Teks Hadits
a. Hadits Pertama
ﻃَﻠَﺐُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻓَﺮِﻳْﻀَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ
ﻭَﻣُﺴْﻠِﻤَﺔٍ
Artinya : ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi
setiap muslim laki-laki maupun muslim
perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)
Hadits tersebut menjelaskan bahwa
semua orang diwajibkan menuntut ilmu, entah
itu bagi laki-laki maupun perempuan.
b. Hadits Kedua
ﺃُﻃْﻠُﺐِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟَّﻠﺤْﺪِ
Artinya : ”Carilah ilmu sejak dari buaian hingga
ke liang lahat”. (Al Hadits)
Dalam Islam pendidikan tidak hanya
dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu
saja, melainkan dilakukan sepanjang usia.
Belajar dalam arti sebenarnya adalah sesuatu
yang berlangsung sepanjang kehidupan
seseorang. Dengan terus menerus belajar,
seseorang tidak akan ketinggalan zaman dan
dapat memperbaharui pengetahuannya,
terutama bagi mereka yang sudah berusia
lanjut. Dengan pengetahuan yang selalu
diperbaharui ini, mereka tidak akan terasing
dari generasi muda, mereka tidak akan menjadi
pikun secara dini, dan tetap dapat memberikan
sumbangannya bagi kehidupan di
lingkungannya.
c. Hadits Ketiga
ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍ ﺩَﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎ ﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ
ﺃَﺭَﺍﺩَﺍﻟْﺎﺁﺧِﺮَﺓَ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَﻫُﻤَﺎ
ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ
Artinya : ”Barang siapa yang menghendaki
kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki
ilmu, dan barang siapa yang menghendaki
kehidupan Akherat, maka wajib baginya
memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki
keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”.
(HR. Turmudzi).
Hadits tersebut memberikan
pembelajaran kepada kita umat Islam agar
memiliki ilmu pengetahuan baik ilmu
pengatahuan agama maupun ilmu pengetahuan
umum. Ilmu pengetahuan merupakan bekal kita
untuk hidup di dunia dan akhirat.
d. Hadits Ke empat
ﻣُﻌَﻠِّﻢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻟَﻪُ ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟْﺤُﻮْﺕِ
( ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ )
Orang yang mengajar kebaikan kepada
manusia, segala sesuatu(ikan di laut)
memohonkan ampunan untuknya. (H.R. Ibnu
Abbas)
3. Analisis
Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu
meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan.
Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya
mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam
dalam kewajiban untuk menuntut ilmu
(pendidikan). Bukan hanya pengetahuan yang
terkait urusan akhirat saja yang ditekankan oleh
Islam, melainkan pengetahuan yang terkait dengan
urusan dunia juga. Karena tidak mungkin manusia
mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui
jalan kehidupan dunia ini.
Dari pemaparan hadits pertama, yang
berisikan maksud dimana kewajiban menuntut
ilmu itu ditujukan atas setiap mukmin, baik
mukmin laki-laki maupun perempuan. Hal tersebut
dapat ditarik kesimpulan bahwa sangat pentingnya
kehidupan di bumi harus disertai ilmu, baik ilmu
politik, sosial, budaya dan yang paling penting ilmu
keagamaan dimana ilmu agama kelak akan
menghantarkan umat muslim ke surga dan ilmu
agamalah yang menjadi simbolis pembeda antara
manusia dan makhluk yang lainnya.
Jika kita melihat keluar, kehidupan di negara
kita yang saat ini sangat memprihatinkan, hal
tersebut dikarnakan generasi-generasi penerus
bangsa yang kurang mampu mengelola negara
dengan baik dikarenakan kurangnya ilmu
pendidikan dan sempitnya cakrawala pengetahuan,
oleh sebab itu kita harus membuka mata agar mau
mencari ilmu sebanyak-banyaknya baik bagi
muslim laki-laki maupun muslim perempuan.
