Saturday, October 15, 2016

Bab Laa Nafi Jenis


ﻻَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻟِﻨَﻔِﻲْ ﺍﻟْﺠِﻨْﺲِ
BAB “LAA” YANG MENIADAKAN ISIM JENIS (LAA LI NAFYIL-
JINSI)
ﻋَﻤَﻞَ ﺇِﻥَّ ﺍﺟْﻌَﻞْ ﻟِﻼ ﻓِﻲ ﻧَﻜِﺮَﻩْ
ﻣُﻔْﺮَﺩَﺓً ﺟَﺎﺀﺗْﻚَ ﺃَﻭْ ﻣُﻜَﺮَّﺭَﻩْ
Jadikanlah seperti amal INNA (menashabkan isimnya dan merofa’kan
khobarnya) untuk LAA yg beramal pada isim nakirah, baik LAA itu
datang kepadamu secara Mufrod (satu kali) atau secara Mukarror
(berulang-ulang).
KETERANGAN BAIT KE 1:
“LAA LI NAFYIL JINSI” termasuk bagian dari huruf-huruf nawasikh yg
masuk pada mubtada’-khobar dan merusak I’robnya, beramal seperti
INNA (menashabkan isimnya dan merofa’kan khobarnya). Baik diucapkan
dengan satu kali (Mufrod), contoh : “LAA ROJULA” FID-DAARI. Atau
diucapkan dengan berulang-ulang (Takrir), contoh: “LAA ROJULA” WA
“LAA IMRO’ATA” FID-DAARI. Secara khusus berfungsi meniadakan
jenis secara keseluruhan, ini membedakan dengan “LAA LI NAFYIL
WAHID” yg beramal seperti LAISA (merofa’kan isimnya dan
menashabkan khobarnya).
Syarat pengamalan “LAA LI NAFYIL JINSI” adalah :
1. isim dan khobarnya harus nakiroh.
2. tidak boleh ada fashl/pemisah antara “LAA LI NAFYIL JINSI” dan
ISIMnya.
3. tidak boleh ada huruf jar masuk pada “LAA LI NAFYIL JINSI”.
ﻓَﺎﻧْﺼِﺐْ ﺑِﻬَﺎ ﻣُﻀَﺎﻓَﺎً ﺃَﻭْ ﻣُﻀَﺎﺭِﻋَﻪْ
ﻭَﺑَﻌْﺪَ ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟْﺨَﺒَﺮَ ﺍﺫْﻛُﺮْ ﺭَﺍﻓِﻌَﻪْ
Nashabkanlah olehmu sebab “LAA” terhadap isimnya yg Mudhaf atau yg
menyerupai Mudhaf . setelah itu sebutkanlah khobarnya dengan
merofa’kannya.
ﻭَﺭَﻛّﺐِ ﺍﻟْﻤُﻔْﺮَﺩَ ﻓَﺎﺗِﺤَﺎً ﻛَﻼَ ﺣَﻮْﻝَ
ﻭَﻻَ ﻗُﻮَّﺓَ ﻭَﺍﻟْﺜَّﺎﻥِ ﺍﺟْﻌَﻼَ
Tarkibkanlah olehmu (menjadikan satu tarkib antara LAA dan Isimnya)
terhadap isimnya yg mufradah (bukan mudhaf/syabihul-mudhaf) dengan
menfat-hahkannya (menghukumi mabni fathah karena satu tarkib dengan
LAA). Seperti: “LAA-HAULA” wa “LAA-QUWWATA”,
Dan terhadap lafazh yg kedua (dari contoh LAA yg diulang-ulang: (1)
“LAA-HAULA” wa (2) “LAA-QUWWATA”) boleh kamu jadikan ia.. (lanjut
ke bait 4)
ﻣَﺮْﻓُﻮْﻋَﺎً ﺃﻭْ ﻣَﻨْﺼُﻮﺑﺎً ﺃﻭْ ﻣُﺮَﻛَّﺒﺎً
ﻭَﺇِﻥْ ﺭَﻓَﻌْﺖَ ﺃَﻭَّﻻً ﻻَ ﺗَﻨْﺼِﺒَﺎ
..dirofa’kan atau dinashabkan atau ditarkib, jika kamu mefofa’kan lafazh
yg pertama, maka janganlah kamu menashabka lafazh yg kedua.
