Friday, April 29, 2016

KITAB TOHAROH | MASALAH AIR DAN PEMBAGIANYA

Kitab Toharoh | Masalah Air dan Pembagianya

lanjutan terjemahan kitab Riyadhul Badiah kali ini adalah memasuki Bab Toharoh bagian pembahasan Air , bentuk dan pembagianya.

Nukilan kitab Riyadhul Badiah dan terjemahanya.

ويجب على المكلف أيضاً أن يعرف شرائع الدين وهي فروعه وأهمها: الطهارة والصلاة والزكاة والصوم والحج، ونطلب من الله تعالى الإعانة على ذكر الأهم منها والبركة فيه فنقول:

Dan bagitu juga wajib bagi mukallaf untuk mengetahui syariat-syariat Agama yaitu cabang-cabangnya dan cabang-cabang yang terpenting yaitu, : (mengetahui ilmu) Tahoharoh (Bersuci),(mengetahui ilmu) Sholat, (mengetahui ilmu) Zakat, (mengetahui ilmu) Haji, dan kami meminta pertolongan kepada Allah untuk (bisa) menyebutkan (menjelaskan) yang paling penting (manfaat) dari cabang-cabang itu dan keberkahan dalam ilmu menjelaskanya, maka kami katakan :

كتاب الطهارة
لا يصح الوضوء والغسل وإزالة النجاسة إلا بالماء الطهور وهو الذي لم تقع فيه نجاسة ولا شيء طاهر يذوب ولم يكن قليلاً مستعملاً وينحصر في النازل من السماء والنابع من الأرض، فإذا وقع فيه شيء من الطاهرات التي تذوب كالعسل أو ينفصل منها شيء كالزعفران وغيره تغيـيراً فاحشاً فهو طاهر في نفسه لكنه لا يرفع الحدث ولا يطهر النجس ولو كان ألف قربة، ومثله الماء المستعمل إن كان أقل من قلتين ولم يتغير بالنجاسة والمستعمل هو الذي رفع به الحدث أو أزيلت به نجاسة، وإذا وقع فيه نجاسة وتغير بها طعمه أو لونه أو رائحته ولو تغيراً يسيراً تنجس ولو كان قدر البحر، فإن لم يتغير بها منه شيء لم يتنجس إلا إذا كان أقل من قلتين، وإذا زال تغيره بنفسه أو بماء وضع عليه عاد طهوراً، وكذا لو زال التغيـير بماء أخذ منه وكان الباقي قلتين. والقلتان خمسمائة رطل برطل بغداد وقدروها بخمس قرب من قرب الحجاز، ولو وقع في السمن مثلاً أو في الماء القليل نجاسة لا يراها البصر المعتدل أو ميتة ليس لها دم سائل كعقرب ووزغ ولم تغيره لم يتنجس

Tidak sah (melaksanakan) wudhu dan mandi dan menghilangkan najis kecuali memakai Air yang Suci mensucikan, yaitu air yang tidak terkena najis dan tidak terkena sesuatu yang suci yang bisa larut (bercampur / berubah), dan bukan air yang sedikit dan Musta’mal (terpakai bersuci. Dan teringkas Air yang turun dari Air dan Air yang keluar dari Bumi.

Apabila hal yang suci mengenai Air yang bisa larut (bercampur) seumpama madu atau (bisa) berpisah dari yang suci itu sesuatu seumpama Za’faron atau semisal lainya, dengan perubahan yang sangat buruk / rusak, maka (hukum air itu) bersih pada airnya, tapi tidak bisa mengangkat hadats dan tidak bisa membersihkan najis, walau air itu seribu Gariba.

Dan seumpamanya (Air yang berubah) yaitu Air yang Musta’mal (terpakai bersuci) apabila kurang dari dua qulah dan tidak berubah (itu Air Musta’mal) dengan najis.

Dan Air Musta’mal yaitu Air yang dipakai menghilangkan hadats atau air yang dipakai untuk menghilangkan najis.

Apabila Air itu terkena najis dan berubah sebab itu najis, Rasa Air, atau Warna Air, atau Bau Air, walau perubahan yang sedikit maka air itu dihukumi mutanajis (terkena najis), walau seukuran Air laut.

Maka jika tidak berubah sebab najis itu dari itu Air sesuatu, maka tidak menjadi najis itu air, kecuali jika Air itu kurang dari dua qulah.

Apabila hilang perubahan air itu secara sendirinya atau hilang sebab menambahkan Air pada air yang berubah itu, maka air itu kembali suci mensucikan.

Dan begitu juga menjadi suci apabila perubahan itu hilang dengan Air yang diambil dari itu air yang berubah, dan air yang tersisa sebanyak dua qulah.

Dan Air dua qulah itu adalah 500 liter dengan ukuran liter bagdad dan ulama mengukur ritl bagdad dengan 5 gariba dari gariba negri hijaz.

Dan apabila pada lemak / minyak samin atau pada Air sedikit terdapat najis dan penglihatan tidak bisa melihatnya (tidak bisa dilihat mata) atau terkena bangkai makhluk yang tidak memiliki darah yang mengalir seperti kalajengking, dan cicak, dan tidak merubah itu bangkai terhadap Air, maka Air itu tidak dihukumi mutanajis.

No comments:

Post a Comment