Kewajiban belajar mengajar merupakan
suatu tuntutan bagi manusia yang menginginkan
suatu kehidupan yang layak sebagai
implementasinya dalam memakmurkan dunia.
Manusia yang sudah dibaiat oleh Tuhan sebagai
khalifah agar senantiasa menjadi pemimpin dan
bisa menjadi kemaslahatan bagi dirinya, orang lain
dan alam sekitar. Dalam realitasnya, konsep belajar
mengajar memang banyak mengambil dari konsep
Barat. Dan tidak ada salahnya selama konsep
tersebut baik dan bisa mengangkat harkat dan
martabat manusia. Namun, alangkah lebih bijak
ketika kita juga tahu bagaimana pandangan hadits
tentang hal tersebut. Dan banyak teks-teks dalam
hadits yang bisa kita jadikan landasan dalam
praktek mengajar.
Untuk lebih tegas dalam hadis riwayat
Husain ibn Ali di atas, Rasulullah saw.
menggunakan kata-kata wajib, harus ( farîdhah ).
Hal itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan itu
memang benar-benar suatu hal penting dalam
kehidupan manusia terutama orang yang beriman.
Tanpa ilmu pengetahuan, seorang mukmin tidak
dapat melaksanakan aktivitasnya dengan baik
menurut ukuran ajaran Islam. Bila ada orang yang
mengaku beriman tetapi tidak mau mencari ilmu,
maka ia dipandang telah melakukan suatu
pelanggaran, yaitu tidak mengindahkan perintah
Allah dan Rasul-Nya. Akibatnya, tentu,
mendapatkan kemurkaan Allah dan akhirnya akan
masuk ke dalam neraka Allah. Karena begitu
pentingnya ilmu pengetahuan itu, Rasulullah SAW.
mewajibkan umatnya belajar.
Hal tersebut ditegaskan lagi dalam hadis
kedua : ”Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke
liang lahat”. Hadis tersebut memberikan
pemahaman bahwa proses beklajar mengajar tidak
ada batasan usia, mulai dari lahir manusia sudah
mendapatkan transefaran ilmu dari lingkungan
sekitar hingga di akhir hayatnya.
Ilmu pengetahuan itu memudahkan orang
menuju surga. Hal itu mudah dipahami karena
dengan ilmu, seseorang mengetahui akidah yang
benar, cara-cara beribadah dengan benar, dan
bentuk-bentuk akhlak yang mulia. Selain itu, orang
berilmu mengetahui pula hal-hal yang dapat
merusak akidah tauhid, perkara-perkara yang
merusak pahala ibadah, dan memahami pula sifat
dan akhlak-akhlak jelek yang perlu dihindarinya.
Semuanya itu akan membawanya ke surga di
akhirat, bahkan kesejahteraan di dunia ini.
Dalam sebuah hadis disebutkan terdapat
lima keutamaan orang menuntut ilmu, yaitu: (1)
mendapat kemudahan untuk menuju surga, (2)
disenangi oleh para malaikat, (3) dimohonkan
ampun oleh makhluk Allah yang lain, (4) lebih
utama daripada ahli ibadah, dan (5) menjadi
pewaris Nabi.
Yang dimaksud dengan dimudahkan Allah
baginya jalan menuju surga adalah ilmunya itu
akan memberikan kemudahan kepadanya untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat
menyebabkannya masuk surga. Karena ilmunya,
seseorang itu mengetahui kewajiban yang harus
dikerjakannya dan larangan-larangan yang harus
dijauhinya. Ia memahami hal-hal yang dapat
merusak akidah dan ibadahnya. Ilmu yang
dimilikinya membuat ia dapat membedakan yang
halal dari yang haram. Dengan demikian, orang
yang memiliki ilmu pengetahuan itu tidak merasa
kesulitan untuk mengerjakan hal-hal yang dapat
membawanya ke dalam surga.