KETERANGAN BAIT 2-3-4:
Ada tiga poin yg menyangkut tentang isimnya “LAA LI NAFYIL JINSI”:
1. berupa Mudhaf (tersusun dari susunan idhafah, mudhaf dan mudahf
ilaih)
2. berupa Syabihul-Mudhaf (tersusun dengan kalimah lain baik
makmulnya/ta’alluqnya/ma’thufnya dll)
3. berupa Mufradah (bukan mudhaf/syabihul-mudhaf, baik isim mufrod,
mutsanna, atau jamak)
> Poin yg no 1 dan 2, dihukumi nashab dengan tanda nashabnya secara
zhahir, dinashabkan oleh “LAA LI NAFYIL JINSI” yg beramal seperti
INNA Cs.
> Poin yg no 3 dihukumi mabni atas tanda I’rab nashabnya, menempati
mahal nashab, dinashabkan oleh “LAA LI NAFYIL JINSI” yg beramal
seperti INNA Cs . Dihukumi mabni karena dijadikan satu tarkib antara
“LAA LI NAFYIL JINSI” dan Isimnya.
Apabila setelah “LAA LI NAFYIL JINSI” dan ISIMNYA terdapat isim
ma’thuf yg berupa isim nakirah dan mufrodah, maka hal seperti ini
kadangkala LAA tidak diulang dan kadangkala penyebutan LAA diulang
pada isim ma’thufnya, contoh ﻻ ﺣﻮﻝ ﻭﻻ ﻗﻮﺓ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﻠﻪ (LAA HAWLA WA
LAA QUWWATA)
Apabila terdapat ma’thuf dan LAA diulang-ulang seperti itu, maka
mencakup tiga bacaan:
BACAAN KE SATU : lafazh yg pertama (ma’thuf alaih) dibaca mabni
(apabila mufrodah), maka lafazh yg kedua (ma’thuf) boleh dibaca 3 jalan:
1. MABNI, LAA yg kedua juga beramal spt INNA, athaf secara jumlah.
Contoh:
laa hawla wa LAA QUWWATA
2. NASHAB, Athaf kepada mahal nashab isim LAA, dan LAA yg kedua
tidak beramal dihukumi zaidah sebagai taukid nafi. Contoh:
laa hawla wa LAA QUWWATAN
3. ROFA’, athaf kepada mubtada’ karena “TARKIB LAA DAN
ISIMNYA” posisinya sebagai mubtada’, LAA yg kedua tidak beramal
dihukumi zaidah sebagai taukid nafi. Atau LAA yg kedua beramal seperti
LAISA (merofa’kan isimnya) yg mempunyai faidah sebagai nafi jenis.
Atau lafazh yg kedua itu sendiri sebagai Mubtada’ dan LAA yg kedua
tidak beramal. Contoh:
laa hawla wa LAA QUWWATUN
BACAAN KE DUA : Lafazh yg pertama (ma’thuf ‘alaih) dibaca nashab
(apabila mudhaf atau yg menyerupai mudhaf), maka lafazh yg kedua
(ma’thuf) juga boleh dibaca 3 jalan sebagaimana hukum BACAAN KE
SATU diatas, yaitu : MABNI, NASHAB dan ROFA’ (untuk rofa’ tidak
boleh untuk alasan athaf kepada mubtada’ sebab isimnya berupa mudhaf/
syabih mudhaf).
BACAAN KE TIGA: Lafazh yg pertama (ma’thuf ‘alaih) dibaca
Rofa’ (apabila LAA diamalkan seperti LAISA atau karena ada illah yg
membuat LAA menjadi Muhmal), maka lafazh yg kedua (ma’thuf) boleh
dibaca 2 jalan: 1. MABNI, karena mufrodah. 2. ROFA’, karena athaf pada
isim marfu’, atau karena menjadi mubtada dan LAA dihukumi Zaidah,
atau sebagai isimnya LAA yg juga diamalkan seperti LAISA.
