Beruntungnya Orang Tua Yang Memiliki Anak
Shalih
Sungguh beruntung dan berbahagialah orang
tua yang telah mendidik anak-anak mereka
sehingga menjadi anak yang shalih, yang selalu
membantu orang tuanya, mendo’akan orang
tuanya, membahagiakan mereka dan menjaga
nama baik kedua orang tua. Karena anak yang
shalih akan senantiasa menjadi investasi
pahala, sehingga orang tua akan mendapat
aliran pahala dari anak shalih yang dimilikinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻨْﻪُ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ
ﺛَﻠَﺎﺛَﺔٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ ﺃَﻭْ ﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ
ﺑِﻪِ ﺃَﻭْ ﻭَﻟَﺪٍ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ
“Apabila seorang telah meninggal dunia, maka
seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu
sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak
shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim:
1631).
Demikian pula, kelak di hari kiamat, seorang
hamba akan terheran-heran, mengapa bisa dia
meraih derajat yang tinggi padahal dirinya
merasa amalan yang dia lakukan dahulu di
dunia tidaklah seberapa, namun hal itu pun
akhirnya diketahui bahwa derajat tinggi yang
diperolehnya tidak lain dikarenakan do’a
ampunan yang dipanjatkan oleh sang anak
untuk dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻟَﻴَﺮْﻓَﻊُ ﺍﻟﺪَّﺭَﺟَﺔَ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ
ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺃَﻧَّﻰ ﻟِﻲ
ﻫَﺬِﻩِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺑِﺎﺳْﺘِﻐْﻔَﺎﺭِ ﻭَﻟَﺪِﻙَ ﻟَﻚَ
“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat
derajat seorang hamba yang shalih di surge.
Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku,
bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka
Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang
dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu
diampuni.” (HR. Ahmad: 10618. Hasan).
Oleh karenanya, saking urgennya pembinaan
dan pendidikan sang anak sehingga bisa
menjadi anak yang shalih, Allah ta’ala langsung
membebankan tanggung jawab ini kepada
kedua orang tua. Allah ta’ala berfirman dalam
sebuah ayat yang telah kita ketahui bersama,
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻫْﻠِﻴﻜُﻢْ
ﻧَﺎﺭًﺍ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ( ٦(
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At
Tahrim: 6).
Seorang tabi’in, Qatadah, ketika menafsirkan
ayat ini mengatakan,
ﺗﺄﻣﺮﻫﻢ ﺑﻄﺎﻋﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺗﻨﻬﺎﻫﻢ ﻋﻦ ﻣﻌﺼﻴﺔ
ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻥ ﺗﻘﻮﻡ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﺄﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺗﺄﻣﺮﻫﻢ
ﺑﻪ ﻭﺗﺴﺎﻋﺪﻫﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖ ﻟﻠﻪ
ﻣﻌﺼﻴﺔ ﺭﺩﻋﺘﻬﻢ ﻋﻨﻬﺎ ﻭﺯﺟﺮﺗﻬﻢ ﻋﻨﻬﺎ
“Yakni, hendaklah engkau memerintahkan
mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan
melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-
Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan
perintah Allah kepada mereka dan perintahkan
dan bantulah mereka untuk menjalankannya.
Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat
kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah
mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502).
Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam memikulkan tanggung jawab pendidikan
anak ini secara utuh kepada kedua orang tua.
Dari Ibnu radhiallahu ‘anhu , bahwa dia
berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﺭَﺍﻉٍ ﻭَﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺘِﻪِ
ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﺭَﺍﻉٍ ﻭَﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺘِﻪِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ
ﺭَﺍﻉٍ ﻓِﻲ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺘِﻪِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan
dimintai pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya. Seorang imam adalah
pemimpin dan akan dimintai
pertanggunjawabannya dan demikian juga
seorang pria adalah seorang pemimpin bagi
keluarganya dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).
Abdullah bin Umar radhiallahu
‘anhuma berkata,
ﺃﺩﺏ ﺍﺑﻨﻚ ﻓﺈﻧﻚ ﻣﺴﺆﻭﻝ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﺫﺍ ﺃﺩﺑﺘﻪ
ﻭﻣﺎ ﺫﺍ ﻋﻠﻤﺘﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﺴﺆﻭﻝ ﻋﻦ ﺑﺮﻙ
ﻭﻃﻮﺍﻋﻴﺘﻪ ﻟﻚ
“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau
akan dimintai pertanggungjawaban mengenai
pendidikan dan pengajaran yang telah engkau
berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya
mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta
ketaatannya kepada dirimu.” (Tuhfah al
Maudud hal. 123).
Tanggung Jawab Orang Tua
Tanggung jawab pendidikan anak ini harus
ditangani langsung oleh kedua orang tua. Para
pendidik yang mendidik anak di sekolah–
sekolah, hanyalah partner bagi orang tua dalam
proses pendidikan anak.
