَانِ: أَنْدَرُ لِلْقَمْحِ
وَأَنْدَرُ لِلشَّعِيرِ، فَبَعَثَ اللَّهُ سَحَابَتَيْنِ، فَلَمَّا كَانَتْ
إِحْدَاهُمَا عَلَى أَنْدَرِ الْقَمْحِ فَرَّغَتْ فِيهِ الذَّهَبَ حَتَّى فَاضَ،
وَأَفْرَغَتِ الْأُخْرَى عَلَى أَنْدَرِ الشَّعِيرِ الْوَرِقَ حَتَّى فَاضَ»
“.(قال الهيثمي: رَوَاهُ أَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّارُ، وَرِجَالُ الْبَزَّارِ
رِجَالُ الصَّحِيحِ).
“Sesungguhnya
Nabi Allah Ayyub mendapat cobaan selama delapan belas tahun, sehingga orang
dekat dan jauhnya menjauhinya selain dua orang saudara akrabnya yang sering
menjenguk di pagi dan sore.
Lalu
salah satunya berkata kepada yang lain, “Engkau tahu, demi Allah, dia telah
melakukan dosa yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun.” Kawannya berkata,
“Dosa apa itu?” Ia menjawab, “Sudah delapan belas tahun Allah tidak
merahmatinya dengan menghilangkan cobaan itu.”
Saat
keduanya menjenguknya di sore hari, maka salah satunya tidak sabar sehingga
menyampaikan masalah itu kepadanya. Ayyub berkata, “Aku tidak tahu apa yang
kamu katakan, hanya saja Allah mengetahui bahwa aku pernah melewati dua orang
laki-laki yang bertengkar, lalu keduanya menyebut nama Allah, kemudian aku
pulang ke rumahku dan membayarkan kaffarat untuk keduanya karena aku tidak suka
kedua orang itu menyebut nama Allah untuk yang tidak hak.”
Beliau
juga bersabda, “Nabi Ayyub keluar jika hendak buang hajat. Apabila ia telah
selesai buang hajat, maka istrinya menuntunnya sampai ke tempat buang hajat.
Suatu hari Nabi Ayyub terlambat dari istrinya, dan diwahyukan kepada Nabi Ayyub
di tempatnya, “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk
untuk mandi dan untuk minum.” (QS. Shaad: 42)
Istrinya
menunggunya cukup lama, dia menjumpai Ayyub sambil memperhatikannya sedang
berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya, dan Nabi
Ayyub dalam keadaan lebih tampan daripada sebelumnya. Saat istrinya melihat,
istrinya langsung berkata, “Semoga Allah memberkahimu, apakah engkau melihat
Nabi Allah yang sedang diuji ini? Demi Allah, aku tidak melihat seorang pun
yang lebih mirip ketika sehat daripada kamu?” Ayyub menjawab, “Akulah
orangnya.”
Ayyub
memiliki dua tumpukan gandum, yang satu untuk gandum dan yang satu lagi untuk
jewawut, lalu Allah mengirimkan dua awan. Saat salah satu dari awan itu berada
di atas tumpukan gandum, awan itu menumpahkan emas sehingga melimpah ruah,
sedangkan awan yang satu lagi menumpahkan perak ke tumpukan jewawut sehingga
melimpah ruah.” (Al Haitsamiy berkata, “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Al
Bazzar. Para perawi Al Bazzar adalah para perawi hadis shahih.” Hadis ini juga
dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah, 1:25)
Nabi Ayyub
Sembuh dari Sakit
Setelah
berlalu sekian lama, yaitu delapan belas tahun seperti yang diterangkan dalam
hadis di atas, maka Ayyub memohon kepada Tuhannya agar
menghilangkan derita yang menimpanya, ia berkata,
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ
الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“(Ya
Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang
Maha Penyayang di antara semua Penyayang.” (QS. Al Anbiyaa’: 83)
Maka
Allah mewahyukan kepada Ayyub agar menghentakkan kakinya ke tanah, lalu Ayyub
melakukannya, tiba-tiba memancarlah air yang sejuk, kemudian ia mandi
daripadanya, lalu Ayyub sembuh dengan izin Allah ‘Azza
wa Jalla. Tidak ada satu pun luka dan penyakit yang dirasakannya kecuali
sembuh seluruhnya, ia juga meminum air itu, sehingga tidak ada satu penyakit
yang ada dalam tubuhnya kecuali keluar dan dirinya kembali sehat seperti
sebelumnya sebagai orang yang rupawan.
Allah Subhanahu
wa Ta’ala telah menghilangkan penyakit yang menimpa Ayyub dan
jasadnya kembali sehat, Dia juga memberikan kekayaan lagi kepadanya,
mengembalikan harta dan anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَءَاتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ
رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ
“Dan
Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan bilangan mereka,
sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua
yang menyembah Allah.” (QS. Al Anbiyaa’: 84)
Demikianlah,
Allah Subhanahu
wa Ta’ala menjadikan Ayyub sebagai teladan dalam kesabaran
yang patut ditiru.
e)
Kisah
Nabi Ishaq ‘Alaihissalam
Nabi Ibrahim
Dikarunia Seorang Putra dari Istrinya Sarah
بسم الله الرحمن الرحيم
Setelah
Allah mengaruniakan Ismail kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,
Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala agar
dikaruniakan anak dari istrinya yang bernama Sarah; istri yang selalu setia
bersamanya dalam menegakkan kalimatullah. Maka Allah mengabulkan doanya dan
mengutus beberapa malaikat dalam bentuk manusia untuk menyampaikan kabar
gembira kepadanya akan lahirnya seorang anak dari istrinya; Sarah. Mereka juga
memberitahukan tujuan mereka yang lain, yaitu pergi mendatangi kaum Luth untuk
menimpakan azab kepada mereka.