Untuk BACAAN KE TIGA ini tidak boleh lafazh yg kedua (ma’thuf)
dibaca Nashab sebab status LAA pertama disini bukan sebagai Amil
nashab, oleh karenanya dalam bait disebutkan “WA IN ROFA’TA
AWWALAN LAA TANSHIBAA” (jika kamu mefofa’kan lafazh yg
pertama, maka janganlah kamu menashabka lafazh yg kedua).
ﻭَﻣُﻔْﺮَﺩَﺍً ﻧَﻌْﺘَﺎً ﻟِﻤَﺒْﻨِﻲّ ﻳَﻠِﻲ ﻓَﺎﻓْﺘَﺢْ
ﺃَﻭِ ﺍﻧْﺼِﺒَﻦْ ﺃَﻭِ ﺍﺭْﻓَﻊْ ﺗَﻌْﺪِﻝِ
Terhadap mufrod (bukan mudhaf/shibhul mudhaf) yang na’at secara
langsung (tanpa ada pemisah) pada isim LAA yg mabni maka fathahkanlah
atau nashabkanlah atau rofa’kanlah demikian kamu adil.
KETERANGAN BAIT KE 5
Apabila ada Isim murfod (bukan mudhaf/shibhul mudhaf) yg na’at pada
isimnya LAA nafi jenis yg mabni, dimana na’atnya mengiringi langsung
tanpa pemisah, maka boleh Na’at tsb dibaca tiga wajah:
1. MABNI FATHAH, karena dijadikan satu tarkib berikut berbarengan
dengan isimnya LAA. Contoh:
LAA ROJULA ZHORIIFA
2. NASHAB, karena melihat pada mahal nashab isimnya LAA, contoh:
LAA ROJULA ZHORIIFAN
3. ROFA’, karena melihat pada mahal rofa tarkib LAA + ISIMnya yg
menempati posisi sebagai mubtada. Contoh:
LAA+ROJULA ZHORIIFUN
ﻭَﻏَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﻳَﻠِﻲ ﻭَﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻤُﻔْﺮَﺩِ ﻻَ
ﺗَﺒْﻦِ ﻭَﺍﻧْﺼِﺒْﻪُ ﺃَﻭِ ﺍﻟْﺮَّﻓْﻊَ ﺍﻗْﺼِﺪِ
Na’at yg tidak mengiringi langsung (ada pemisah) dan na’at yg tidak
mufrad (mudhaf/syabih mudhaf) janganlah kamu memabnikannya, tapi
nashabkanlah atau kehendakilah dengan merofa’kannya.
KETERANGAN BAIT KE 6
Isim yg NA’AT pada isimnya LAA NAFI JINSI yg dimabnikan, boleh
dibaca 3 wajah (MABNI, NASHAB, ROFA’) demikian ini apabila NA’AT
dan ISIM LAA sama-sama mufrodah dan tidak ada pemisah (lihat bait
ke 5)
Kemudian, apabila ada pemisah antara NA’AT dan ISIM LAA yg mabni,
atau tidak ada pemisah tapi NA’ATnya tidak mufrodah maka boleh dibaca
2 wajah (NASHAB dan ROFA’) dan tidak boleh MABNI. Contoh:
1. LAA ROJULA FIIHAA ZHARIIFAN/ZHARIIFUN (terdapat fashl)
2. LAA ROJULA SHAAHIBA BIRRIN/SHAAHIBU BIRRIN (tdk
terdapat fashl tapi na’at tidak mufrodah)
ﻭَﺍﻟْﻌَﻄْﻒُ ﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﺘَﻜَﺮَّﺭْ ﻻَ ﺍﺣْﻜُﻤَﺎ
ﻟَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻟِﻠْﻨَّﻌْﺖِ ﺫِﻱ ﺍﻟْﻔَﺼْﻞِ ﺍﻧْﺘَﻤَﻰ
Adapun ‘Athaf, jika LAA tidak diulang-ulang maka hukumilah ma’thufnya
dengan hukum yg dinisbatkan pada Na’at yg Fashl (boleh nashab dan
rofa’ tidak boleh mabni, lihat bait ke 6).