Orang tua yang berusaha keras mendidik
anaknya dalam lingkungan ketaatan kepada
Allah, maka pendidikan yang diberikannya
tersebut merupakan pemberian yang berharga
bagi sang anak, meski terkadang hal itu jarang
disadari. Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
ﻣﺎ ﻧﺤﻞ ﻭﺍﻟﺪ ﻭﻟﺪﻩ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺃﺩﺏ ﺣﺴﻦ
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari
orang tua kepada anaknya selain pendidikan
yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).
Mengenai tanggung jawab pendidikan anak
terdapat perkataan yang berharga dari imam
Abu al-Hamid al-Ghazali rahimahullah . Beliau
berkata, “perlu diketahui bahwa metode untuk
melatih/mendidik anak-anak termasuk urusan
yang paling penting dan harus mendapat
prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya.
Anak merupakan amanat di tangan kedua
orang tuanya dan qalbunya yang masih bersih
merupakan permata yang sangat berharga dan
murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia
menerima apa pun yang diukirkan padanya
dan menyerap apa pun yang ditanamkan
padanya. Jika dia dibiasakan dan dididik untuk
melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh
menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia
di dunia dan akhirat. Dan setiap orang yang
mendidiknya, baik itu orang tua maupun para
pendidiknya yang lain akan turut memperoleh
pahala sebagaimana sang anak memperoleh
pahala atas amalan kebaikan yang
dilakukannya. Sebaliknya, jika dibiasakan
dengan keburukan serta ditelantarkan seperti
hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang
yang celaka dan binasa serta dosa yang
diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-
orang yang berkewajiban mendidiknya” ( Ihya
Ulum al-Din 3/72).
Senada dengan ucapan al-Ghazali di atas adalah
perkataan al-Imam Ibnu al-
Qayyim rahimahullah , “Siapa saja yang
mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-
hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan
begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan
yang fatal. Mayoritas penyebab kerusakan anak
adalah akibat orang tua mengabaikan mereka,
serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban
dan ajaran agama. Orang tua yang
menelantarkan anak-anaknya ketika mereka
kecil telah membuat mereka tidak berfaedah
bagi diri sendiri dan bagi orang tua ketika
mereka telah dewasa. Ada orang tua yang
mencela anaknya yang durjana, lalu anaknya
berkata, “Ayah, engkau durjana kepadaku
ketika kecil, maka aku pun durjana kepadamu
setelah aku besar. Engkau menelantarkanku
ketika kecil, maka aku pun menelantarkanmu
ketika engkau tua renta.” ( Tuhfah al-
Maudud hal. 125).
Orang Tua Shalih, Anak pun Shalih!
“Hazm mengatakan, “Saya mendengar al-Hasan
al-Bashri ditanya oleh Katsir bin Ziyad
mengenai firman Allah ta’ala, “
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟِﻨَﺎ
ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺎﺗِﻨَﺎ ﻗُﺮَّﺓَ ﺃَﻋْﻴُﻦٍ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ﺇِﻣَﺎﻣًﺎ
( ٧٤ (
“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami
isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami
imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al
Furqan: 74).
Katsir bin Ziyad bertanya kepada al-Hasan,
“Wahai Abu Sa’id, apakah yang dimaksud
qurrata a’yun (penyenang hati) dalam ayat ini
terjadi di dunia ataukah di akhirat? Maka al-
Hasan pun menjawab, “Tidak, bahkan hal itu
terjadi di dunia.” Katsir pun bertanya kembali,
“Bagaimana bisa?” al-Hasan menjawab, “Demi
Allah, Allah akan memperlihatkan kepada
seorang hamba, istri, saudara dan kolega yang
taat kepada Allah dan demi Allah tidak ada
yang menyenangkan hati seorang muslim selain
dirinya melihat anak, orang tua, kolega dan
saudara yang tumbuh dalam ketaatan kepada
Allah ‘azza wa jalla.” ( Tuhfah al Maudud hal.
123).
Betapa indahnya, jika kita memandang anak-
anak kita menjadi anak yang shalih, karena hal
itu salah satu penyejuk pandangan kita. Namun
yang patut kita perhatikan adalah faktor yang
juga mengambil peran penting dalam
pembentukan keshalehan anak adalah
keshalihan orang tua itu sendiri.
Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka
kita juga harus menjadi orang yang shalih. Ada
pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini,
ﻛﻴﻒ ﺍﺳﺘﻘﻢ ﺍﻟﻈﻞ ﻭ ﻋﻮﺩﻩ ﺃﻋﻮﺝ
“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara
bendanya bengkok?”
Kita selaku orang tua adalah bendanya
sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya.
Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan
bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika diri
kita lurus, maka insya Allah anak-anak akan
lurus.
Allah ta’ala berfirman,
ﺫُﺭِّﻳَّﺔً ﺑَﻌْﻀُﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺾٍ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ
“Keturunan itu sebagiannya merupakan
(turunan) dari yang lain.” (Ali Imran: 34).
Maksud dari ayat di atas adalah orang tua yang
baik, sumber yang baik, insya Allah akan
menghasilkan keturunan yang baik pula.
