Tuesday, October 18, 2016

Pengertian amil dan makmul

Amil adalah lafal yang bisa membuat rafa’ atau
nashab atau jer pada lafal yang menyandinginya. [1] Yang
bisa menjadi ‘amil adalah Kalimah Fi’il dan lafal yang
menyerupainya (: Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Masdar, Isim
Tafdlil, Sifat Musyabbahat dan Isim Fi’il), perabot yang bisa
menashabkan Fi’il Mudlari’ atau yang menjazemkannya,
huruf yang bisa menashabkan Mubtada’ dan yang
merafa’kan Khabar, huruf yang bisa merafa’kan Mubtada’
dan yang menashabkan Khabar, huruf jer, Mudlaf dan
Mubtada’. [2]
‘Amil ada dua macam, yaitu ‘Amil Lafdzi dan ‘Amil
Ma’nawi. [3] ‘Amil Lafdzi adalah lafal yang bisa memberi
pengaruh kepada lafal lainnya yang dilafalkan, seperti pada
contoh yang telah disebutkan di atas.
‘Amil Ma’nawi adalah kosongnya Kalimah Isim atau Fi’il
Mudlari’ dari lafal yang bisa mempengaruhinya yang
dilafalkan. Kekosongan itu termasuk dalam ‘amil yang bisa
merafa’kan.
Yang dinamakan tajarrud atau kekosongan adalah tidak
disebutkannya ‘amil. Itu adalah sebab ma’nawi dalam
merafa’kannya ‘amil itu pada lafal yang dikosongkan dari
‘amil yang bersifat lafdzi, seperti Mubtada’ dan Fi’il Mudlari’
yang tidak didahului ‘amil nawashib dan jawazim.
Ma’mul adalah lafal yang huruf terakhirnya mengalami
perubahan dengan rafa’ atau nashab atau jer atau jazem
dengan mendapat pengaruh dari ‘amil. Yang bisa menjadi
ma’mul adalah Kalimah Isim dan Fi’il Mudlari’. [4]
Ma’mul ada dua macam, yaitu ma’mul bil ashalah (:
asalnya memang sudah menjadi ma’mul), yaitu lafal yang
mendapat pengaruh dari ‘amil secara langsung, seperti fa’il
dan na’ibul fa’il, mubtada’ dan khabarnya, isimnya fi’il naqish
dan khabarnya, isimnya (ﺇِﻥَّ) dan sesamanya serta khabarnya,
bermacam maf’ul, haal, tamyiz, mustatsna, mudlaf ilaih dan
fi’il mudlari’.
Dan ma’mul bil tab’iyyah , yaitu lafal yang mendapat
pengaruh dari ‘amil dengan lantaran mengikuti lafal yang
lainnya, seperti na’at, ‘athaf, taukid dan badal, karena
kesemuanya dibaca rafa’, nashab, jer atau jazem disebabkan
mereka semuanya mengikuti pada lafal yang dibaca rafa’,
nashab, jer atau jazem. Dan ‘amil pada semuanya adalah
‘amil yang terdapat pada lafal yang mereka ikuti yang
mendahuluinya.
‘ Amal (atau yang dinamakan i’rab) adalah pengaruh
yang didapatkan karena mempengaruhinya ‘amil pada suatu
lafal, yaitu dari dibaca rafa’, nashab, jer atau jazem. [5]
Bila ditanyakan mengapa i’rab hanya terjadi dihuruf
terakhirnya suatu kalimah, maka bisa dijawab dari dua sisi,
yaitu : [6]
a. I’rab adalah dalil atau yang menunjukkan, sedangkan
lafal yang di i’rabi adalah sebagai madlul ‘alaih atau
yang ditunjukkan. Sehingga dalil tidak boleh dipasang
kecuali setelah mendahulukan madlul ‘alaih.
b. Jika i’rab diletakkan di depan, maka hal itu tidaklah
dapat dimungkinkan, karena awal dari suatu kalimah
pasti selalu berharakat, sehingga tidak akan dapat
diketahui apakah kalimah itu mu’rab ataukah mabni,
dan sebagian dari i’rab ada yang jazem yang ditandai
dengan sukun.
Jika sukun diletakkan di awal, maka tidak akan dapat
dimungkinkan, karena nantinya kalimah itu tidak dapat
diucapkan. Jika i’rab diletakkan di tengah, maka wazan dari
kalimah itu tidak akan dapat diketahui, selain itu kalimah
yang ruba’i (mempunyai empat hurufnya) tidak mempunyai
tengah.
[1] Tasywiq al-Khillan, hlm. 40
[2] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz III, hlm. 272
[3] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz III, hlm. 274
[4] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz III, hlm. 275
[5] Jami’ al-Durus al-‘Arabiyyah, juz III, hlm. 276
[6] Syarah Mufasshal, hlm. 51
Amin Khakam di 7:32 PM
AMIL, AMAL DAN MA'MUL

No comments:

Post a Comment