KETERANGAN BAIT KE 7
Pada bait dahulu dijelaskan (bait ke2-3-4) bahwa apabila setelah isim laa
ada isim ma’thuf yg nakirah dan mufrodah, maka penyebutan LAA
kadang diulang-ulang kadang tidak.
Nah dalam bait ke 7 ini menerangkan tentang hokum ma’thuf pada isim
LAA yg mana LAA tidak diulang-ulang.:
Boleh Ma’thuf disini dihukumi dengan bacaan sebagaimana yg terjadi pada
hukum isim yg Na’at pada isim LAA yg terdapat Fashl/pemisah (lihat bait
ke 6) yaitu NASHAB dan ROFA, tidak boleh MABNI. Salahsatu contoh:
LAA MUDARRISA WA THOOLIBUN/THOOLIBAN FIL MADROSATI
(rofa = athaf pada mahal rofa tarkib LAA+ISIMNYA sebagai mubtada’|
nashab = athaf pada mahal nashab isim LAA)
ﻭَﺃَﻋْﻂِ ﻻَ ﻣَﻊْ ﻫَﻤْﺰَﺓِ ﺍﺳْﺘِﻔْﻬَﺎﻡِ ﻣَﺎ
ﺗَﺴْﺘَﺤِﻖُّ ﺩُﻭْﻥَ ﺍﻻﺳْﺘِﻔْﻬَﺎﻡِ
Beikanlah pada LAA NAFI JINSI yg menyertai HAMZAH ISTIFHAM,
dengan hukum yg menhakinya ketika tanpa adanya HAMAZAH
ISTIFHAM.
KETERANGAN BAIT KE 8
HAMZAH ISTIFHAM yg masuk pada LAA NFYIL JINSI (A LAA) maka
hukumnya berlaku sama sebagaimana ketika belum dimasuki HAMZAH
ISTIFHAM seperti hukum Isimnya, khobarnya, Na’at, Ma’thuf, Muhmal
ketida LAA diulang-ulang dan sebagainya (lihat bait-bait sebelumnya).
Fungsi utama HAMZAH ISTIFHAM (A) disini adalah: mempertanyakan
Nafi, yakni sumber khabar nafi tsb benar atau tidak?. Contoh:
A LAA TAAJIRO SHOODIQUN?
Apakah tidak ada pedagang itu jujur?
Atau HAMZAH ISTIFHAM difungsikan sebagai taubikh (teguran) contoh:
A LAA IHSAANA MINKA WA ANTA GHINIYYUN?
Apakah tidak ada kemurahan darimu sedang kamu adalah orang kaya?
ﻭَﺷَﺎﻉَ ﻓِﻲ ﺫَﺍ ﺍﻟْﺒَﺎﺏِ ﺇِﺳْﻘَﺎﻁُ
ﺍﻟْﺨَﺒَﺮْ ﺇِﺫَﺍ ﺍﻟْﻤُﺮَﺍﺩُ ﻣَﻊْ ﺳُﻘُﻮْﻃِﻪِ
ﻇَﻬَﺮْ
Mayoritas penggunaan LAA NAFI JENIS dalam bab ini membuang
KHOBAR, bilamamana pengertian yg menyertai pembuangan khobar tsb
sudah jelas.
KETERANGAN BAIT KE 9
Apabila ada dalil tentang khobar dari LAA NAFI JENIS maka khobarnya
cukup dibuang, pembuangan khobar dalah hal ini mayoritas digunakan. Baik
dalil tersebut berupa Maqol (perkataan) contoh orang berkata “HAL MIN
ROJULIN HAADHIRIN?” maka cukup dijawab “LAA ROJULA”. (TIDAK
SORANG PUN = membuang khobar MUJUUDUN = ADA). Atau dalil tsb
berupa hal keadaan contoh seseorang berkata pada orang yg keadaan
sakit: “LAA BA’SA” (TIDAK APA-APA, membuang khobar ‘ALAIKA =
BUAT MU) .
KESIMPULAN:
Mayoritas penggunaan khobar LAA NAFI JINSI adalah dibuang, demikian
ini karena maksud/pengertian dari khobar yg terbuang tsb sudah jelas,
dan kejelasan suatu khobar takkan terjadi kecuali adanya dalil.

No comments:

Post a Comment