Malaikat menghamparkan sayapnya karena
senang kepada orang yang mencari ilmu. Malaikat
telah mengetahui bahwa Allah sangat
mengutamakan ilmu. Hal itu terbukti ketika
mereka disuruh hormat kepada Adam setelah Adam
menunjukkan kelebihan ilmunya kepada malaikat.
Oleh sebab itu, para malaikat merasa senang
kepada orang-orang yang berilmu karena mereka
dimuliakan oleh Allah.
Orang yang menuntut ilmu dimintakan
ampun oleh makhluk-makhluk Allah yang lain. Ini
merupakan ungkapan yang menunjukkan
kesenangan Rasulullah SAW kepada para pencari
ilmu. Ilmu itu sangat bermanfaat bagi alam
semesta, baik manusia maupun bukan manusia.
Dengan ilmu pengetahuan yang disertai iman, alam
ini akan selalu terjaga dengan indah. Penjagaan
dan pengelolaan alam ini dapat dilakukan dengan
ilmu pengetahuan. Jadi, orang yang memiliki ilmu
dan menggunakannya untuk kebaikan alam
semesta merupakan orang mulia yang pantas
didoakan oleh penghuni alam ini.
Orang berilmu pengetahuan lebih utama
daripada ahli ibadah. Keutamaannya diumpamakan
oleh Rasulullah SAW bagaikan kelebihan bulan
pada malam purnama dari bintang. Keutamaan
bulan malam purnama yaitu bercahaya yang
membuat dirinya terang dan dapat pula menerangi
yang lain. Sedangkan bintang kurang cahayanya
dan itu hanya untuk dirinya sendiri. Sifat seperti
itu terdapat pula pada orang yang berilmu
pengetahuan dan ahli ibadah. Orang yang berilmu
pengetahuan dapat menerangi dirinya sendiri
dengan petunjuk dan dapat pula menerangi orang
lain dengan pengajarannya. Dengan kata lain, orang
' alim itu memberikan manfaat untuk dirinya dan
dapat pula bermanfaat bagi orang lain.
Orang yang berilmu dikatakan sebagai
pewaris Nabi. Ini merupakan penghormatan yang
sangat tinggi. Warisan Nabi itu bukan harta dan
fasilitas duniawi, melainkan ilmu. Mencari ilmu
berarti berusaha untuk mendapatkan warisan
beliau. Berbeda dari warisan harta, untuk
mendapatkan warisan Nabi tidak dibatasi pada
orang-orang tertentu. Siapa saja yang berminat
dapat mewarisinya. Bahkan, Rasulullah SAW.
menganjurkan agar umatnya mewarisi ilmu itu
sebanyak-banyaknya.
Mengajar adalah proses memberikan ilmu
pengetahuan kepada orang yang belum tahu.
Hasilnya, orang yang belajar itu memiliki ilmu
pengetahuan dan dapat dimanfaatkannya dalam
menjalani kehidupannya, baik untuk urusan hidup
duniawi maupun untuk urusan ukhrawi.
Friday, June 24, 2016
Hadis1
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
الابْتِدَاءُ Bab Ibtida’ DASAR-DASAR KALIMAT SUSUNAN JUMLAH ISMIYAH Mubtada’ dan Khabar مُبْتَـدَأ زَيْدٌ وَعَـــاذِرٌ خَبَـــــرْ ¤ ...
-
1. Dibagi menjadi berapakah Isim yang dibaca Khafadz? 2. Apa makna dari huruf من، عن، فى، ربّ، الكاف، اللام؟ 3. Idhofah datang dengan mengir...
-
TERJEMAH FATHUL QORIB (SYARAH MATAN TAQRIB) BAHASA INDONESIA SYAIKH MUHAMMAD QOSIM AL GHAZI (SYARAH MATAN TAQRIB) AL IMAM AL ALLAMAH...
No comments:
Post a Comment