Ketika
para malaikat itu datang kepada Nabi Ibrahim, maka ia menyambut mereka dengan
sebaik-baiknya dan mendudukkan mereka di ruang tamu, selanjutnya ia segera
menyiapkan jamuan makan untuk mereka. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah
seorang yang selalu memuliakan tamu di samping sebagai seorang yang dermawan.
Tidak
lama kemudian, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam datang membawa
anak sapi yang gemuk yang telah dipanggang serta menghidangkannya kepada
mereka, tetapi mereka tidak makan dan tidak meminum jamuan yang telah
dihidangkan itu, hingga akhirnya Nabi Ibrahim merasa takut terhadap mereka,
maka malaikat-malaikat itu pun menenangkannya dan memberitahukan kepadanya
tentang diri mereka serta memberikan kabar gembira kepadanya dengan seorang
anak yang ‘alim (berilmu).
Ketika
itu, Sarah mendengar pembicaraan mereka, maka ia datang dalam keadaan heran
terhadap kabar gembira yang mereka sampaikan, bagaimana ia akan melahirkan
sedangkan ia seorang wanita yang sudah tua lagi mandul (ketika itu usianya 90
tahun), sedangkan suaminya juga sudah lanjut usia (lihat surat Hud: 72). Maka
malaikat berkata, “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS.
Adz Dzaariyat: 30)
Mendengar
berita itu, Nabi Ibrahim pun menjadi tenang dan berbahagia; apa yang
dinanti-nantikannya ternyata akan tiba.
Selang
beberapa waktu, maka datanglah apa yang dinantikan itu, istrinya yaitu Sarah
melahirkan seorang anak yang kemudian diberi nama Ishaq oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Saat itu, usia Nabi Ibrahim 100 tahun. Ishaq lahir empat belas tahun setelah kelahiran
Ismail.
Alquranul
Karim tidak menyebutkan secara panjang lebar kisah Nabi Ishaq ‘alaihissalam,
demikian pula tentang kaum yang kepada mereka diutus Nabi Ishaq. Akan tetapi
Allah memuji Nabi Ishaq di beberapa tempat dalam Alquran, di antaranya:
“Dan
ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai
perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.–Sesungguhnya Kami
telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang
tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.–Dan
sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan
yang paling baik.” (QS. Shaad: 45-47)
Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
memuji Nabi Ishaq dalam sabdanya,
الكَرِيمُ، ابْنُ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ،
ابْنِ الكَرِيمِ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ
عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ
“Yang
mulia putera yang mulia, putera yang mulia dan putera yang mulia adalah Yusuf
putera Ya’qub, putera Ishaq, putera Ibrahim.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Ahli
Kitab menyebutkan, bahwa Ishaq ketika menikahi Rafqah binti Batu’il saat
ayahnya (Nabi Ibrahim) masih hidup, saat itu usianya 40 tahun. Istrinya adalah
seorang yang mandul, maka Nabi Ishaq berdoa kepada Allah untuknya, hingga
istrinya pun hamil dan melahirkan anak yang kembar; yang pertama bernama
‘Iishuu. Orang-orang Arab menyebutnyta ‘Iish; ia adalah nenek moyang bangsa
Romawi. Yang kedua bernama Ya’qub. Disebut Ya’qub karena ia lahir dalam keadaan
memegang tumit saudaranya. Ia juga disebut Israil, yang merupakan nenek moyang
Bani Israil.
Setelah
menyelesaikan tugasnya sebagai nabi dan rasul, maka Nabi
Ishaq ‘alaihissalam wafat.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Percaya kepada
Rasul-rasul Allah merupakan pengamalan rukun iman yang keempat. Iman
kepada Rasul berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa para Rasul adalah orang
laki-laki yang telah menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umatnya
agar mereka beriman.
Dan orang yang beriman
wajib meyakini kebenaran yang dibawa oleh para rasul dan harus mengamalkan
ajaran-ajaran yang disampaikan para Rasul meliputi ajaran kepada umat manusia
bahwa yang menciptakan alam semesta dan segala isinya adalah Allah SWT,
sehingga kita harus mentaati perintah-perintahnya dan menjauhi
larangan-larangannya, menyadarkan bahwa setelah manusia mati, akan terus menuju
ke alam berikutnya yaitu alam barzakh dan alam akhirat.
Maka dari itu kita
harus meneladani perikehidupan yang meliputi ucapannya, perbuatannya maupun
ketetapan-ketetapannya. Dan hendaklah kita sebagai umat manusia memiliki tujuan
hidup, menjalani hidup dengan aturan dan selalu dilandasi niat ingin memperoleh
ridho Allah, bahagia di dunia dan di akhirat.
B.
Saran
Berdasarkan hasil
laporan di atas, saya mengajukan saran sebagai berikut :
1) Ketika
hidup jalanilah hidup ini dengan sesuai aturan dan hukum Al-Qur’an
2) Senantiasa
menerapkan kehidupan yang Islami.
No comments:
Post a Comment