Keshalihan orang tua juga akan memberikan
manfaat positif, karena Allah akan menjaga
sang anak. Allah berfirman dalam surat al-
Kahfi ayat 82,
ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟْﺠِﺪَﺍﺭُ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻟِﻐُﻼﻣَﻴْﻦِ ﻳَﺘِﻴﻤَﻴْﻦِ ﻓِﻲ
ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔِ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺗَﺤْﺘَﻪُ ﻛَﻨْﺰٌ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺑُﻮﻫُﻤَﺎ
ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻓَﺄَﺭَﺍﺩَ ﺭَﺑُّﻚَ ﺃَﻥْ ﻳَﺒْﻠُﻐَﺎ ﺃَﺷُﺪَّﻫُﻤَﺎ
ﻭَﻳَﺴْﺘَﺨْﺮِﺟَﺎ ﻛَﻨْﺰَﻫُﻤَﺎ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻚَ ﻭَﻣَﺎ
ﻓَﻌَﻠْﺘُﻪُ ﻋَﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻱ ﺫَﻟِﻚَ ﺗَﺄْﻭِﻳﻞُ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﺗَﺴْﻄِﻊْ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺻَﺒْﺮًﺍ ( ٨٢ (
“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan
dua orang anak yatim di kota itu, dan di
bawahnya ada harta benda simpanan bagi
mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang
yang saleh.” (Al Kahfi: 82).
Dalam ayat ini diberitakan bahwa dikarenakan
keshalihan orang tua, Allah menjaga dan
memelihara sang anak, serta tidak
mengecewakan orang tua. Oleh karenanya,
keshalihan orang tua itu akan berpengaruh
pada sang anak, bahkan manfaat itu tidak
terbatas pada sang anak semata, tapi juga
berdampak kepada cucu-cucunya sebagaimana
diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu
Katsir rahimahullah bahwa yang dimaksud ”
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺑُﻮﻫُﻤَﺎ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ” dalam ayat tersebut adalah
kakek ketujuh dari dua anak tadi.
Kelak di surga, Allah ta’ala pun akan
mengumpulkan sang anak bersama orang tua
mereka yang shalih, meskipun amalan sang
anak tidak dibanding amalan orang tua.
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌَﺘْﻬُﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘُﻬُﻢْ ﺑِﺈِﻳﻤَﺎﻥٍ
ﺃَﻟْﺤَﻘْﻨَﺎ ﺑِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘَﻬُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻟَﺘْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻠِﻬِﻢْ
ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻛُﻞُّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺴَﺐَ ﺭَﻫِﻴﻦٌ ( ٢١ (
“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu
mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan,
Kami hubungkan anak cucu mereka dengan
mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun
dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia
terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath
Thuur: 21).
Maka disini, Allah ta’ala memasukkan anak-
anak orang mukmin ke dalam surga dengan
syarat mereka juga beriman. Maka, betapa
menyenangkannya, jika kita berkumpul
bersama keluarga kita di surga sebagaimana
kita berkumpul di dunia ini. Meskipun amal
ibadah sang anak tidak sepadan dengan kedua
orang tuanya, amalnya kurang daripada orang
tuanya, namun Allah tetap memasukkan
keturunannya ke dalam surga. Karena apa?
Karena keshalehan kedua orang tuanya.
Betapa pentingnya hal ini, yaitu menjadikan
pribadi kita, yaitu orang tua, menjadi pribadi
yang shalih, sampai-sampai salah seorang yang
shalih pernah mengatakan,
ﻳﺎ ﺑﻨﻲ ﺇﻧﻲ ﻷﺳﺘﻜﺜﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻷﺟﻠﻚ
“Wahai anakku, sesungguhnya aku
memperbanyak shalat karenamu (dengan
harapan Allah akan menjagamu).”
Ada seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-
Musayyib rahimahullah juga pernah berkata,
ﺇﻧﻲ ﻷﺻﻠﻲ ﻓﺄﺫﻛﺮ ﻭﻟﺪﻱ ﻓﺄﺯﻳﺪ ﻓﻲ
ﺻﻼﺗﻲ
“Ada kalanya ketika aku shalat, aku teringat
akan anakku, maka aku pun menambah shalatku
(agar anak-anakku dijaga oleh Allah ta’ala).”
Maka, mari kita menjadikan diri kita sebagai
pribadi yang baik, taat kepada Allah dan shalih,
kita jalankan perintah-perintah Allah dan
meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan
harapan nantinya Allah ta’ala menjaga dan
memelihara anak-anak kita.
Friday, June 24, 2016
Keluarga
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
الابْتِدَاءُ Bab Ibtida’ DASAR-DASAR KALIMAT SUSUNAN JUMLAH ISMIYAH Mubtada’ dan Khabar مُبْتَـدَأ زَيْدٌ وَعَـــاذِرٌ خَبَـــــرْ ¤ ...
-
1. Dibagi menjadi berapakah Isim yang dibaca Khafadz? 2. Apa makna dari huruf من، عن، فى، ربّ، الكاف، اللام؟ 3. Idhofah datang dengan mengir...
-
TERJEMAH FATHUL QORIB (SYARAH MATAN TAQRIB) BAHASA INDONESIA SYAIKH MUHAMMAD QOSIM AL GHAZI (SYARAH MATAN TAQRIB) AL IMAM AL ALLAMAH...
No comments:
Post a Comment